Pantai Clungup, Potongan Raja Ampat di Malang Selatan

Pantai Clungup, Potongan Raja Ampat di Malang Selatan

Malang Selatan kini semakin populer dengan deretan pantainya yang memukau. Apalagi setelah selesai pembangunan jalan raya besar di pesisirnya tahun 2016 silam. Ada puluhan pantai cantik menghias Malang Selatan ini. Mulai dari pantai Banyu Meneng, pantai Kondang Merak, pantai Selok, Pantai Balekambang, pantai Ngantep, pantai Ngopek, pantai Klopowedi, dan Pantai Batu Bangkung.

Juga ada Pantai Bajulmati, pantai Teluk Asmara, pantai Goa Cina, Pantai Ungapan, Pantai Clungup, Pantai Gatra, pantai Tiga Warna, pantai Sendangbiru, dan seterusnya.

Pantai di sana cantik-cantik. Berpasir putih dengan ombaknya yang besar dan bergulung-gulung. Airnya yang jernih nan segar serta udara yang sejuk. Akses yang mudah dengan infrastruktur yang memadai menjadi salah satu faktor pendukung wisatawan tertarik mengunjungi pantai-pantai di pesisir Malang Selatan ini.

Dan salah satu pantai yang sedang ramai dibicarakan adalah pantai Clungup. Dengar-dengar ada rumor yang mengatakan kalau pantai Clungup ibarat potongan Raja Ampat yang terlempar di Malang Selatan. Dan saya sepakat dengan rumor itu karena saya telah membuktikannya sendiri. Meskipun sebagai komparasi, Raja Ampat yang saya lihat adalah fotonya. Hehe. Semoga someday bisa berkunjung langsung ke Raja Ampat. Aamiin.

Tiga kali saya mengunjungi pantai Clungup. Meski yang satu gagal karena air laut sedang pasang. Jadi buat pengalaman. Jangan mengunjungi pantai ini di awal bulan September, karena permukaan air laut sedang naik dan tinggi.

Secara administratif, pantai Clungup berada di desa Tambakrejo, kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten  Malang, Provinsi Jawa Timur. Jaraknya sekitar 150 km dari Malang Kota atau sekitar dua jam perjalanan. Pantai Clungup merupakan bagian dari konservasi hutan mangrove CMC atau Clungup Mangrove Conservation.

Di deretan pantai Clungup juga ada pantai Gatra dan pantai Tiga Warna. Namun, untuk ke pantai Tiga Warna harus ada guide yang mengantar. Satu guide untuk satu rombongan berisi sekitar minimal 10 (sepuluh) dan maksimal 15 (lima belas) orang. Jadi untuk ke pantai Tiga Warna harus melakukan booking jauh-jauh hari sebelumnya.

Untuk mencapai pantai Clungup dari pusat kota Malang bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Bisa melalui dua jalur yakni Malang-Bululawang-Turen-Sumber Manjing Wetan-Pantai Sendang Biru atau Malang–Kepanjen–Gondang Legi-Balekambang–Sendang Biru.

Sepanjang jalan akan selalu ‘update’ petunjuk arah menuju pantai Sendangbiru, jadi tidak perlu khawatir kesasar. Kedua jalur tersebut bertemu di perempatan Sendangbiru. Di perempatan tersebut ambil arah selatan (menurut saya). Lalu sekitar 200 meter ada petunjuk arah belok kanan ke pantai Clungup dan kawasan konservasi Mangrove.

Kendaraan kita titipkan di sini, usai masuk belokan tadi. Parkir motor hanya tiga ribu rupiah dan parkir mobil lima ribu rupiah. Selanjutnya kita bisa naik ojek atau berjalan kaki atau membawa motor sendiri sampai di pos pemeriksaan. Jaraknya lumayan jauh dan jalannya cukup menantang.

Saya merekomendasikan naik ojek untuk menghemat tenaga meskipun membawa motor sendiri. Karena dari pos pemeriksaan ke pantai Clungup masih membutuhkan tracking sekitar 20 menit. Tarif ojek hanya 10 ribu rupiah.

Di pos pemeriksaan kita akan didaftar apa saja barang yang dibawa dan setelah kembali kita harus melapor. Karena ini adalah area konservasi, maka benar-benar dijaga. Pengunjung harus membawa kembali sampah mereka. Jika meninggalkan sampah, harus kembali untuk memungutnya. Ini sekaligus menjadi wisata edukasi yang baik.

Dari pos pemeriksaan, tracking menuju pantai Clungup menyenangkan dan teduh sepanjang jalan. Melintasi tanaman bakau dan menikmati aroma pepohonan sambil dibelai angin yang bertiup, memberi sensasi yang membahagiakan. Apalagi jauh dari asap kendaraan dan bising suara, semakin menyenangkan.

Di pantai Clungup air lautnya jernih, segar, pasirnya lembut, biota laut bisa terlihat dan sesekali muncul terlihat menggemaskan. Terlihat juga gumuk-gumuk (gunung kecil-kecil) yang ditumbuhi tanaman yang hijau lebat macam Raja Ampat. Tidak ketinggalan, deburan ombak memecah karang yang menggetarkan. Anginnya yang sepoi-sepoi. Seharian di sini rasanya tak akan bosan semenitpun. Dan yang menarik lagi adalah lahan pantainya cukup luas. Sehingga memungkinkan untuk berkemah dan mendirikan tenda.

Saat saya berkunjung ke sana, saya bertemu dengan anak-anak lokal atau penduduk asli yang sedang bermain di laut. Hmmmm beruntungnya mereka yang terlahir di sana, di dekat pantai menawan yang bisa mereka kunjungi setiap hari. Namun tugas mereka juga berat, mereka harus menjaga kelestarian alam yang dianugrahkan Allah SWT, sebuah potongan Raja Ampat yang terlempar di Malang Selatan.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Menonton Film Wide Awake, Kim Myung Min

Film Wide Awake adalah film asal Korea yang rilis pada tahun 2007 dan dibintangi oleh Kim Myung Min. Film ini bercerita tentang seorang bocah...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

Tumpangsari Melon dan Semangka Sangat Menguntungkan

Pangkalan Bun - Petani melon dan semangka Desa Pasir Panjang RT 04 Arut Selatan Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, merasa diuntungkan dengan teori barunya....
close