SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Terpaksa Jadi Guru

Terpaksa Jadi Guru

-Sebuah Cerbung-

Bulan Juni aku wisuda. Gelar sarjana sudah kudapat. Akan tetapi aku masih belum tahu aku ingin bekerja sebagai apa. Study yang kutekuni selama 3 tahun 6 bulan itu bernama Matematika -murni-. Prospek kerja yang nampak di depan mataku, kalau tidak bekerja di perusahaan ya di instansi pemerintah. Artinya aku harus menunggu adanya open recruitment yang menyediakan untuk lulusan matematika.

Akan tetapi aku tidak punya keinginan untuk bekerja di perusahaan apalagi sebagai Pegawai Negeri di instansi pemerintah. Aku ingin berwiraswasta. Aku telah memulai bisnis makanan dan konveksi bersama kakak kelasku. Tetapi semua terhenti sampai saat ini karena orang tuaku tidak mengizinkan lagi dan menyuruhku pulang kampung.

Maka aku hanya berhadapan pada satu pilihan saat itu. Terpaksa jadi guru. Aku memasukkan lamaran ke berbagai SMP dan SMA yang dekat dengan rumah, di pinggiran kabupaten. Kebetulan ada satu SMK dan satu SMA swasta yang sedang membutuhkan guru matematika. Dan tepat awal tahun ajaran baru 2017-2018, kisah ini dimulai.

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa menjadi guru sangat sulit. Tak semudah dengan yang kubayangkan. Apalagi bagi aku yang tidak pernah sekalipun bercita-cita menjadi guru.

Setiap hari harus menghadapi manusia yang luar biasa. Mereka membuatku ingin menangis setiap hari. Seandainya aku tidak malu pada dunia, aku pasti sudah mengundurkan diri dari sekolah. Sayangnya aku belum punya pekerjaan yang lain. Jadi mana mungkin aku bisa hidup dengan tenang kalau aku menjadi pengangguran?

Terpaksa kujalani hidup sebagai guru sambil berusaha dan berharap segera memulai usaha baru. Meski di sini aku telah mendapat pelajaran. Bahwa menjadi guru di sekolah swasta pinggiran itu lebih dari sekedar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Aku sangat mengagumi teman-teman guru di sekolah. Mereka setiap hari menghadapi anak-anak yang luar biasa. Kenapa kusebut luar biasa? Karena di sekolah swasta yang kini aku berada, di sana bersemayam murid-murid yang kebanyakan tidak diterima di sekolah negeri. Sebagian dari mereka bahkan tidak mau bersekolah alias anak-anak yang malas. Mungkin sekitar 10% saja yang benar-benar ingin bersekolah di situ. Bahkan setengah dari 10% tadi justru karena tidak mampu membayar ongkos transport jika bersekolah di negeri yang lebih jauh.

Maka menjadi guru di sana harus orang yang sabar mendidik anak-anak yang luar biasa. Dan aku yakin, masih banyak sekolah swasta pinggiran yang mewadahi murid yang lebih luar biasa dari pada di sini. Justru sekolah-sekolah swasta macam inilah yang benar-benar melaksanakan tugas pendidikan bagi rakyat kecil.

Itu salah satu alasan aku menyebut guru di sekolah swasta pinggiran lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa. Masih ada dua alasan yang lain. Pertama, karena gaji kami sangat kecil dan belum tentu gaji dibayarkan setiap bulan. Kedua, paradigma masyarakat yang menilai sebelah mata guru sekolah swasta pinggiran seperti kami dibanding dengan guru yang berstatus pegawai negeri atau yang mengajar di sekolah negeri.

Bersambung

Selanjutnya: Terpaksa Jadi Guru (2)

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER