Awas, Dukung Mendukung di Politik Bisa Menyesatkan

Awas, Dukung Mendukung di Politik Bisa Menyesatkan

WARGASERUJI – Sejarah membuktikan, dukung-mendukung bisa menyesatkan. Syiah contohnya, muncul diawali dengan perpecahan politik umat. Setelah konflik berlangsung lama, muncul para pendukung garis keras yang tidak lagi peduli asal mula konflik. Tiba-tiba saja muncul kebencian kepada kelompok lain.

Mendukung adalah hak. Namun, rawan tertipu. Ketika datang kabar bohong, terdorong tidak berusaha memeriksanya bila kabar itu menguntungkan yang ia dukung dan merugikan pihak lawan. Sebaliknya, bersikap menolak kabar yang benar, ketika merugikan yang ia dukung atau menguntungkan pihak lain.

Mudah saja logikanya. Ketika ikut mendukung, tentu hal-hal positif pada diri yang didukung yang akan disebarluaskan, serta mengubur dalam-dalam hal-hal negatif.

Disebut tersesat itu karena menerima informasi salah namun dianggap benar. Makanya, orang-orang syiah itu membenci sahabat Nabi selain Ali bin Abi Thalib r.a. Mereka mendapat informasi dari para penebar fitnah, bahwa Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan telah merebut kedudukan khalifah yang seharusnya sejak semula di tangan Ali bin Abi Thalib. Lama kelamaan, merasuk dalam keyakinan.

Politik itu perebutan kekuasaan. Karena kekuasaan itu fasilitas dunia paling menggiurkan, maka akan selalu menarik datangnya orang-orang rakus dan tamak. Tipe orang-orang seperti ini akan selalu berusaha bermain culas. Apa saja dilakukan asal bisa mendapat porsi kekuasaan walau hanya secuil.

Bagaimana caranya agar bisa awas terhadap bahaya penyesatan?

Jika sanggup menyaring informasi secara obyektif dengan tidak membawa perasaan dukung mendukung, maka aman. Namun, mengklarifikasi informasi itu sulit bila tidak punya jaringan yang besar dan terpercaya. Apalagi hanya mengandalkan kabar dari media sosial dan chatting.

Jika suka bawa perasaan (baper), sebaiknya tidak usah dukung mendukung. Informasi sepotong saja sudah ditanggapi dengan berbagai prasangka. Kalau kemudian ia sebar, pasti sudah ditambah dengan prasangkanya sendiri. Akhirnya jatuh menjadi kabar bohong.

Jadi, penebar fitnah kadang-kadang tidak berniat berbuat buruk. Hanya karena baper sajalah ia jadi pembuat fitnah.

Para ulama salaf telah banyak memberi contoh. Untuk urusan politik, tak usahlah terlalu baper. Bahkan, ketika terjadi penggulingan kekuasaan, atau tindakan oleh penguasa yang terlalu menyimpang, para ulama salaf tidak mengambil inisiatif untuk memobilisasi pemberontakan.

Para ulama salaf fokus dalam ilmu. Asal mereka bisa menyebarkan ilmu, tidak masalah siapapun penguasanya, sezalim apapun, asal masih muslim. Sesama muslim masih bisa dinasehati.

Mereka tak tergiur kekuasaan. Mereka menempatkan diri secara mulia, dan tidak berhenti menasehati para penguasa. Tak peduli bahkan sampai ada yang dipenjara dan disiksa.

Oleh karena itu, jika sudah terjadi polarisasi politik yang mengkhawatirkan serta takut tersesat karena terlalu baper, berlindunglah dengan merujuk pada ulama yang tidak berpihak.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...
close