Serunya Petualangan Musim Panas ke Mengare dan Sungon Legowo

Serunya Petualangan Musim Panas ke Mengare dan Sungon Legowo

Kali itu acara pembolangan saya dan Erva tak tanggung-tanggung. Kami ke sebuah daerah yang disebut Mengare. Sebuah kawasan yang teramat jauh dari jalan raya. Hampir 10 km. Dan itu hanya melewati hamparan tambak. Dan tentu di saat musim panas dengan matahari yang menyengat di bulan Oktober.

Daerah Mengare itu masuk dalam kecamatan Bungah. Di sana ada tiga desa. Watuagung, Kramat, dan Tanjungwidoro. Pemandangan menuju Mengare, meski tambak namun menyenangkan. Di tepi-tepi tambak ada banyak pohon bakau.

Awalnya dahulu saya pikir Mengare adalah pulau tersendiri. Karena saya dengar ada kata ‘nyebrang laut’. Namun ternyata tidak demikian. Sesampai di Mengare saya bertanya pada beberapa orang yang sedang di seperti pelabuhan. Memang ada daerah pantai di seberang sungai yang muaranya di sana yang sering dikunjungi oleh orang-orang. Bingung kan? Saya juga. Haha.

Intinya, kita bisa ke pesisir pantai yang ada di seberang sungai dengan cara naik kapal lewat laut. Kami penasaran. Akhirnya dengan ongkos 50 ribu kami menyeberang menuju pantai yang dimaksud. Di daerah itu juga ada bekas benteng Belanda yang telah hancur diterjang ombak. Namun sisa-sisanya masih ada.

Nah, kalau yang edisi ini saya benar-benar seperti seorang yang berwisata bukan? Pakai sewa perahu segala.

Perjalanan menuju Mengare yang umum dilakukan adalah melalui desa Sembayat. Sekitar 3 kilometer kemudian ada pertigaan, yang satu menuju menuju Mengare dan satunya menuju desa Sungon Legowo. Dulu, pertama kali kami hendak ke Mengare, kami hendak lurus ke arah Sungon Legowo. Orang-orang yang sedang memperbaiki jembatan di pertigaan itu serentak diam memandang kami dan seperti akan berteriak melarang kami ke sana. Dan benar, begitu kami balik kanan, menuju arah Mengare, mereka kembali pada pekerjaan masing-masing.

Acara ngetrip yang selama itu kami lakukan sebetulnya bukan untuk mengetahui sesuatu yang unik atau khas yang ada di tempat yang kami kunjungi. Bukan itu. Hal yang paling mendasari pembolangan kami adalah rasa penasaran terhadap jalan menuju suatu tempat dan memastikan kebenaran jalan tersebut. Di samping untuk membuktikan hipotesis-hipotesis yang tercipta karena keingintahuan kami tersebut. (?) Membingungkan bukan? Haha. Mudahnya begini, jika di Mengare itu ada benteng, maka bukan benteng itu yang ingin kami lihat tapi kami ingin tahu dan memastikan jalan menuju ke sana. Karena bagi kami, benteng itu hal yang sangat biasa.

Karena itu, kami jelas penasaran untuk mencoba arah terlarang yang bertuliskan yang kami jumpai sebelumnya. Arah Sungon Legowo. Jalan yang kami lalui sepi. Tak ada label listrik di sisi jalan. Itu berarti jalan yang kami lalui itu bukan jalur utama menuju perkampungan. Tepatnya jalan tersebut memang bukan menuju perkampungan. Namun bekas jalan yang jelas-jelas dilewati orang meyakinkan kami bahwa di sana ada perumahan.

Kami terus mengikuti jalan dan ternyata jalan itu berakhir di desa Tanjung Randuboto, kecamatan Sidayu. Dan jalur utama menuju desa itu sebenarnya adalah melalui Sidayu kemudian menyeberang Sungai Bengawan Solo. Pengetahuan seperti inilah yang memuaskan rasa keingin tahuan kami. Bukankah setiap penemuan itu diawali dari rasa ingin tahu?

Sungon Legowo ternyata letaknya ada di balik tanggul yang kami lewati sebelumnya. Di sana ternyata hanya subdesa yang terdiri tak lebih dari 20 rumah tangga. Desa sesungguhnya ada seberang Sungai Bengawan Solo.

Hipotesis kami yang lain adalah soal perbatasan daratan dan lautan yang pasti ada di sekitar sana. Kami menyusuri jalan dan rasanya amat sangat bahagia ketika kami menemukan perbatasan itu. Maka, jika ada yang bertanya pada kami, “apa yang kami inginkan dari perjalanan sinting ini?”, itu adalah pertanyaan yang sama untuk para pendaki, “apa yang mereka inginkan dari pendakian yang melelahkan itu?”.

Menjawab rasa ingin tahu dan memenuhi kebutuhan akan kepenasaranan adalah hal yang sangat menyenangkan. Meski beberapa kali kami sempat tersasar, itulah tantangan yang menegangkan dan mengasikkan. 😉

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Jaringan Irigasi Kota Magelang, Karya Teknologi Peninggalan Belanda

Magelang , Sebentar lagi berulang tahun .11 April  907 ditetapkan sebagai  Hari Jadi Kota Magelang  dan sekarang menginjak tahun ke 1.111.Sungguh usia yang sudah...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.
close