Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Kabar Awal Munculnya Khawarij

Awal Munculnya Khawarij

Kabar Awal Munculnya Khawarij

Awal Munculnya Khawarij

WARGASERUJI – Abdullah bin Syaddad datang menemui ‘Aisyah, pada malam terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. ‘Aisyah meminta Abdullah bin Syaddad menceritakan secara jujur kisah orang-orang yang diperangi Ali bin Abi Thalib. Kisah yang kemudian membuka rahasia perkataan Rasulullah s.a.w tentang awal munculnya Khawarij.

Abdullah Syaddad menjawab, mengapa tidak jujur? Seolah-olah ia menyatakan tak ada alasan apapun untuk berdusta kepada ‘Aisyah. Maka ‘Aisyah pun memintanya bercerita.

Abdullah Syaddad memulai kisah dengan peristiwa tahkim, antara Ali dan Muawiyah, yang sepakat menunjuk dua juru runding. Kesepakatan ini dicela oleh delapan ribu pasukan Ali sendiri yang terdiri dari para qurra’. Mereka kemudian memisahkan diri dan menempati Harura’, sebuah tempat di luar Kufah.

Di sana, mereka mencerca Ali. “Engkau telah melepaskan pakaian yang telah Allah berikan kepadamu dan telah meninggalkan nama yang telah Allah berikan kepadamu, kemudian mengangkat manusia sebagai hakim dalam agama Allah. Sesungguhnya tiada hukum melainkan milik Allah semata.”


Ketika cercaan itu sampai ke telinga Ali bin Abi Thalib, diperintahkan kepada pengawal untuk mengumumkan agar jangan masuk menemui Amirul Mukminin melainkan para penghafal Quran. Maka, masuklah para penghafal Quran ke rumah Ali bin Abi Thalib.

Ali meminta mushaf besar dan diletakkan di hadapannya. Kemudian, ia pukul mushaf itu seraya berkata, “Hai Mushaf, bicaralah kepada manusia!”

Orang-orang pun berseru, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau bertanya kepada mushaf?”

Kemudian Ali berkata,”Rekan-rekan kalian yang menyempal, antara aku dan mereka terdapat Kitabullah! Sesungguhnya Allah telah berkata dalam kitab-Nya tentang persengketaan antara sepasang suami istri.”

Kemudian Ali membacakan ayat 35 dari surat Annisa. Setelah itu, kemudian mencoba menjelaskan mengapa melakukan tahkim dengan Muawiyah.

Tahkim dilakukan karena menyangkut darah dan kehormatan umat Muhammad, yang jauh lebih agung daripada kehormatan sepasang suami istri.

Rekan-rekan mereka yang menyempal, menyalahkan Ali karena menandatangani perjanjian yang ditulis tanpa menyebut jabatan Amirul Mukminin. Maka, Ali mematahkan hujjah mereka dengan menceritakan keputusan Nabi Muhammad yang menandatangi perjanjian Hudaibiyah tanpa mencantumkan gelar kerasulannya.

Kemudian, Ali menyebut dalil dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 21 tentang pernyataan Allah bahwa pada diri Nabi Muhammad terdapat suri teladan bagi manusia, sehingga patut diikuti.

Perjanjian Untuk Pasukan yang Tidak Mau Rujuk

Kemudian, Ali mengutus Abdullah bin Abbas ke tempat pasukan yang memisahkan diri di Harura untuk berdialog.

Abdullah bin Abbas diperkenalkan oleh Ibnu Kawa’, pemimpin mereka. Ibnu Kawa’ menyifati Ibnu Abbas dengan ayat 58 dalam surat Az-Zukhruf, sebagai kaum yang suka bertengkar. Kemudian meminta agar menyuruh Ibnu Abbas kembali dan jangan berdialog tentang Kitabullah dengannya.

Namun, sebagian dari mereka memilih dialog dilakukan. Maka, selama tiga hari, Ibnu Abbas berdialog dengan mereka, dan empat ribu orang berhasil rujuk dan bertobat. Mereka kemudian dibawa kepada Ali di Kufah.

Ali kemudian mengutus seseorang untuk menemui sisa yang tidak mau rujuk. Berikut isi maklumat Ali.

“Sesungguhnya kalian telah menyaksikan apa yang telah kami alami dan apa yang telah dialami oleh manusia. Berbuatlah semau kalian hingga umat Muhammad s.a.w bersatu. Antara kamu dan kalian terikat perjanjian, tidak boleh menumpahkan darah yang haram dibunuh, tidak boleh menyabotase jalan dan tidak boleh menzalimi ahli dzimah. Jika kalian melanggarnya, maka kami akan membalasnya dengan pembalasan yang setimpal.”

Kemudian disebutkan ayat 58 surat Al Anfal bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

‘Aisyah kemudian bertanya kepada Abdullah bin Syaddad, apakah kemudian mereka melanggarnya. Abdullah bin Syaddad mengiyakan. Tidak lama setelahnya, mereka menyabotase jalan, menumpahkan darah dan menghalalkan ahli dzimmah.

Mereka inilah cikal bakal kaum awal munculnya khawarij yang akan diperangi Ali bin Abi Thalib di suatu tempat bernama Nahrawan. Kaum khawarij ini muncul persis seperti apa yang telah digambarkan oleh Rasulullah s.a.w. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya, bertahkim kepada Quran namun sebatas ditenggorokan.

—-0000—-

Rujukan : Kitab Al Bidayah Wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.