Independence Is Happiness

Independence Is Happiness

Indonesia secara de jure, sudah merdeka 74 tahun. Merdeka dari penjajahan bangsa asing. Terbebas dari agresi militer nengara asing. Hal ini patut disyukuri. Namun secara de facto, apakah definisi merdeka di atas benar-benar menggambarkan arti merdeka yang sebenarnya? Dan definisi merdeka seperti apakah yang tepat?

Menurut Susan B. Anthony, seorang aktivis Amerika tahun 1820, mengatakan bahwa  Independence is Happiness, kemerdekaan itu adalah kebahagiaan. Kalimatnya singkat, tapi maknanya sangat luas. Namun perlu kita cermati sisi ini. Walaupun bisa jadi persepsi setiap orang akan berbeda tentang pernyataan ini. Disesuaikan dengan kepentingan dan filosofis hidup masing-masing. Tapi kebahagiaan ini yang perlu kita hadirkan dengan definisi sebenarnya dalam mengisi kemerdekaan Indonesia yang sudah 74 tahun.

Mengukur kebahagiaan sama sulitnya dengan mengukur kadar cinta seorang suami pada istrinya. Sama tidak mudahnya dengan mengukur kadar duka lara korban bencana seperti tsunami. Karena bahagia bukanlah hal yang konkret secara lahiriah. Tapi bahagia adalah sebuah perasaan nyaman yang lahir dari dalam diri orang perorang.

Pertanyaan selanjutnya, dengan definisi di atas apakah ada program pemerintah yang mengejar kebahagiaan tersebut? Sekilas, program-program pemerintah tampak lebih banyak berpihak pada kesejahteraan ekonomi yang mengacu pada hal fisik. Apakah benar seperti itu? Perlu kita telusuri lebih jauh secara seksama dan bersama.

Di beberapa negara maju, indikator kebahagiaan dianggap penting bagi perumusan kebijakan publik dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional. Di mana indikator kebahagiaan bertujuan untuk melengkapi indikator ekonomi yang selama ini digunakan dalam merepresentasikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Bahkan PBB merilis  Daftar  World Happiness Report  Tahun 2017 yang menempatkan Negara Norwegia sebagai Negara terbahagia di dunia. Sementara Negara Indonesia berada di rangking 81 dari total 155 negara. Parameternya mengutip dari situs CNN, World Happiness Report dibuat berdasarkan pertimbangan dari faktor-faktor tertentu, yaitu pendapatan per kapita, kedermawanan, kebebasan berpendapat dan membuat keputusan, kehidupan yang sehat, faktor penunjang sosial, kepercayaan dan juga dystopia.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga pendataaan melakukan Survey Perilaku Tingkat Kebahagiaan (SPTK). Pengukuran Tingkat kebahagiaan adalah kepuasan hidup. Meliputi kepuasan hidup personal dan hidup sosial. Kepuasan hidup personal meliputi pendidikan dan keterampilan, pekerjaan/usaha, pendapatan rumah tangga, kesehatan, dan kondisi rumah serta fasilitas rumah. Subdimensi kepuasan hidup sosial meliputi keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

Tingkat Kebahagian Masyarakat Indonesia

Hasil dari SPTK tahun 2017 menyebutkan bahwa indeks rata-rata tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia adalah sebesar 70,69. Di mana tingkat kebahagiaan diukur pada skala 0-100. Angka indeks sudah berada di atas angka 50 menunjukkan bahwa secara umum kondisi masyarakat Indonesia cukup bahagia. Hal ini lebih baik dibanding tahun 2014, dengan peningkatan sebesar 2,41 point.

Secara teknis penghitungan indeks kebahagiaan melibatkan 3 dimensi yang diukur yaitu kepuasan hidup (satisfaction), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia). Dari 3 dimensi ini, makna hidup mencapai skor indeks paling tinggi, yaitu sebesar 72,23. Kemudian diikuti dimensi kepuasan hidup dan perasaan. Masih dari hasil SPTK, kita bedah setiap provinsi ternyata masyarakat Maluku Utara sebagai masyarakat paling bahagia di Indonesia dan masyarakat Papua paling kurang bahagia dibandingkan daerah lainnya. Lalu, di manakah posisi kebahagiaan masyarakat Jawa Barat?

Tingkat Kebahagian Masyarakat Jawa Barat

Indeks kebahagiaan Provinsi Jawa Barat berada pada posisi ke-26 dengan nilai indeks sebesar 68,91. Posisi ini berada tepat di bawah Provinsi Banten dan di atas Provinsi Kalimantan Barat. Dilihat dari klasifikasi wilayah, masyarakat di perkotaaan cenderung lebih bahagia dari masyarakat perdesaan.

Jika dilihat dari jenis kelamin, laki-laki memiliki kecenderungan lebih bahagia dibanding wanita. Sedangkan dari segi status perkawinan, masyarakat yang belum kawin cenderung lebih bahagia. Disusul oleh masyarakat yang kawin, cerai hidup, dan cerai mati.

Dari data indeks kebahagiaan menurut kelompok umur, terlihat bahwa masyarakat yang cenderung paling bahagia berada pada kelompok umur 25-40 tahun. Hal ini sinergi dengan indeks kebahagian menurut status perkawinan, di mana masyarakat yang belum kawin dan sudah kawin adalah masyarakat yang cenderung paling bahagia. Umumnya, kelompok ini berada pada rentang usia 25-40 tahun.

Hasil lainnya menyebutkan bahwa pasangan rumah tangga, biasanya seorang istri, cenderung lebih bahagia daripada kepala rumah tangga, biasanya suami. Data ini bertolak belakang dengan indeks kebahagiaan menurut jenis kelamin. Hal ini dikarenakan jenis kelamin cakupannya lebih luas.

Masih dari hasil SPTK, mencatat bahwa rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4 orang adalah rumah tangga yang cenderung paling bahagia. Diikuti dengan jumlah anggota rumah tangga 3 orang, 5 orang, 2 orang dan 1 orang. Dari tingkat pendidikannya, semakin tinggi tingkat pendidikan, masyarakat memiliki kecenderungan semakin bahagia. Hal ini berlaku juga pada indeks kebahagiaan yang dilihat dari tingkat pendapatan masyarakat.

Setelah melihat pemaparan data di atas, apakah sudah benar mendefinisikan kemerdekaan adalah kebahagiaan?  Jawaban pastinya masih perlu kita telusuri lebih dalam. Namun satu hal yang pasti, kita harus bersyukur dan bahagia dengan kondisi Indonesia terbebas agresi bangsa asing. Dan cara ekspresi terbaik atas rasa syukur dan bahagia itu dengan mengisi kemerdekaan dengan karya apapun profesi kita.

 

Oleh: Siti Anisah, S.Si
*Penulis adalah pegawai BPS Kabupaten Kuningan Jawa Barat.
** Ditulis dalam rangka refleksi Kemerdekaan RI ke-74.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Menonton Film Wide Awake, Kim Myung Min

Film Wide Awake adalah film asal Korea yang rilis pada tahun 2007 dan dibintangi oleh Kim Myung Min. Film ini bercerita tentang seorang bocah...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

Tumpangsari Melon dan Semangka Sangat Menguntungkan

Pangkalan Bun - Petani melon dan semangka Desa Pasir Panjang RT 04 Arut Selatan Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah, merasa diuntungkan dengan teori barunya....
close