Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Kabar Bekali Dosen Muda Keterampilan Abad 21

Bekali Dosen Muda Keterampilan Abad 21

Kabar Bekali Dosen Muda Keterampilan Abad 21

Bekali Dosen Muda Keterampilan Abad 21

SEMARANG, WARGASERUJI – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang bekerjasama dengan Tanoto Foundation melalui program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) melakukan kegiatan sharing capacity: pembelajaran aktif dan manajemen berbasis sekolah berbekal kompetensi abad 21 untuk dosen LPTK Mitra program PINTAR Tanoto Foundation di Hotel Puri Garden, 20-22 Maret 2019

Dalam kegiatan tersebut, para peserta dari unsur dosen melakukan sharing knowledge untuk mengembangkan kapasitas terbaiknya dalam menyiapkan mahasiswa calon guru yang memiliki daya saing tinggi. Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Muhibbin M.Ag dalam pembukaan acara di Hotel Puri Garden sehari sebelumnya mengatakan bahwa dalam kesempatan ini yang ditugasi adalah para dosen-dosen muda UIN Walisongo. Dosen-dosen tersebut dinilai memiliki pandangan yang sesuai dengan generasi saat ini. Sehingga mereka akan mudah untuk mengimplementasikan materi yang dilatihkan.

“Tahun 2018, kami menerima 100 lebih dosen baru. Mereka nanti yang akan menyiapkan mahasiswa dengan berbagai kemampuan khususnya di era abad 21. Mereka harus dibekali dengan berbagai kompetensi untuk menghadapinya. Oleh karena itu, kami selalu kirim mereka untuk belajar di banyak- pelatihan seperti ini,” kata Prof Muhibbin.

Tantangan pendidikan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti UIN Walisongo memiliki tanggung jawab untuk terus menyesuaikan diri menghadapinya. Sebagai salah satu lembaga pencetak guru, UIN Walisongo memiliki peran penting untuk menyiapkan generasi yang akan datang dengan tantangan sesuai abad 21 tersebut.


“Tantangan abad 21 khususnya dalam pembelajaran dan perkuliahan ini dikenal sebagai 4C’s atau singkatan dari critical thinking, communication, collaboration, and creativity. Empat keterampilan tersebut oleh pemerintah telah diidentifikasi sebagai keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk pendidikan pada abad ke-21 (P21),” ungkap Koordinator Pelatihan Pendidikan Tinggi Program Pengembangan Inovasi Untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation, Dyah Karyati di sela acara, Jum’at (22/3).

Dalam pelatihan 3 hari tersebut, 43 dosen muda dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Fakultas Sains dan Teknologi (FSaintek) dilatih untuk mengembangkan kompetensi-kompetensi tersebut. Mulai dari pelatihan pembelajaran dan diadaptasi dalam perkuliahan aktif. Kemudian mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi dalam lembar kerja. Mendesain lingkungan perkuliahan aktif dan efektif serta mengembangkan budaya baca dilevel LPTK.

Salah satu dosen UIN Walisongo Dr Saminanto, MSc yang hadir dalam acara tersebut menyebutkan bahwa, keterampilan 4C sudah mulai diterapkan di lingkungan kampus. Bila dalam pelatihan ini semua dosen muda dibekali dengan keterampilan ini, baik secara konsep maupun implementasinya dalam perkuliahan aktif, maka mahasiswa juga akan mudah untuk mengadopsinya.

“Misalnya saya lihat dalam skenario Mengalami, Interaksi, Komunikasi maupun Refleksi (MIKIR) dari PINTAR, yang disusun oleh para dosen saat praktik mengajar. Saya lihat semua sudah mulai menerapkan konsep 4C. Mereka telah  menjabarkan kegiatan untuk mengembangkan kegiatan yang mendorong dalam berpikir kritis, berkreasi, berinovasi, bersikap kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan belajar pro-aktif. Mahasiwa juga mereka dorong untuk bekerja, termasuk berkomunikasi, berkolaborasi, bekerja dalam tim. Dan yang paling penting adalah menterjemahkan kegiatan semuanya melalui cara hidup sebagai warga global sekaligus lokal,” ungkap fasilitator PINTAR dari UIN Walisongo ini.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Loading...

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Anggota TNI Mati Syahid, Bisa?

Jika keadaan dunia berlarut memburuk dan terjadi perang, siapakah yang menjadi garda terdepan bagi bangsa Indonesia kalau bukan TNI? TNI yang hebat layaknya para pahlawan kemerdekaan yang tak takut mati dengan semangat jihadnya.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.