Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Pro-Kontra Bagaimana Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Nasional dengan TKA Tiongkok ?

Bagaimana Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Nasional dengan TKA Tiongkok ?

Pro-Kontra Bagaimana Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Nasional dengan TKA Tiongkok ?

Bagaimana Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Nasional dengan TKA Tiongkok ?

WARGASERUJI – Berbagai media seperti video youtube, berita televisi, berita di media online dan media cetak seperti contoh batam pos yang saya dapat dari Facebook ini mengatakan bahwa TKA dari Republik Rakyat Cina/Tiongkok (RRC/RRT) masuk ke Indonesia tiap hari.

Masuknya TKA tiongkok dari berbagai pintu masuk Bandara yang ada di berbagai kota sudah menjadi kekhawatiran masyarakat. Bukan hanya soal semakin kecilnya harapan lapangan pekerjaan karena diambil alih oleh TKA  tiongkok, tapi juga sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional juga menjadi kekhawatiran tersendiri.

Kenapa warga tiongkok mencari kerja ke Indonesia? Apakah di negaranya tidak ada pekerjaan?

Padahal pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 2 digit. Entah apa maksudnya 2 digit.


Pemerintahan Jokowi dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% saja kalang kabut, koq malah warga asing tiongkok bisa bekerja di Indonesia secara besar-besaran?

Ini sangat aneh sekali. Ajaib namun nyata. Kira-kira bagaimana menganalisanya dari sisi Ilmu Ekonomi?

Apakah banyaknya TKA tiongkok ini karena adanya Investasi dari RRT, lalu investor tiongkok itu membawa sendiri tenaga kerjanya?

Koq bisa?

Bukankah seharusnya Investasi itu bisa menyerap tenaga kerja lokal dengan maksimal? Dan secara langsung investasi itu bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat tempatan, selain juga tentu yang utama adalah adanya pemasukan pajak ke negara.

Lalu kenapa tenaga kerja masyarakat lokal tidak bisa maksimal diterima bekerja oleh investor tiongkok?

Alasan Pemerintah Jokowi (dari berbagai media), tenaga kerja lokal kurang skill. Persoalan kurang skill ini sungguh menyakitkan. Memangnya skill seperti apa yg dibutuhkan? Skill dewa kah? Apakah mengaduk semen dan pasir saja kita harus import tenaga kerja?

Jika alasannya etos kerja kurang baik, mungkin juga, tidak salah dan masih bisa diterima. Tapi sebenarnya Etos kerja itu sendiri bisa dibentuk dari kedisiplinan pihak perusahaan menerapkan aturan internalnya dan tentu saja lewat ketatnya seleksi dalam perekrutan tenaga kerja dengan menghindari nepotisme. Sesungguhnya alasan apapun sehingga tenaga kerja lokal tidak dapat bekerja secara mayoritas, tidak bisa kita (rakyat indonesia) terima .

Lalu masalah sebenarnya APA?

Analisa saya, Pemerintah Jokowi lemah dalam negosiasi investasi dengan negara asing, khususnya kepada RRT. Entah apa istimewanya RRT di mata Pemerintah Jokowi.

Seharusnya pemerintah dalam membuat kerjasama dengan Investor asing bisa menerapkan aturan dengan menekankan kewajiban merekrut tenaga kerja lokal. Tapi hal ini sepertinya tidak dilakukan.

Alasan kenapa pemerintah jokowi lemah dalam negosiasi investasi dengan tiongkok, tak bisa diketahui dengan pasti. Sudah banyak analisa kemungkinan yang beredar dalam masyarakat, tidak perlu saya bahas lagi.

Ternyata menganalisa permasalahan TKA tiongkok tidak bisa lewat Ilmu Ekonomi tapi harus pakai Ilmu Politik. Karena ternyata tidak ada hubungan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebesar 2 digit (seperti di Tiongkok) dengan meningkatnya lapangan pekerjaan, seperti kasus TKA tiongkok ini. Malahan TKA tiongkok bekerja di negara yang pertumbuhan ekonominya hanya sekitaran 5% seperti di Indonesia.

Janji Pemerintahan Jokowi pada kampanye Pemilu 2014, untuk membuka lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja sampai 10 juta orang Indonesia, apakah sudah terealisasi? Sepertinya jauh panggang dari api, atau jauh api dari panggang? Semua tinggal angan-angan saja.

Lalu menurut anda apa konsekwensi bagi penguasa/pemerintah/petahana yang tidak menepati janjinya?

Buktikan jawaban anda pada 17 April 2019.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER