SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Ridwan Kamil Menjawab Adawiyah: Kemunduran Demokrasi?

Ridwan Kamil Menjawab Adawiyah: Kemunduran Demokrasi?

27 Juni 2018 adalah hari berlangsungnya pilkada serentak di 17 Provinsi di Indonesia. Menurut pengamatan penulis, pilkada yang terlihat cukup seru salah satunya adalah pilkada Jawa Barat dengan empat pasang kandidat. Mulai dari hasil survey pra-pencoblosan yang sangat jomplang dengan hasil real count. Kejanggalan-kejanggalan angka yang diunggah di situs KPU. Hingga situs KPU Jabar yang sempat di-down-kan. Kemudian perbedaan hasil yang diunggah oleh web KPU dengan hasil perhitungan manual lapangan yang diunggah netizen melalui sosmed masing-masing. Dan yang tak kalah seru adalah perdebatan hingga pertikaian pendukung masing-masing paslon. Padahal belum tentu warga asli Jabar, seperti penulis.

Dalam berkompetisi adalah kelaziman ada pemenang dan ada (beberapa) yang kalah. Yang kalah tak boleh dendam. Dan yang kebetulan menang pun, tak boleh sewenang-wenang.

Setelah terpilih maka pemimpin yang terpilih akan menjadi pemimpin bagi seluruh warga, bukan hanya bagi pendukungnya. Dia harus menjadi ayah, menjadi kakak, menjadi sahabat bagi rakyat yang dilayaninya.

Terasa tidak dewasa apabila ada pasangan calon yang baper bahkan mengangkat ke ruang public atas dukungan pendukungnya hingga menyudutkan pihak lawan. Seperti yang dilakukan Cagub Ridwan Kamil ketika dia menanggapi/menjawab dukungan pendukungnya. Berikut capture status yang diunggah Ridwan Kamil melalui akun Facebooknya.

Facebook - RK jawab Adawiyah

Bahkan sikap pendukungnya pun bisa terasa tidak dewasa ketika sampai meninggalkan sekolah hanya karena beda pilihan cagub/cawagub. Andai kata benar ada ancaman dari pihak sekolah, mestinya bisa disikapi dengan bijak dan dewasa. Sehingga pesta demokrasi benar-benar menjadi pesta. Bukan malah membuat perpecahan semakin tajam.

Kemudian disusul apresiasi (yang lebih mendekati pembelaan) oleh Ridwan Kamil. Sikap yang terasa kurang bijaksana yang membuat tembok batas semakin tegas antara pendukung dan bukan pendukung.

Tanggal 9 Juli esok adalah hari yang menjawab siapa pemenang dalam kontestasi pilkada Jabar. Siapa pun pemenangnya ia harus melanjutkan prestasi-prestasi yang terlanjur banyak diukir oleh pendahulunya, Ahmad Heryawan. Dan akan menjadi PR berat di awal-awal adalah menyatukan dan merangkul seluruh warga Jawa Barat, baik pendukung maupun bukan pendukung paslon terpilih. Dan kita sebagai netizen yang bijak (apalagi jika bukan warga Jabar), siapapun yang kita dukung, semoga kita semua bisa dewasa bersikap dalam bermedsos. Semoga kita bisa makin dewasa dalam berdemokrasi.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER