Hari ini berselancar di twitter tercengang saya menemukan tweet @sandiuno yang mengutip ucapan mohammad Hatta “ Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani.”
Dan setelah 73 tahun Indonesia merayakan kemerdekaan apakah sudah tercapai cita-cita rakyat untuk hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahagia didefinisikan sebagai suatu keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan. Sedangkan makmur diartikan dengan serba kecukupan, tidak kekurangan.
Profesi saya sebagai dokter meyebabkan saya sering berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai kalangan tak terkecuali masyarakat sangat miskin. Bermacam-macam masalah ekonomi yang mereka hadapi sering tercurahkan di meja praktek, bahkan ada yang sampai mengalami gangguan jiwa karena tak kuat menahan himpitan ekonomi.
Saya mau menuliskan dua contoh kasus saja, walaupun sebenarnya ada banyak kasus yang menarik untuk dituls.
Kasus pertama, pasien ini adalah lanisa umur diatas 60 tahun, beliau petani kecil yang juga berprofesi sebagai tukang pijat. Beliau punya penyakit di saluran pernafasan yang sering kambuh bila beliau kecapaian. Hal yang membuatnya tidak bisa mengelak dari capai adalah ketika harus mengerjakan pekerjaan sawahnya.
Beliau mengatakan bahwa fisiknya sudah lemah, tapi bila sawahnya dibiarkan saja tidak dikelola sayang karena beliau pun masih sangat butuh biaya hidup. Bila menyuruh orang untuk mengrjakan ongkosnya mahal. Ongkos buruh tani memang mahal, sehari sekitar 80-90 ribu sehingga tak terjangkau oleh beliau.
Sehingga bila kondisi beliau sedang tidak fit maka anak perempuannya yang masih cukup muda berumur sekitar 30 tahun yang harus menggantikan pekerjaan sawah. Anak perempuannya tersebut mempunyai dua anak yang masih kecil, bila sedang ke sawah dua anaknya juga dibawa, karena kalau ditinggal nangis. Terkadang ke sawah harus malam hari bila jadwal megairi sawahnya dapat jatah malam hari (karena banyak yang membutuhkan air maka jadwal mengairi sawah dibuat siang dan malam hari)
Perempuan tersebut ditinggal merantau ke luar jawa oleh suaminya sejak dia hamil anak pertama, suaminya pulang ke rumah setahun sekali. Dan katanya uang bulanan pun tidak lancar dikirimkan. Perempuan itu sangat perkasa menurut saya. Selain membantu ayahnya di Sawah dia juga menjadi buruh tani untuk tetangga-tetangganya yang membutuhkan tenaganya.
Kasus kedua, seorang pemuda yang semangat tinggi bekerja, merantau ke Jakarta dengan usaha jualan jamu. Bermodal beberapa juta namun nasib baik tidak berpihak padanya, dagangannya tidak laku sehingga modal habis.
Dia tidak berputus asa, mencoba lagi merantau ke Jakarta dengan membawa modal beberapa juta lagi namun nasib baik belum juga berpihak padanya. Terakhir dia mencoba merantau lagi untuk menjadi kuli bangunan, namun entah mengapa beberapa tahun kemudian dia pualng sudah dalam kondisi mengenaskan, badan kurus kering dengan jiwa yang terganggu.
Ternyata uang yang untuk modal dagang dan hidup merantau di Jakarta berasal dari hutang di sebuah Bank dengan agunan pekarangan rumah warisan ibunya. Padahal hutangnya hanya 8 juta namun karena tidak bisa bayar maka pekarangannya hilang.
Mengutip ucapan Bung Hatta, Bila masih banyak rakyat yang belum bahagia dan makmur jasmani maupun rohani maka apa gunanya Indonesia merdeka……….?
