Fitnah Politik Pemecah Umat

Fitnah Politik Pemecah Umat

WARGASERUJI – Semenjak Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dibaiat kaum mukminin menjadi khalifah di Madinah, bibit fitnah mulai muncul, namun bisa diredam. Begitu pula ketika digantikan oleh Umar bin Khaththab r.a, tak muncul fitnah-fitnah besar. Baru saat khalifah ketiga, Utsman bin Affan r.a, bencana fitnah politik pemecah umat mulai terjadi.

Khalifah Utsman bin Affan r.a terbunuh oleh orang-orang Mesir yang merasa terancam karena adanya surat palsu. Surat palsu itu mengatasnamakan khalifah Utsman bin Affan r.a berisi perintah agar membasmi orang-orang Mesir sekembali dari Madinah.

Setelah itu, rentetan peristiwa politik yang tragis mengisi sejarah, hingga muncul kelompok-kelompok seperti khawarij yang kejam, kemudian akhirnya muncul golongan Syiah yang bertahan hingga sekarang.

Untungnya, ada dari segolongan umat yang tidak ikut urusan politik, tetap teguh menyampaikan ilmu agama. Mulai dari Ummul Mukminin Aisyah r.a yang fokus mengajarkan hadits Nabi Muhammad s.a.w setelah usai perang Jamal.

Beberapa sahabat juga tidak terjun di dunia politik. Cucu Nabi, Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a memberi contoh yang luar biasa kepada umat. Ketika ayahnya terbunuh, dirinya menolak dijadikan khalifah.

Hasan bin Ali r.a. lebih memilih mengakui kekhalifahan Muawiyah r.a. Menurutnya, itu urusan ayahnya dan Muawiyah r.a, sehingga mengapa tidak mengakui khalifah Muawiyah saja, toh ayahnya sudah tiada.

Ajaran Islam masih terjaga karena munculnya orang-orang yang istiqomah dalam menyebarkan ilmu secara khusus dan tidak terjun ke politik kekuasaan. Segala bentuk proses pergantian kekuasaan tidak membuat mereka memberontak, sebagai antitesa terhadap sikap khawarij. Asal khalifah masih seorang muslim, seburuk apapun, tetap diakui sebagai khalifah yang sah.

Andai tidak ada orang-orang seperti ini, ajaran Islam mungkin sudah tinggal kenangan. Hikmah Allah menjaga Al Quran dan As Sunnah, sehingga seberat apapun perpecahan umat, tetap ada tempat rujukan kembali.

Tentu, umat rindu bersatu. Namun, tak ada jalan ke sana, untuk saat ini. Sistem politik di manapun di dunia ini tak pernah mendukung terbentuknya umat yang satu. Sistem politik yang ada selalu memberi jalan dan peran bagi pihak yang tidak suka umat bersatu.

Entah kapan, umat akan bersatu. Mungkin, tinggal satu kesempatan, dan itu saat tanda kiamat besar, saat umat Islam berperang melawan Al Masih Ad Dajjal.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...
close