WARGASERUJI – Al Quran adalah “surat-surat” Tuhan kepada manusia. Diturunkan empat belas abad yang lalu melalui utusan-Nya. Utuh hingga saat ini. Salah satu “surat” seolah-olah ditujukan untuk manusia modern saat ini, bernama At Thariq, atau disebut Pulsar.
Dinamakan At-Thariq karena dalam surat tersebut terdapat kata At-Thariq. Dalam Tafsir Ibnu Katsier, Ath-thariq ditafsirkan dengan kata “mendatangi”. Tafsir ini mengambil sebagian makna dari kata tersebut yang secara terjemah bahasa berbunyi “mengetuk”, dalam konteks mengetuk pintu seseorang, yang berarti mendatangi seseorang.
Pada zamannya Ibnu Katsir, makna mendatangi lebih masuk akal daripada mengetuk. Mungkin, “bintang mengetuk” terasa tidak masuk akal saat itu. Kemudian, pada ayat selanjutnya dijelaskan apa itu Ath-Thariq. Ath-Thariq adalah bintang yang “menembus”. Maknanya jelas, dan ditafsirkan demikian oleh Ibnu Katsir. Namun, apakah orang sezamannya paham maksud “menembus” itu?
Bagi orang Arab yang berbasis bahasa lisan, ayat awal dari Surat Ath-Thariq adalah sebuah keindahan. Orang Arab kuno sudah mengenal sastra, dengan keindahannya saat diucap dan didengarkan. Namun, Surat Ath Thariq bukan syair, melainkan fakta.
Dijelaskan Tuhan bahwa Ath Thariq adalah bintang, bukan bintang sembarang bintang, melainkan bintang “menembus”. Obyeknya jelas. Kalau begitu, yang mana?
Ternyata, kalangan astronomlah yang menemukan bintang yang dimaksud. Bintang itu disebut Pulsar, yang berarti “pulsate star“. Pulsar adalah sebuah bintang neutron berputar yang mengeluarkan sinar radiasi elektromagnet.
Kata “pulsate” memiliki makna “mengeluarkan suara” secara periodik. Kata tersebut berasal dari bahasa latin “pellere” yang berarti “memukul, mengetuk”.
Jika Surat Ath-Thariq disampaikan kepada para astronom masa kini, pasti mereka sangat familiar dengan kata “bintang pengetuk”. Pulsar yang ditemukan pada 28 November 1967 dengan bantuan teleskop, memiliki sifat sama dengan yang dijelaskan dalam surat tersebut.
Itulah tanda, bahwa Surat At Thariq bukan hanya untuk manusia zaman dulu, melainkan juga untuk manusia modern.
Apakah hanya itu tandanya? Tidak.
Di ayat 11, disebut “Dan langit yang mengandung hujan”, jika sesuai tafsir Ibnu Katsir. Kata “mengandung hujan” adalah penafsiran dari kata الرجع, bermakna “mengembalikan”. Jadi, jika mengikuti kata tersebut, ayatnya menjadi berbunyi “dan langit yang mengembalikan”.
Kalimat “dan langit yang mengembalikan” ini lebih familier didengar oleh saintis modern. Berdasar penelitian, diketahui bahwa bumi memiliki beberapa atmosfir di angkasa (sebut saja langit) yang berfungsi memantulkan sinar-sinar berbahaya dari luar angkasa. Luar biasanya, ayat selanjutnya menjelaskan tentang “bumi yang memiliki tumbuh-tumbuhan”, yang berarti kehidupan.
Jadi, Surat At-Thariq ini benar-benar merupakan pesan yang ditekankan ke manusia modern, khususnya para saintis. Siapa yang menyampaikan ke mereka kalau begitu?