Disaat Pertolongan Allah Datang

Disaat Pertolongan Allah Datang

WARGASERUJI – Sekarang di Panti, kembali ucapan yang sama ku dengar. Banyak pasien yang harus ku rujuk ke Bukitinggi, mereka menolak dan meminta aku untuk menanganinya sampai dimana aku bisa. Sebuah pilihan yang sulit bagiku, namun harus aku ambil sikap agar mereka bisa tertolong. Bagi mereka ke Bukittinggi adalah sesuatu yang sulit. Selain jauh dan melelahkan, juga harus mengeluarkan biaya yang besar. Sedangkan kemampuan keuangan mereka terbatas.

“Tolonglah dok, kami tidak punya biaya untuk ke Bukittinggi,” suara pasien menghiba.

“Ke Lubuk Sikaping ku rujuk ya. Disana fasilitas lebih lengkap dan mungkin ada dokter Kebidanan dan Kandungan,” ujarku mencoba meyakin sang bapak agar dia mau istrinya di rujuk.

“Tidak dok,” jawabnya spontan. “Keputusan kami di rumah tadi hanya sampai di sini. Jika tidak bisa di sini atau dokter tidak mau menolong kami, kami akan bawa kembali pasien ke kampung.”

Pandangan sang bapak kosong seakan putus asa, seperti tidak harapan yang bisa ditunggunya.

“In sya Allah aku akan bantu semaksimal yang aku bisa,” jawabku menenangkannya. “Namun sebelumnya aku butuh surat persetujuan Bapak dan jika terjadi kemungkinan yang terburuk Bapak tidak menuntutku di pengadilan”.

“Terimakasih dok,” matanya berbinar. “Asalkan kami tidak ke Bukittinggi, apapun perintah dokter untuk pertolongan istri saya, saya akan usahakan dok”.

Sementara jantungku berdegup kencang mendengar pernyataannya. Aku belum mengerti apa yang harus aku lakukan. Selama dalam pendidikan kedokteran untuk mencegah kejang pada pasien eklamsi diberikan drip Sufas Magnesikus. Sementara barang di sini barang yang sama tidak ada.

“Sebelumnya tidak ada kita temukan pasien seperti ini di sini dok,” ujar bidan yang membantuku. “Makanya obat itu juga tidak pernah disediakan di sini”.

Aku berfikir keras bagaimana caranya agar pasien ini bisa dibantu Pasien eklamsi dengan kesadaran menurun dan sudah beberapa kali kejang dalam perjalanan menuju balai Kesehatan Ibnu Sina Panti. Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh dengan jalan yang berliku dan mendaki serta menurun.

“Kami berharap dokter bisa membantunya,” ujar mantri yang mengantarkan pasien. “Kami sudah berusaha di kampung, tapi tidak berhasil, bahkan pasiennya kejang. Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Makanya aku bawa ke dokter pasiennya. Aku yakin dokter bisa membantu kami”.

Aku masih berfikir harus berbuat apa. Selama aku dalam pendidikan, yang aku tahu, jika pasien eklamsi penanganannya dilakukan oleh dokter ahli kebidanan dan kandungan di kamar operasi. Kami yang dididik sebagai dokter umum hanya mendapat ilmu tentang penanganan pertama pasien eklamsi. Agar pasiennya tidak kejang diberi obat anti kejang.

Sementara tempatku di sini hanya sebuah Balai Kesehatan dan Klinik kebidanan dengan kemampuan hanya untuk membantu persalinan normal. Tidak ada kamar operasi dan tidak ada dokter Kebidanan dan Kandungan. Pelayanan dokter ahli Kebidanan dan Kandungan terdekat adanya di RSU Lubuk Sikaping yang berjarak 30 km dari sini. Walau kabarnya pelayanannya tdak tiap hari kerja, tapi minimal fasilitasya sudah tersedia.

Setelah pasien di pasang infus dan masuk kamar bersalin, aku segera ke kamar kerjaku mencari buku teks kebidanan. Untung buku ini masih setia menemaniku. Buku tebal dengan kulit merah ini menjadi rujukan bagiku ketika fikiranku buntu harus berbuat apa?

Di Puskesmas dulu juga buku inilah satu-satu tempat mengadu. Tidak ada teman lain yang lebih ahli untuk bertanya. Mau menelepon, jaringannya belum ada. Dengan dasar ilmu inilah aku berikan obat anti kejang yang tersedia.

“Dok, kepalanya mulai nampak,” bidan yang mendampingiku berkata pelan.

“Oh ya,” aku segera bangkit mencari sarung tangan dan siap untuk menolong. “Semua peralatan tolong didekatkan ke sini”.

“Sudah dok,” semuanya siap untuk digunakan.

Dengan hati hati aku bantu persalinan sang ibu. “Alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat,” aku tersenyum puas.

“Bersihlkan anaknya dan aku akan bantu ibu melahirkan ari anak yang masih di dalam,” ujarku pada bidan.

“Ya dok, alhamdulillah kita berhasil membantunya,” bidan pun bangga dengan hasil kerja kami.

Alhamdulillah. Sebuah keajaiban yang Allah berikan kepada kami. Kasus yang seharusnya kami rujuk ke Bukittinggi dapat kami selesaikan dengan baik.

“Terimakasih dok,” suami pasien bersimpuh dihadapanku. Matanya berkaca-kaca, bibirnya gemetar menahan haru. “Ibunya selamatkan dok?” nafasnya memburu.

“Alhamdulillah,” aku mengangguk sambil tersenyum. “Silakan bapak berdiri dan bapak azankan anak Bapak sebagai tanda sykur menyambut kedatangannya. Semoga dia menjadi anak yang shaleh”.

Aku menuntunnya ke ruangan bayi tempat anaknya dirawat.

“Ini anak bapak,” bidan menyodorkan seorang bayi mungil yang masih merah. “Bapak sudah berwudhuk? Jika belum, silakan di sudut sana ada kamar mandi”.

Sang Bapak segera menuju kamar mandi yang sebut bidan. Selesai berwudhu dia azankan anaknya sebagaimana yang dituntunkan Rasulullah SAW. Dari Ubaidullah bin Abi Rafi’, dari Bapaknya, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Saw adzan ke telinga al-Hasan bin Ali ketika Fathimah melahirkannya. Dengan adzan seperti adzan ketika melaksanakan shalat”.

Terlihat wajahnya bahagia. Suara serak azannya mengisyaratkan dia tidak bisa menahan haru kebahagian. Bahagia karena anaknya lahir dengan selamat dan istrinya juga selamat.

“Alhamdulillah dok,” mantri menyalamiku. “Aku yakin dokter bisa menolong. Makanya aku bawa pasiennya kesini Ke Bukittinggi mereka tidak punya biaya. Untuk ke sini saja, mereka urun rembug biaya dengan keluarga yang lain. Belum tahu juga nanti mereka harus bayar dengan apa biaya di sini”

“Alhamdulillah Bang,” aku tersenyum kecut. “Aku sendiri tidak bisa membayangkan tadinya apa yang akan terjadi. Alhamdulillah Allah memberikan mukjizatnya untuk ibu ini. Setelah kejangnya teratasi rahimnya berkontraksi kuat dan anaknya lahir dengan selamat. Alhamdulillah ibunya juga selamat”.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Tumpangsari Melon dan Semangka Sangat Menguntungkan

Pangkalan Bun - Petani melon dan semangka Desa Pasir Panjang RT 04 Arut Selatan Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, merasa diuntungkan dengan teori barunya....
close