-Sebuah Cerbung-
Sebelumnya: Terpaksa Jadi Guru
Pertama kali aku memasuki kelas yang kuajar (ada tujuh kelas), aku bersikap baik pada anak-anak. Kuperkenalkan diri, kuberi mereka sedikit cerita tentang masa laluku ketika SMA, kusampaikan aturan mainku, dan kutanyakan mengapa dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMA harus belajar matematika. Itu sebagai salah satu cara memotivasi mereka.
Aku berfikir bahwa matematika merupakan pelajaran yang dirasa sulit bagi sebagian orang. Maka aku berusaha membuat pelajaranku menyenangkan. Ternyata di luar perhitunganku, -memang begitu sifat manusia- dikasih hati minta jantung.
Ternyata sikap baikku pada mereka bukan membuat mereka semangat tetapi justru membuat mereka menyepelekanku. Aku mulai pusing. Kujelaskan tidak mengerti, kuberi tugas mereka malah tidak mengerjakan. Hanya sekitar 20% yang respek.
Lalu aku bertemu dengan mantan guru matematika di sekolah saat dia berkunjung ke sekolah. Dia bilang padaku bahwa menjadi guru matematika itu harus jahat di kelas. Tidak hanya matematika sebenarnya, tapi guru fisika, kimia, dan bahasa Inggris perlu menjadi jahat. Empat pelajaran tersebut memang pelajaran yang membutuhkan shock theraphy. Jadi mereka perlu dipaksa agar mau belajar.
Aku senang mendengar teori itu. –Dan memang pada dasarnya aku ini orang jahat, serius, dan mengerikan. Begitu kata salah seorang teman guru- Kebetulan aku punya momen yang tepat. Ulangan.
Mulai dari ulangan itu aku langsung berubah. Awalnya mereka protes.
“Bu, sekarang kok jadi jahat to Bu?” Tanya ketua kelas XI TKJ.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata, hanya dengan senyuman tatapan yang penuh arti.
Lalu seterusnya sampai saat ini anak-anak mengenalku sebagai guru yang jahat, serius, dan mengerikan.
Pak Sony, Pak Rus, dan Bu Khusnul adalah guru jahat favorit saat dulu aku SMA. Aku mengadopsi gaya mereka dan mengombinasikannya.Namun demikian, aku terus berusaha agar anak-anak tidak lari dan tersiksa. Aku berusaha memotivasi mereka. Aku juga sering mengoda mereka, bercanda, juga terkadang aku mengolok-olok dan menjadikannya lelucon bagi yang lain. Kuharap mereka tetap terhibur di tengah kejahatanku.
Mungkin kejahatanku bisa diterjemahkan dalam dua makna. Karena aku ingin reka pintar atau sebagai pelampiasan.
Bersambung…
