SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Berjilbab, Sebuah Perintah Independen

Berjilbab, Sebuah Perintah Independen

Kapan hari pernah ada kejadian. Seorang perempuan memakai rok mini membeli bakso. Lalu entah bagaimana, saat pramusaji menghadirkan bakso pesanannya malah tumpah menumpahi paha si perempuan ber-rok mini. Kepanasan dan sakit kan? 😀

Ketika saya ditanya kenapa saya berjilbab, sejujurnya saya bingung menjawab pertanyaan itu. Karena jawabannya adalah sama apabila ada yang bertanya kenapa saya shalat.

Berjilbab adalah bentuk pelaksanaan perintah Tuhan kepada hamba-Nya. Jadi saya tidak punya jawaban kenapa saya berjilbab. Melainkan itu memang perintah Tuhan yang saya laksanakan. Itu saja.

Tapi saya sering mendengar orang-orang yang protes kalau terkait pemakaian jilbab: buat apa berjilbab kalau masih suka menyakiti orang? Buat apa berjilbab kalau suka membicarakan orang? Buat apa pakai jilbab kalau masih suka mentang-mentang dan sombong? Mending ‘dijilbabi’ hatinya dulu baru pakai jilbab sungguhan. Emang bisa ya hati dijilbabi? Jadi bingung kan?

Pertanyaannya, apakah wanita yang tidak berjilbab semuanya bersih dari sifat menyakiti orang? Apakah mulut wanita yang tidak berjilbab tidak suka membicarakan orang? Apakah mulut wanita yang tidak berjilbab semuanya santun? Apakah mereka wanita yang tidak berjilbab sudah pasti tidak suka menghina dan rendah hati?

Sebenarnya, itu urusan lain. Jilbab merupakan ibadah independen. Artinya perintah jilbab tidak ada korelasi dengan perintah lain. Berjilbab menjadi kewajiban yang jatuh pada tiap-tiap wanita muslim baligh yang normal alias waras. Sama halnya dengan kewajiban lain yang jatuh pada muslim seperti halnya perintah sholat. Saat muslimah berjilbab, dia akan mendapat balasan atas amalan berjilbabnya. Sedang saat tidak berjilbab, ya dia akan pertanggungjawabkan perbuatannya tersebut.

Saat muslimah berjilbab namun dia masih kasar dan menyakiti orang (atau melakukan perbuatan tercela lainnya), dia akan tetap bertanggung jawab atas perbuatan kasar dan zalimnya. Tapi dia selamat dalam hal berjilbab. Sebaliknya, jika muslimah itu baik hati dan lembut namun tidak berjilbab, otomatis dia akan mendapat pahala dari perbuatan baiknya itu namun dia tetap harus bertanggung jawab atas perintah berjilbab yang ia langgar.

Jadi, bukan berarti yang belum berjilbab lantas dia dianggap bukan orang baik karena jilbab bukan jaminannya. Tapi jangan dipelintir, tidak pakai jilbab tidak apa-apa yang penting berbuat baik. Bukan begitu ya. Sekali lagi, jilbab itu independen. Berjilbab adalah salah satu kewajiban muslimah diantara kewajiban-kewajiban lainnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa paradigma yang berlaku di masyarakat menuntut perempuan berjilbab itu menjadi manusia yang sempurna dan baik segala-galanya. Tapi bahkan dia sendiri lupa berjilbab. Dan juga lupa sudah seberapa baik dirinya. Jangan-jangan, sudah tidak pakai jilbab, zalim pula. Hehe.

Contoh lagi seperti ini. Si A sudah berjilbab tapi suka pamer dan bohong misalnya. Berarti dia perlu memperbaiki diri dari sikap pamer dan bohongnya. Bukan lantas tiada guna dia berjilbab.

Yang jelas, tidak ada manusia yang sempurna. Manusia itu tugasnya terus belajar dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Ketika dia berjilbab, dia satu langkah dalam ketaatan. Dia sudah menjalankan salah satu kewajibannya sebagai seorang hamba. Dan jilbab juga tidak bisa dijadikan ukuran dan jaminan kesalehan seseorang.

Maksud saya begini. Jilbab bukan satu-satunya perintah untuk muslimah. Jilbab adalah subset dari akhlak. Karena agama Islam agama yang lengkap, maka soal akhlak lengkap diajarkan, bukan hanya soal jilbab. Cuman, yang terlanjur menjadi paradigma di masyarakat, seolah-olah jilbab adalah segalanya. Lantas kalau ada perempuan berjilbab yang masih kasar misalnya, masyarakat biasanya sporadis menyalahkan jilbab seperti tadi. Padahal jilbab ‘hanya’ salah satu perintah bagi muslimah. Get my point? 😉

Jilbab merupakan bentuk ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, Allah. Sebagai bukti iman kepada Allah dan kitab-Nya. Kalau mengaku beriman kepada Allah dan Al-Qur’an, berarti percaya kalau Allah perintahkan hamba-Nya (perempuan) untuk berjilbab? Simpel. Allah sudah memberi manusia kehidupan dengan segala kenikmatan yang tak kan mampu dihitung. Lha disuruh berjilbab saja kok bawel macam-macam? Padahal, tanpa dipungkiri, dibalik perintah berjilbab jelas banyak hikmahnya. Contohnya ya perempuan yang tadi kesiram kuah bakso panas. Bhihihihik. Eh?

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER