Serunya Petualangan Musim Panas Menemukan Perbatasan Daratan dan Lautan

Serunya Petualangan Musim Panas Menemukan Perbatasan Daratan dan Lautan

Traveling atau mbolang atau keluyuran belakangan ini menjadi populer seiring ditemukannya dan dibuka tempat-tempat wisata baru. Barangkali kita sudah terlanjur percaya bahwa tempat yang indah adanya jauh di sana. Butuh waktu dan biaya yang cukup banyak. Kita sudah terlanjur tersugesti bahwa tempat yang bagus itu ini, ini, dan ini. Rasanya biasa saja kalau ke tempat yang bagus tapi dekat dan tak terkenal. Itu memang paradigma yang sudah terlanjur berdiri kokoh dalam wawasan kita dalam dunia wisata [?].

Padahal menurut hemat saya, di negara tempat kita tinggal ini sungguh kaya dengan lukisan alam indah yang tersebar luas hampir di setiap koordinat bumi tempat dipijak. Dan kita bisa dengan mudah menyulapnya menjadikan sebuah petualangan.

Oktober tahun 2013 yang lalu adalah pengalaman saya melakukan petualangan menyusuri hamparan tambak yang terbentang di wilayah Gresik Utara di tengah cuaca yang panas. Waktu itu saya berpetualang bersama kawan yang bernama Erva. Pengalaman petualangan yang tak terlupakan ketika kami berhasil membuktikan hipotesis kami tentang suatu desa. Ketika kami berhasil melewati jalan-jalan antimainstream yang sulit. Ketika kami bertemu dengan para penduduk dan mengobrol berbagi cerita. Semua itu menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman kami serta melatih kami mengatasi hal-hal yang muncul di luar dugaan. Bahkan sebagiannya dikarenakan kami nekad tanpa persiapan yang memadai.

Dan tentu saja, tak ketinggalan adalah hal-hal penuh kegokilan dan humanis yang memorable. Seperti ketika melihat para petani tambak yang bisa mengangkut berton-ton ikan ke daratan saat panen. Sungguh keren apa yang mereka lakukan. Mereka pasti orang yang tangguh dan kuat. Sungguh tak adil kala Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang pemalas kalau melihat yang seperti ini. Entahlah, tak perlu saat ini kita membahasnya.

Dan juga perasaan yang tak terlupakan adalah ketika di tengah hamparan tambak yang seolah jauh dari apa pun, kami melihat kubah masjid menjulang tinggi dan megah. Tak peduli bagaimana di dalamnya. Namun kegagahan masjid yang tampak dari kejauhan mencerminkan religiusitas (?) penduduknya. Dan ini jelas memiliki nilai sejarah tersendiri di masa yang akan datang.

Inilah perjalanan. Inilah tantangan. Dan betapa menyenangkan ketika rasa ingin tahu itu akhirnya terjawab. Sebetulnya, acap kali saya dan Erva mencapai suatu tempat, maka setelahnya kami pun penasaran untuk mencoba jalur yang lain. Kami penasaran untuk memastikan apa yang orang ceritakan selain untuk memastikan kebenaran hipotesis kami. Singkat cerita, kami melakukan petualangan menjelajahi tempat-tempat yang unforgetable, seperti ke Mengare dan Tambak Boyong.

Setelah perjalanan kami ke Mengare, kami menduga bahwa desa Banyuwangi pastilah berbatasan langsung dengan laut. Dan kami sangat ingin tahu seperti apakah perbatasan yang kami duga itu. Pesisir pantai kah? Hutan bakau kah? Atau langsung berupa tambak? Kami benar-benar ingin tahu.

Hari itu Jumat. Kembali ketika matahari tepat di atas kepala, kami memasuki desa Banyuwangi. Sepertinya, alam itu mendukung kami. Kami langsung bertemu dengan jalur tambak yang dilalui orang-orang. Kami terus menyusuri jalan itu dan beberapa kali menemui percabangan. Dan kami memilih yang kira-kira menuju laut.

