Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

WARGASERUJI – Presiden Jokowi pada bulan Agustus tahun 2015 memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meroket menyusul data BPS yang menunjukan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2015 berada di level 4,67 persen.

“Mulai agak meroket September, Oktober. Nah, pas November itu bisa begini (tangan menunjuk ke atas),” kata Jokowi di Istana Bogor, Rabu (5/8/2015), sebagaimana diberitakan kompas di sini.

Tapi berbeda dengan prediksi Jokowi tahun 2015 silam itu, hingga hari ini ekonomi Indonesia tetap tidak beranjak pertumbuhannya dari lima persenan.

Malah, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data perdagangan internasional periode Januari 2019, yang menunjukkan defisit neraca dagang Indonesia terjerembab jatuh.

Diberitakan CNBC Indonesia, hari ini Jumat (15/2), sepanjang bulan lalu, ekspor turun sebesar 4,7% YoY, lebih dalam dari konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yakni penurunan sebesar 0,61% YoY.

Sementara itu, impor terkoreksi 1,83% YoY, juga lebih dalam dibandingkan konsensus yang memperkirakan koreksi sebesar 0,785% YoY.

Alhasil, defisit neraca dagang bulan Januari adalah senilai US$ 1,16 miliar. Tim Riset CNBC Indonesia mengumpulkan data defisit neraca dagang Indonesia sepanjang bulan Januari. Data terjauh yang bisa dikumpulkan adalah untuk tahun 2008.

Ternyata, defisit neraca dagang periode Januari 2019 adalah yang terparah dalam setidaknya 12 tahun terakhir.

Sebagai catatan, ungkap CNBC di situs beritanya, biasanya bulan Januari justru menghasilkan surplus. Dalam 12 tahun terakhir, hanya 4 kali neraca dagang membukukan defisit pada bulan Januari, sementara surplus tercatat sebanyak 8 kali.

Mengecewakannya kinerja ekspor sepanjang bulan lalu dipicu oleh kontraksi pada kedua pos pembentuknya, yakni migas dan non-migas. Sepanjang Januari 2019, ekspor migas anjlok 6,72% YoY, sementara ekspor non-migas melemah 4,5% YoY.

Dari sisi impor, terdapat tekanan bagi seluruh golongan pengunaan barang: impor barang konsumsi anjlok 10,39%, impor bahan baku turun 0,11% YoY, dan impor barang modal turun 5,1% YoY.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Mengenal Pendidikan Vokasi ; Trend Pendidikan Masa Depan

Pendidikan adalah bekal masa depan yang paling utama. Tanpa pendidikan,  orang sulit meraih masa depan yang baik. Sayangnya kebanyakan orang menganggap remeh dengan pendidikannya,...

Dampak Negatif Teknologi Pada Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Seruan kepedulian dari Nawal Edy Rahmayadi pada acara Penguatan Pola Asuh Anak dan Remaja cukup menggunggah, namun kenyataan dengan penerapan sistem kapitalis saat ini sulit untuk mewujudkan pola asuh yang benar pada anak dalam penggunaan teknologi karena lepasnya peran negara dalam mengawal perkembangan teknologi.

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...
close