WARGASERUJI – Bahrul, laki-laki berumur sekitar 60 tahun, sudah belasan tahun tidak makan makanan manis sama sekali. Dirinya sudah adaptasi perasa demi kesehatan, karena penyakit gula yang diderita.
Sewaktu masih muda, ayah dan ibunya meninggal juga karena penyakit gula. Pada dirinya juga muncul gejala yang sama. Ketika kaki terluka, sukar sembuh bahkan membesar.
Pola makan pun dirubah segera. Menu makanan yang manis, dihindari dengan ketat. Termasuk mengurangi kalori dari nasi.
Setelah belasan tahun, adaptasi perasa mulai terlihat. Kalau tak sengaja makan makanan manis sedikit saja, sudah terasa eneg. Bahkan, buah favorit bukan yang manis, melainkan yang masam.
Apa yang dilakukan Bahrul menjadi pelajaran, kalau manusia makhluk yang beradaptasi dengan luar biasa. Tidak hanya hanya tubuhnya, namun juga perasa citarasanya.
Maka, orang yang hanya berselera kepada jenis makanan tertentu, sebenarnya bisa diubah ke makanan apa saja. Asalkan mampu mensugesti diri sendiri, makanan yang tadi dianggap tidak enak bisa dinikmati.
Salah satu cara agar orang mudah menerima makanan apa saja, dengan mengikuti kegiatan survival. Kegiatan seperti itu memaksa orang untuk berada dalam kondisi selalu lapar, dan harus mencari makanan alternatif di alam. Biasanya, setelah beberapa hari lewat, akan mampu menikmati makanan bagaimana pun rasanya.
Jadi, tidak ada alasan sebenarnya bagi orang-orang untuk makan makanan yang sehat. Adaptasi perasa itu kuncinya.
