Pilpres 2019: Pilih Pengendara Motor atau Penunggang Kuda?

Pilpres 2019: Pilih Pengendara Motor atau Penunggang Kuda?

Pemilihan Presiden atau yang disingkat Pilpres 2019, sebentar lagi. Hanya beberapa hari lagi KPU akan menetapkan secara resmi calon presiden dan calon wakil presiden yang akan dipilih oleh 174.381.094 juta pemilih (masih bisa bertambah) yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang baru saja diumumkan KPU.

Capres yang akan berlaga, nampaknya ya itu-itu saja, karena bakal calon capresnya ya dia-dia lagi. Sama dengan Pilpres 2014, ndak berubah. Pertarungan rematch antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto.

Yang berbeda dari pilpres 2019 ini dibanding pilpres 2014, cuma cawapresnya. Wakil yang nyaris ndak ada fungsinya selain sebagai “pemain pengganti” jika nanti pasangan mereka menang.

Heran juga, katanya Indonesia ini sudah merdeka 73 tahun. Penduduknya 260an juta, banyak sekali. Tokoh-tokohnya juga banyak, masa untuk memilih Presiden saja, cuma muncul dua orang, itu-itu lagi. Kayak ndak ada orang lain saja yang layak memimpin Indonesia, selain Jokowi dan Prabowo. Aneh ya.

Coba bayangkan. Betapa membosankannya nanti waktu pilpres berlangsung. Pasti kampanyenya itu-itu saja. Kelompok pendukung Jokowi mengelu-elukan sebagai pemimpin merakyat, ndeso, dengan berbagai janjinya. Sambil pasti mereka akan menyerang Prabowo dengan menuding sebagai Jendral pecatan (sekarang disebut jendral kardus juga), penculik aktivis, rumah tanggal gagal, pemarah, dan ambisius (kalau ini benar juga ya, Prabowo ini ndak bosan-bosan mencoba peruntungan di setiap perhelatan Pilpres).

Disisi pendukung Prabowo, kampanyenya pasti juga tak jauh beda dengan pilpres sebelumnya; Prabowo sebagai capres visioner (terbukti lho dengan slogan “bocor-bocor” pada pilpres 2014 lalu), nasionalis, ikhlas (kalau ini katanya ada testimoni Gus Dur) dan banyak yang baik-baik tentang Prabowo. Nah, pendukung Prabowo juga pasti bunyinya sama dengan Pilpres 2014 dalam menyerang Jokowi; ingkar janji, plonga-plongo, tidak tegas, diatur si mbok, petugas partai, dan lainnya-dan lainnya.

Membosankan pasti Pilpres 2019 nanti. Di layar TV, koran, radio, media online, dan tentunya media sosial, pasti akan dipenuhi wajah Jokowi dan Prabowo lagi. Pasti dipenuhi berita-berita saling sindir lagi. Bosannnnnnn

Tapi, walau bosan, kata om-om yang suka gue baca statusnya di facebook, Golput itu tidak baik. Kita ndak boleh golput, katanya. Kalau kita golput nanti terpilih pemimpin jelek, lagi-lagi katanya. Walau gue ndak percaya, karena bisa-bisa saja saat gue nyoblos, justru yang tercoblos adalah pemimpin jelek, dan kalau menang, artinya kan pemimpin jelek yang terpilih.

Ngarang-ngarang saja si om itu …

Walau gitu, gue bertekad, akan tetap gunakan hak pilih, walau capresnya dia lagi-dia lagi. Apalagi gue sudah menemukan hal yang berbeda dari dulu waktu Pilpres 2014.

Dulu, kita tahunya Jokowi itu sederhana, seluruh pakaiannya hanya bernilai Rp150 ribu, kata iklan di baliho-baliho di pilpres 2014. Sepatu Jokowi katanya hanya 100 ribuan, tidak pakai jam. Tapi setelah jadi Presiden, kita jadi tahu dia punya hobi wahhhhhh, yaitu menunggangi motor mahal, chopper seharga Rp140 juta. Gile, pakaiannya sih 150ribuan, tapi tunggangannya brooooo…. chopper.

Kalau Prabowo, setelah Pilpres 2014, kita baru tahu (atau cuma gue?), dia ternyata hobi nunggang kuda. Kudanya mahal-mahal njirrr. Satu kuda Prabowo, katanya, berharga Rp3 miliaran perbiji, njirrr. Satu ekor kuda Prabowo, bisa beli chopper Jokowi sebanyak 20 biji bro…. padahal Prabowo punya 3 kuda seharga Rp3 miliaran itu. Belum kuda-kuda lainnya. Takjir melintir capres satu ini.

Nah, berdasar itu, gue mau nentuin, siapa yang nanti gue mau pilih di Pilpres 2019. Pilih Jokowi sebagai penunggang Chopper, yang keren abis, kayak hobi gue naik motor butut gue kemana-mana.

Atau pilih Prabowo sebagai penunggang kuda. Bukan kuda sembarang kuda, tapi kuda yang gue kerja sampai mati aja, belum tentu bisa gue beli. Kalau milih Prabowo, kayaknya keren, punya Presiden tajir melintir, kudanya aja 3 miliaran, pasti ndak bakal korupsi. Iya kan?

 

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

103 KOMENTAR

  1. Naik kuda itu jaman kerajaan..klw naik mesin jaman kemajuan…lainnya udah kebulan ini masih naik kuda…coba tengok..kudanya perempuan..apa laki..kikiliki……..kelihatan mundurnya tehnoligi klw dipegang c kupret…..kuda becak..masih dipakai…

  2. Pilih yg otentik dgn hoby dan kecintaanya ahli merawat dan mengenali dan sayangi piaraanya…..itu cerminan seorang pemimpin sejati…..yg naik kuda lebih genuine….yg Pake motor kok kayaknya mati gaya yee…..beda dgn pakai stuntman kayak di sea games

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Teknik Tanpa Efek Samping Terapi Warna Ala Sujok

rinsip kerja Sujok adalah melakukan penanganan titik-titik di tangan dan kaki dengan pewarnaan tertentu. Untuk hasil yang lebih maksimal namun masih taraf aman atau tidak beresiko tinggi, bisa ditambah ditempelkan biji-bijian ke titik-titik yang dimaksud.
close