Dari balik meja praktek seringkali kudapatkan info realitas sosial yang mengaduk-aduk rasa kemanusiaan. Kali ini tentang betapa mirisnya bekerja sebagai buruh pabrik garmen yang hasil produksinya untuk dieksport ke berbagai negara.
Alkisah , suatu hari datanglah wanita yang sedang hamil muda dengan keluhan mual, muntah dan pusing. Keluhan tersebut adalah keluhan yang biasa dialami wanita hamil, namun ada yang tidak biasa pada wanita ini karena selain dia harus menahan rasa tidak nyamannya akibat mendapat amanah dari Allah untuk mengandung, dia harus berdiri sepanjang hari di tempat kerjanya.
Saya : Mbak kerjanya gimana di pabrik tersebut?
Pasien : Saya harus berdiri untuk mengawasi mesin jikalau ada benang yang putus.
Saya : Ngawasinya sambil duduk?
Pasien : Berdiri dok
Saya : Tapi terkadang bisa duduk juga kan?
Pasien : Berdiri terus dok, tidak boleh duduk
Saya : Masak hanya duduk sejenak saja tidak boleh
Pasien : kalau duduk dan ketahuan mandor maka kami dimarahi
Saya : Mbak kan lagi hamil, masak tidak ada keringanan?
Pasien : Nggak ada dok
Saya : Mbak kuat menjalani?
Pasien : Gimana lagi dok, ya harus dikuat-kuatkan.
Menjadi wanita dengan pekerjaan rumah tangga saja sudah cukup membuat badan capek, apalagi ini bekerja juga sebagai buruh pabrik yang dalam bekerjanya mengharuskannya tetap berdiri dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, tak jarang bila orderan sedang berlebih dia juga diharuskan lembur sampai 9 malam dalam kondisi hamil pula. Mereka diberi waktu istirahat hanya pada saat jam makan.
Masyarakat seringkali dihadapkan pada kondisi yang membuatnya tidak berdaya. Pada kasus pasienku di atas dia hanya bisa pasrah dengan segala peraturan di pabriknya. Selama dia masih mampu menjalani meski terasa berat dia tidak akan berhenti jadi karyawan karena dia faham mencari kerja itu tidak mudah, dan penghasilan suaminya dirasa belum bisa mencukupi kebutuhan.
Saya : Keluhan yang mbak alami ini bukanlah penyakit, ini terjadi akibat kehamilan
Pasien : Tapi saya pusing sekali, dan terkadang muntah
Saya : Ini saya resepin obat yang bisa mengurangi pusing dan mual yang aman buat ibu hamil
Pasien : Terima kasih dok
Saya : Saran saya obat ini diminum hanya bila sangat diperlukan, jangan diminum rutin.
Alangkah indahnya bila pengusaha juga memperhatikan sisi kemanusiaan, jangan hanya berfikir mencari untung sebesar-besarnya. Tidakkah mereka sadari bahwa karyawannya harus menahan ketidaknyamanan selama bertahun-tahun, dan mereka tetap bertahan bukan karena mereka senang dengan suasana kerjanya, tapi karena mereka merasa tak punya pilihan lain.
#Liku2MejaPraktek

Betul…ini realita buruh wanita, sangat dilematis
Kalimat terakhir “Alangkah indahnya bila pengusaha juga memperhatikan sisi kemanusiaan, jangan hanya berfikir mencari untung sebesar-besarnya. Tidakkah mereka sadari bahwa karyawannya harus menahan ketidaknyamanan selama bertahun-tahun, dan mereka tetap bertahan bukan karena mereka senang dengan suasana kerjanya, tapi karena mereka merasa tak punya pilihan lain.”