Follow SERUJI

95,552FansSuka
396PengikutMengikuti
6,639PengikutMengikuti
714PelangganBerlangganan

Politik “Biting” Caleg Lokal

WARGASERUJI – “Biting” berasal dari bahasa Jawa yang berarti lidi. Orang Jawa dulu menghitung dengan bantuan biting. Kemudian saat pilihan seperti pileg yang diikuti caleg lokal, suara pemilih yang dicari oleh para calon dihitung dengan biting. Satu suara satu biting, dan identik dengan berapa rupiah uang yang dikeluarkan untuk satu biting. Maka, sebut saja sebagai politik “biting”.

Tidak direncana, penulis ngobrol bebas dengan dua caleg dari Perindo dan PAN, satu kader partai PKS, dan satu non partai. Obrolannya sekitar pileg, dan penulis baru tahu kalau sudah lumrah adanya politik “biting” utamanya di tingkat lokal.

Penulis baru tahu, bagaimana caleg-caleg berburu suara itu berat kalau pakai cara idealis. Kebanyakan orang sudah “pasang tarif”, akan mengamankan suara si caleg dengan nominal rupiah tertentu.

Caleg Perindo menguraikan, sudah menjadi seperti tradisi kalau pemilu itu dianggap bagi-bagi uang. Ia bercerita pengalamannya mendampingi kelompok difabel bertahun-tahun, namun saat mendekati pileg datanglah caleg lain yang membuyarkan perolehan suara, hanya dengan beberapa rupiah.

Lain cerita caleg PAN satunya.  Temannya inkumben, menggelontorkan dana aspirasi sangat besar selama menjabat menjadi DPR di dapilnya. Merasa yakin apa yang dilakukan sehingga tak pakai politik “biting“. Hasilnya, tak terpilih kembali.

Penulis mencoba bertanya, apakah dengan mentradisinya politik “biting” ini menghasilkan  anggota DPR terpilih yang berkualitas? Jawabnya, sama sekali tidak.  Maka, tidak heran pandangan terhadap jajaran dewan selalu negatif.

Masyarakat sendiri tidak terlalu paham apa kerja DPR. Mungkin itulah yang membuat para caleg kesulitan mempengaruhi calon pemilih jika dilakukan dengan sikap idealis.  Apalagi, jumlah caleg sangat banyak. Antar satu caleg dengan caleg lainnya tidak begitu kontras kemampuannya.

Ditambah, kebanyakan rakyat masih berada di bawah sejahtera. Cara berfikirnya menjadi ikut sederhana, yakni asal terpenuhi kebutuhannya. Maka penulis menarik kesimpulan atas buruknya kemampuan  hasil pemilu karena tingkat kualitas ekonomi dan pendidikan.

Kondisi ideal dari sebuah pemilu hanya bisa dicapai dalam masyarakat yang sudah makmur dan tingkat kesadaran atas sumber literatur cukup tinggi. Pendek kata, para caleg ini setuju kesimpulan bahwa politik “biting” bisa hilang saat pemilih sudah seperti di negara maju.

Yang sedikit melegakan, masih ada caleg terpilih yang tetap berusaha memunculkan idealismenya, bagaimana mengamankan suara dengan cara pendekatan non “biting“. Memang cukup berat, karena akan selalu berbenturan dengan kanan, kiri, atas, bawah, luar dan dalam.

Disebut “sedikit melegakan”, karena memang sedikit yang masih idealis. Lainnya, yah begitulah.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

YANG LAGI PRO-KONTRA

Peran Ulama Menolak Segala Bentuk Penjajahan

Ulama menilai proyek OBOR sarat akan kepentingan politis dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi bangsa Indonesia khususnya dan kawasan Asia Tenggara umumnya. Selain bahaya jebakan hutang Tiongkok yang dikhawatirkan, juga upaya kolonialisasi Tiongkok melalui proyek tersebut.

Islam Menjaga Kepemilikan SDA

Penjajahan atas sumber daya alam Indonesia masih berlangsung. Ini ditandai dengan saham PT Freeport Indonesia (PTFI) 59% masih dimiliki oleh Amerika Serikat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Sinergi Magot dan Cacing Atasi Sampah Berbasis Komunitas

WARGASERUJI - Dalam sebuah diskusi, Henry Supranto menyebut bahwa dengan magot dan cacing, bisa menjadi solusi masalah sampah. Henry Supranto sendiri menciptakan alat...

Reaktor Cacing Solusi Atasi Sampah

Semua organik akan diurai cacing, sedangkan anorganik akan utuh. Reaktor cacing ternyata bisa berfungsi untuk memilah sampah. Hal ini mengatasi cara memilah kemasan yang tersusun atas organik dan anorganik, seperti kemasan minuman kotak, pembalut, dan popok bayi.

Lalat Magot Solusi Atasi Sampah

Henry Supranto mengklaim mampu mengolah sampah organik dengan cepat dengan lalat magot hingga lima belas ton dalam sebulan. Bahkan, dengan kondisi tertentu bisa mengolah satu ton sehari. 

Wacana Guru Impor Bukan Solusi bagi Dunia Pendidikan

Pendidikan adalah suatu hal yang berharga bagi bangsa ini. Namun apa yang diwacanakan kepada rakyat dengan mendatangkan orang asing ke negeri sendiri, pada faktanya melukai  hati rakyat. Terutama kalangan guru. Terkhususnya tentulah guru honorer yang tidak dihargai dengan upah yang memadai.

Gerakan Memanen Air Hujan

Ada 21 metode dalam memanen air hujan. Dari dua puluh metode itu, ada yang bisa dilakukan oleh masyarakat, yang dampaknya kecil. Adapun yang berdampak sedang, menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah. Sisanya, skala luas dan menasional yang menjadi tanggungjawab pemerintah pusat.

Air Hujan untuk Air Minum Kesehatan

Sri Wahyuningsih sebagai penggerak komunitas yang diberi nama Banyu Bening, memberikan paparan tentang menggunakan air hujan untuk air minum kesehatan.

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Peran Ulama Menolak Segala Bentuk Penjajahan

Ulama menilai proyek OBOR sarat akan kepentingan politis dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi bangsa Indonesia khususnya dan kawasan Asia Tenggara umumnya. Selain bahaya jebakan hutang Tiongkok yang dikhawatirkan, juga upaya kolonialisasi Tiongkok melalui proyek tersebut.

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Air Hujan untuk Air Minum Kesehatan

Sri Wahyuningsih sebagai penggerak komunitas yang diberi nama Banyu Bening, memberikan paparan tentang menggunakan air hujan untuk air minum kesehatan.

Gerakan Memanen Air Hujan

Ada 21 metode dalam memanen air hujan. Dari dua puluh metode itu, ada yang bisa dilakukan oleh masyarakat, yang dampaknya kecil. Adapun yang berdampak sedang, menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah. Sisanya, skala luas dan menasional yang menjadi tanggungjawab pemerintah pusat.