SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Beranikah Menteri Mengumumkan Kenaikan Harga BBM Tanpa Seijin Presiden?

Beranikah Menteri Mengumumkan Kenaikan Harga BBM Tanpa Seijin Presiden?

Kenaikan harga BBM merupakan hal yang sangat sensitif karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Tapi ajaibnya di era pemerintahan bapak Jokowi sejarang ini kenaikan harga BBM menjadi sesuatu yang “sepele” sehingga bila pemerintah ingin menaikkan tinggal buat pengumuman saja beres, dan rakyat kebanyakan hanya bisa tunduk.

Mungkinkah rakyat sudah pada taraf sejahtera sehingga tidak nampak ada perjuangan keras yang ditunjukkan para wakil rakyat, mahasiswa, tokoh masyarakat dan media untuk mengkritisi. Yang nampak hanya obrolan sesaat di medsos dan segera lenyap dalam beberapa hari. Dan si BBM pun tetap naik.

Mungkin karena reaksi publik yang terkesan santai inilah yang membuat pemerintah makin menikmati sehingga tak segan untuk sering menaikkan harga BBM. Tak perlu ada diskusi alot di DPR, cukup diumumkan menteri maka naiklah itu BBM.

Undang-undang yang menyerahkan harga BBM pada mekanisme pasar menjadi alat pembenar bahwa pemerintah berhak menaikkan harga BBM kapanpun. Dan rakyat diminta maklum karena peraturannya membolehkan.

Seolah-olah kalau sudah sesuai perturan maka rakyat tidak boleh protes. Bukankah peraturan dibuat oleh manusia bukan Tuhan? Bukankah peraturan yang dibuat manusia bisa diganti? Lalu kenapa semua diam dan pasrah tidak menampakkan kehendak untuk merubah peraturan?

Mungkin karena semua diam tidak ada desakan kuat untuk merubah peraturan maka dengan enteng tanpa beban seorang menteri mengumumkan kenaikan harga BBM. Tapi mungkinkah seorang menteri berani mengumumkan kenaikan harga BBM tanpa seijin presiden?

Harusnya sih tidak berani, dan harusnya sebelum memutuskan kenaikan sudah dudahului dengan diskusi dan kajian yang mendalam. Tapi kenyataannya baru diumumkan harga BBM naik, sejam kemudian dianulir oleh presiden.  Andai presiden sudah terlibat dalam pembahasan kenaikan kenapa kok mudah sekali berubah pikiran?

Andai presiden belum tahu sebelumnya, kok bisa keputusan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak diputuskan sendiri tanpa sebelumnya melaporkan ke presiden? Atau memang ini disengaja, agar muncul image presiden “pahlawan” bagi rakyat kecil? Andai ini memang disengaja sungguh kasihan yang harus berperan untuk mengumumkan kenaikan.

Akhir dari tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa saya kecewa kepada para tokoh masyarakat, wakil rakyat, mahasiswa dan media yang nrimo  saja dengan peraturan yang menyerahkan harga BBM pada mekanisme pasar.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER