SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Bagaimana Bila Bertemu Mukidi?

Bagaimana Bila Bertemu Mukidi?

“Mukidi” sempat menjadi viral di grup-grup WhatsApp beberapa waktu yang lalu dengan berbagai macam versi ceritanya. Bahkan siapa Mukidi sendiri pada akhirnya menjadi misteri. Dalam kesempatan kali ini, Mukidi adalah istilah yang penulis gunakan untuk menyebut nama seseorang yang mempunyai sifat pembohong. Sebelumnya, penulis memohon maaf apabila ada seseorang yang benar-benar bernama Mukidi. Tidak ada maksud sedikitpun mengatai orang tersebut adalah pembohong. Ini hanya sekedar pemilihan nama.

Dalam hidup, kita pasti pernah punya pengalaman bertemu dengan orang yang suka berbohong. Mulai dari bohong ringan hingga kebohongan yang merugikan bahkan mencelakakan orang lain.

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila bertemu atau mengetahui adanya seorang pembohong?

Apakah kita diam saja? Biarkan itu menjadi tanggung jawabnya masing-masing?

Tentu tidak. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim diwajibkan melakukan amar makruf nahi mungkar. Sederhananya yaitu mengajak pada perbuatan yang baik dan mencegah dari perbuatan yang buruk.

dari sahabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: “Sungguh aku telah melihat seorang laki-laki yang sedang menikmati kenikmatan di surga, disebabkan ia memotong duri yang berada di tengah jalan, yang duri itu mengganggu kaum muslimin.”

Seorang pembohong memberi dampak yang buruk pada lingkungan dan dirinya sendiri. Seorang pembohong akan merugikan orang lain. Seorang pembohong tidak layak dijadikan sebagai pemimpin.

Berberapa hal yang perlu dilakukan apabila bertemu pembohong adalah:

  1. Jika mampu, maka nasihatilah seorang tersebut agar berhenti dari sifat pembohongnya. Menasihati dengan cara yang baik agar si pembohong sadar.
  2. Mengamankan lingkungan dari dampak buruk yang akan ditimbulkan oleh si pembohong.
  3. Mencegah si pembohong menjadi pemimpin. Sebab dia tidak akan amanah. Misal saja ada seorang Mukidi yang mengatakan pada publik bahwa dirinya sudah 10 tahun yang lalu terakhir main volly. Padahal faktanya; sebulan sebelumnya Mukidi main volly dengan teman-teman kantornya. Ini hal yang sangat sepele dan seperti tidak berarti apa-apa. Akan tetapi, ini sudah lebih dari cukup untuk menilai Mukidi adalah seorang pembohong. Hal seperti itu saja Mukidi lakukan kebohongan. Bagaiamana bila dia diberi amanah untuk menjadi memimpin? Dia pasti akan merugikan orang-orang yang dipimpinnya.

Apakah membicarakan fakta kebohongan seorang pembohong adalah ghibah? InsyaAllah tidak. Bahkan Al Qur’an isinya membicarakan keburukan Fir’aun, Namrud, dan juga manusia ingkar lainnya. Supaya kita bisa mengambil pelajaran dan tidak terjatuh pada kondisi buruk yang sama.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER