MOS Berujung Maut, Citra Buruk Pendidikan

MOS Berujung Maut, Citra Buruk Pendidikan

WARGASERUJI – DJ (14) kehilangan nyawanya dan WJ (16) terbaring kritis di rumah sakit. Keduanya menjadi korban perilaku pembina MOS di sekolahnya. Peristiwa MOS berujung maut ini perlu dicermati dalam konteks melihat kembali pendidikan di Indonesia.

Orangtua WJ, Suwito, mengetahui anaknya masuk rumah sakit dari pihak sekolah, dan hanya dikabari karena mengalami panas tinggi. Namun, dirinya mendapati anaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri dan terbaring kritis di rumah sakit.

Sebelumnya, DJ meninggal dunia saat mengikuti MOS di SMA di Kota Nusantara Indonesia Palembang. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Myria Palembang, Sabtu pukul 04.00. Nyawa korban tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia, Sabtu pagi.

MOS sendiri seharusnya bukan ajang kekerasan, melainkan untuk mengenalkan lingkungan sekolah agar lebih cepat beradaptasi sehingga siap ketika pembelajaran dimulai. Peran sekolah untuk mengawasi kegiatan MOS mutlak dilakukan.

Darimanakah datangnya kekerasan itu?

Dalam sebuah uji coba yang dilakukan para peneliti tentang perilaku manusia, beberapa orang dimasukkan ke dalam lingkungan mirip penjara. Sebagian menjadi tahanan dan sebagian menjadi sipir.

Hasilnya cukup mengejutkan. Perilaku menindas muncul pada para sipir, padahal mereka mengetahui hal ini sebagai ujicoba saja. Barangkali hal inilah yang muncul di sekolah ketika memberi kesempatan bentuk senioritas dalam kegiatan MOS.

Kalau hal itu terjadi berulang dari satu angkatan ke angkatan lain dan menjadi tradisi, maka akan lebih parah karena muncul unsur dendam. Dulu pernah di aniaya, maka ketika sudah menjadi senior akan melampiaskan kepada juniornya sendiri.

Barangkali beberapa sekolah ingin meniru akademi militer yang ditempa dengan keras dan disiplin sehingga menghasilkan lulusan yang tahan mental dan fisik. Namun, tidak menyadari bahwa untuk masuk ke dalam akademi militer itu setelah melewati seleksi yang ketat baik fisik maupun mental. Selain itu, proses penempaan dalam akademi jelas melalui prosedur yang sangat ketat sehingga tidak terjadi penyimpangan perilaku senior yang berlebihan.

Jadi, sebaiknya sekolah-sekolah saat ini lebih mengutamakan pendekatan humanis. Cegah sesegera mungkin adanya senioritas dalam lingkungan sekolah, karena juga akan menyuburkan perilaku bullying terhadap siswa lainnya. Sekolah wajib melindungi keamanan seluruh siswanya.

Semoga MOS berujung maut tidak lagi terjadi di Indonesia. Setuju?

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Tumpangsari Melon dan Semangka Sangat Menguntungkan

Pangkalan Bun - Petani melon dan semangka Desa Pasir Panjang RT 04 Arut Selatan Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, merasa diuntungkan dengan teori barunya....
close