Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Inspiratif Main Mobile Legends Tidak Membatalkan Puasa, Tapi ...

Main Mobile Legends Tidak Membatalkan Puasa, Tapi …

Inspiratif Main Mobile Legends Tidak Membatalkan Puasa, Tapi ...

Main Mobile Legends Tidak Membatalkan Puasa, Tapi …

WARGASERUJI – Anak muda sekarang sangat dimanja. Teknologi dibuat sedemikian sehingga mampu memenuhi hasrat, seperti melalui kecanggihan telepon seluler yang menyediakan berbagai permainan atau game, baik offline maupun online. Apalagi, kalau sedang puasa dan kurang aktifitas di luar. Memang, main Mobile Legends tidak membatalkan puasa, tapi itu tanda kurang mampu menahan diri dari nafsu.

Segala sesuatu yang berlebihan itu pasti mendatangkan dampak negatif. Apalagi, sibuk dengan permainan seperti game lewat ponsel yang bukan kegiatan produktif. Artinya, buang-buang waktu dan tenaga. Namun, apalah artinya stigma ini kalau merasa menikmatinya. Watak dasar manusia memang begitu, menuruti kesenangan menjadi prioritas hidup. Persis perilaku binatang.

Agak naik sedikit, pakai akal. Orang yang pakai akal tidak akan terjerumus terlalu dalam. Pasti suatu saat akan menyadari bahwa ada dampak negatif di sana. Terbukti, banyak yang memutuskan berhenti dan menjauhi kegemaran bermain game tersebut.

Ada satu pelajaran yang bisa dipetik, yaitu kasus seorang perempuan pecandu game Mobile Legends yang terkena stroke di usia 23 tahun. Namanya Mhary Mundoc Idanan, yang menceritakan kisah dirinya di akun Facebooknya. Ia suka memainkan game Mobile Legends sampai mengorbankan tidurnya gara-gara mengejar peringkat. Saat bercerita, ia tunjukkan foto dirinya sedang dirawat di rumah sakit.


Terkait penggunaan gadget, sudah banyak penelitian yang membuktikan efek buruk jika digunakan secara berlebihan. Misal, penelitian oleh University College London yang menyebutkan terjadinya gangguan peredaran darah jika menghabiskan waktu bermain gadget selama empat jam. Makanya, ancaman paling riskan adalah terkena stroke.

Naik paling tinggi, pakai sadar spiritual. Manusia menjadi makhluk paling mulia jika menjauhi sifat hewaniah. Hanya yang sadar secara spiritual yang mampu meletakkan tanggungjawab di atas hawa nafsu. Dunia adalah sementara, akhiratlah yang kekal.

Orang-orang yang sadar secara spiritual, tidak mungkin terkecoh dengan kesenangan. Mereka mampu bahagia tanpanya. Kalau semua orang di bumi ini seperti itu, dunia akan sangat tenang dan nyaman. Alhamdulillah, tidak. Agar ada usaha untuk memperbaikinya, sehingga ada balasan yang kelak akan diterima di akhirat yang abadi.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Loading...

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Anggota TNI Mati Syahid, Bisa?

Jika keadaan dunia berlarut memburuk dan terjadi perang, siapakah yang menjadi garda terdepan bagi bangsa Indonesia kalau bukan TNI? TNI yang hebat layaknya para pahlawan kemerdekaan yang tak takut mati dengan semangat jihadnya.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.