Ironi, Koordinator Pengawas Pendidikan DPR-RI Dilarang Ceramah di Kampus

Ironi, Koordinator Pengawas Pendidikan DPR-RI Dilarang Ceramah di Kampus

Walaupun menurut konstitusi kekuasaaan di NKRI terbagi oleh kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, namun persepsi masyarakat masih menganggap penguasa adalah eksekutif. Tak jarang kita temui DPR terkesan seperti bawahan pemimpin eksekutif (Bupati, gubernur, presiden). Apalagi jika DPR tersebut separtai dengan eksekutif.

Saya lumayan sering mengikuti acara yang dihadiri DPR dan Bupati, terkesan DPR “munduk-munduk” pada Bupati. DPR saja begitu, apalagi masyarakat awam, dalam benak mereka penguasa adalah pemimpin eksekutif. Dan ini hampir terjadi di semua level, bahkan di kampus.

Seperti yang dicuitkan Fahri Hamzah pagi ini, bahwa dia masuk daftar tokoh yang dilarang ceramah di beberapa kampus. Padahal dia adalah koordinator pengawas dunia pendidikan di DPR-RI, dan kita tahu dia juga wakil ketua DPR.

Kenapa pihak kampus sampai begitu beraninya terhadap pengawasnya? Nggak habis pikir saya, ada apa dengan bangsaku sekarang ini?

“Saya prihatin atas pengekangan yang dilakukan oleh kampus kepada mahasiswa selama ini, bahkan kampus difitnah terpapar radikalisme dan isu yang nggak masuk akal. Sambil mereka yang berseberangan dengan pemerintah dilarang masuk kampus. Saya termasuk yang beberapa kali dilarang,” tutur FH pagi tadi di akun twitternya.

Dia menambahkan, “Bayangkan, saya masuk daftar yang tidak boleh berceramah di beberapa kampus negeri yang saya sendiri adalah koordinator pengawas dunia pendidikan di DPR-RI. Kelakuan para penjilat di rezim ini bikin sakit perut. Rektor seperti terkena tekanan agar melarang oposisi masuk kampus”

Mungkin benar statemen FH, hal ini bisa terjadi berkat kelakuan para penjilat rezim. Rezim sediktator apapun jika tidak ada penjilat maka dia tidak akan bisa sukses melakukan aksi diktatonya. Yang terjadi justru sebaliknya rezim akan dilawan dan akan runtuh.

Indah sekali jika para penjilat rezim ini punah, setiap rezim pasti akan demokratis, karena jika dia otoriter bukannya ditakuti tapi malah dilawan, dilecehkan dan diturunkan dari singgasananya. Tapi jika para penjilat masih tumbuh subur bak cendawan di musim hujan, maka rezim akan nyaman dan semakin menikmati jilatan dan sembahan mereka.

Bertobatlah para penjilat, jadilah manusia merdeka!!.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pendidikan Anak Bermula Dari Rumah

Perlu untuk disadari kalau pendidikan itu tidak harus dan tidak hanya yang berlangsung di ruang kelas atau dari lembaga pendidikan. Keluarga adalah madrasah, rumah...

Perasaan Hati dan Ukuran Cinta

Rasa cinta yang mendalam itu sering kali tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata, kecuali hanya sebagian kecil saja, namun jika cinta sudah melekat di dalam...

Omong Kosong Fatar Yani Setelah Dilantik Sebagai Wakil Kepala SKKMigas

Hal yang cukup disesalkan adalah adanya pernyataan Deputi Operasi SKKMigas saat itu, Fatar Yani, yang mengatakan bahwa berhentinya operasi Lapangan Kepodang adalah karena force majeur. Hal ini dinilai menyesatkan dan diduga keras keberadaan dia di SKKMigas untuk melindungi kepentingan Petronas.

Analisis Jual Makanan Lewat Pasar Daring

Makanan khas Jogja apa yang cocok dijual lewat pasar daring (online marketplace)? Apa harus terkenal? Perlu syarat tertentu?
close