Di hamparan tambak yang luas ada banyak sekali sungai kecil dan agak besar yang tepinya ditumbuhi pohon bakau. Melihat akar-akar bakau yang lancip dan nampak jahat, membuat perjalanan kami makin menantang dan berkesan. Apalagi kalau melintasi bakau yang agak lebat sehingga nampak seperti hutan. Menghadirkan kesan horor yang eksotis (?).

Selain itu, sepanjang perjalanan ada banyak pintu air yang disebut laban. Dan untuk melintasinya hanya tersedia segaris papan yang tepat muat satu roda motor. Beberapa kali saya musti turun dan memegangi motor. Haha. Dan sempat satu kali, papan yang kami lewati anjlok. Untunglah kami selamat tak sampai kejebur.

Menyusuri daerah tambak yang luas apalagi berpenampilan sama, amat sangat berisiko tersasar. Apalagi jika tak kuat hati. Terlebih jika usai menyeberang sungai. Jika tadi awalnya sungai ada di sisi kanan, lalu menyeberang maka sungai jadi di sebelah kiri. Lalu menyeberang lagi, sungai jadi di sebelah kanan. Begitu seterusnya. Jika tak ingat saat menyeberang jembatan, bisa merasa sedang tersasar atau kembali lagi ke tempat semula. Karena itu tadi, pemandangannya nyaris sama.

Kami telah menyusuri jalanan tambak yang cukup panjang di siang bolong dan kami tak bertemu manusia. Kami bermotor cukup jauh dan kembali ke tempat semula, kami pun tak ingat jalan. Dan kondisi bensin kami sudah hampir habis saat itu! Haha. Namun kami tak mau menyerah. Kami juga tak berpikiran macam-macam. Kami hanya mengandalkan keyakinan dan keingintahuan kami untuk melihat batas daratan dengan lautan.

Sampai suatu tempat kami melihat seorang pandega atau penjaga tambak. Kami bertanya pada beliau soal laut. Namun beliau malah menyuruh kami kembali. Oh tidak! Kami sudah pasrah. Bensin kami tipis. Mau tak mau kami harus segera menemukan daratan. Sementara dari tempat kami berada, tak nampak satu pun kubah masjid! Tapi tiba-tiba ada tiga orang anak SMP warga asli yang melintas. Mereka tau letak laut. Dan mereka mengantar kami.

Ternyata tadi itu sebenarnya kami sudah hampir sampai. Hanya saja setelah menyeberang jembatan yang paling panjang, kami belok kiri. Padahal laut hanya berjarak 20 meter dari jembatan itu. Oh betapa!

Akhirnya kami melihat batas laut dan daratan yang ingin kami ketahui. Setelah melewati halangan dan rintangan serta tantangan yang harus kami hadapi. Alhamdulillah! Senang sekali! Dan satu hal yang menjadi pelajaran menarik dari lokal trip kali itu adalah bahwa setiap ada niat pasti ada jalan. Buktinya, kami ingin melihat laut. Sejauh kami berusaha, meski awalnya salah jalan dan hampir pulang dengan tangan kosong, ternyata Allah menunjukkannya pada kami. 🙂

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Perasaan Hati dan Ukuran Cinta

Rasa cinta yang mendalam itu sering kali tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata, kecuali hanya sebagian kecil saja, namun jika cinta sudah melekat di dalam...

Jaringan Irigasi Kota Magelang, Karya Teknologi Peninggalan Belanda

Magelang , Sebentar lagi berulang tahun .11 April  907 ditetapkan sebagai  Hari Jadi Kota Magelang  dan sekarang menginjak tahun ke 1.111.Sungguh usia yang sudah...

Mengenal Pendidikan Vokasi ; Trend Pendidikan Masa Depan

Pendidikan adalah bekal masa depan yang paling utama. Tanpa pendidikan,  orang sulit meraih masa depan yang baik. Sayangnya kebanyakan orang menganggap remeh dengan pendidikannya,...

Mengapa Allah Bertanya Kepada Isa?

Isa dianggap oleh sebagian umat Nashrani sebagai anak Allah, juga disandingkan dalam sesembahan disisi Allah bersama ibunda Maryam. Mengapa Allah bertanya kepada Isa tentang apa yang dilakukan sebagian umat Nashrani itu?
close