Saatnya Fokus Kepada Perubahan Hakiki

Saatnya Fokus Kepada Perubahan Hakiki

Sabtu (28/9) Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) dan berbagai ormas lainnya menggelar Aksi Mujahid 212 dari Bundaran HI  menuju Istana Presiden. Aksi ini dilaksanakan pukul 08.00 WIB. Acara tersebut bertajuk Tauhid untuk Selamatkan Negeri, Tausiyah, Pawai Bendera Tauhid dan Doa untuk Negeri. Aksi ini juga bertujuan untuk menyuarakan sejumlah protes terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Saat ini, Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Berbagai permasalahan terus menghujani negeri ini, mulai dari karhutla yang menyesakkan dada, ancaman disintergrasi, terutama disintegrasi Papua yang kian hari menambah korban jiwa, ekonomi Indonesia yang semakin buruk, yang juga menyebabkan semakin meroketnya utang Indonesia. Per juli 2019, utang Pemerintah Pusat sudah mencapai angka Rp. 4.603, 62 triliun. Hingga berbagai permasalahan lainnya yang terus menambah kekaucauan negeri ini.

Dengan berbagai permasalahan yang sudah tampak nyata, kini masyarakat sudah menyadari betapa terpuruknya Indonesia saat ini. Berbagai aksi mulai disuarakan di berbagai pelosok negeri. Berbagai bentuk protes dan kritik mulai dilontarkan berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali mahasiswa yang merupakan agen of change.

Namun, yang harus menjadi fokus hari ini adalah bukan sekedar menuntut suatu perubahan belaka, tetapi tidak memahami ke arah mana perubahan itu ingin dituju, serta apakah perubahan tersebut dapat menyelesaikan permasalahan negeri ini sampai ke akarnya dan bersifat hakiki. Atau perubahan semu yang membabat masalah yang muncul di permukaan saja, dan sekedar menjadi semangat yang berkobar sementara lalu menghilang begitu saja.

Suatu masalah tidak akan timbul tanpa ada penyebabnya. Begitu pun dengan masalah Indonesia hari ini, tentu memiliki penyebab yang harus di cabut sampai ke akarnya agar tidak tumbuh kembali.

Penyebab rusaknya Indonesia hari ini, tidak lain karena tidak diterapkannya hukum Allah Swt yang berdasarkan al-Quran dan Hadis. Akar semua permasalahan hari ini adalah karena Indonesia masih menerapkan hukum buatan manusia, yaitu sistem demokrasi kapitalis.

Dalam sistem demokrasi kapitalis, agama dipisahkan dari kehidupan manusia. Mengganggap Allah Swt tidak berhak mengatur manusia, kalaupun ingin memakai ayat al-Quran harus berdasarkan persetujuan manusia dengan suara terbanyak di parlemen. Dalam sistem ini, hukum dibuat berdasarkan keinginan dan pemikiran manusia yang bersifat lemah, terbatas, dan serba kurang. Sejatinya, manusia bahkan tidak mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Toh lagi membuat hukum untuk seluruh umat manusia.

Allah Swt berfirman: “Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaaan buta (TQS  Thaha [20]: 124)”.

Dalam ayat tersebut Allah Swt telah memperingatkan akibat di dunia maupun akhirat, dari pilihan meninggalkan Syariah-Nya. Allah akan memberikan penghidupan yang sempit, yakni tidak ada ketentraman bagi dirinya dan tidak ada kelapangan di hatinya, meskipun lahiriahnya merasakan kenikmatan. Maka jelas, semua permasalahan yang menimpa Indonesia saat ini bentuk peringatan Allah, akibat meninggalnya Syariah-Nya.

Maka, untuk membawa Indonesia kepada perubahan hakiki dan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi, solusi satu-satunya yang tidak bisa ditawar lagi adalah kembali kepada hukum Allah Swt yang Maha tahu tetang baik burukya sesuatu bagi manusia.

Umat manusia dengan diterapkannya Syariah secara kaffah akan terbebas dari penghambaan kepada manusia. Islam memberikan pemeliharaan dan perlindungan kepada setiap warga negara (Muslim dan non-Muslim), serta memberikan kesejahteraan dan keadilan di tengah-tengah umat manusia. Negara Islam menjamin segala kebutuhan pokok warga negara seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Saat umat manusia hidup dalam naungan Islam selama 14 abad negera Islam yang pernah menguasai hampir 2/3 wilayah di dunia, tidak pernah terjadi penjajahan, diskiriminasi, maupun eksploitasi terhadapat warga negara. Karena yang diterapkan adalah aturan Allah Swt.

Maka, yang harus kita lakukan saat ini adalah berdakwah fokus kepada memperjuangan perubahan hakiki yang hanya bisa dicapai dengan menerapkan Syariah-Nya secara menyeluruh. Seperti yang dilakukan oleh Rasullullah Saw yang terbukti sukses mengubah masyarakat jahiliyah menjadi peradapan yang cemerlang. Wallahu a`lam bishawab.

Fadilah Rahmi

Mahasiswi FKIP UMSU

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Perasaan Hati dan Ukuran Cinta

Rasa cinta yang mendalam itu sering kali tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata, kecuali hanya sebagian kecil saja, namun jika cinta sudah melekat di dalam...

Jaringan Irigasi Kota Magelang, Karya Teknologi Peninggalan Belanda

Magelang , Sebentar lagi berulang tahun .11 April  907 ditetapkan sebagai  Hari Jadi Kota Magelang  dan sekarang menginjak tahun ke 1.111.Sungguh usia yang sudah...

Mengenal Pendidikan Vokasi ; Trend Pendidikan Masa Depan

Pendidikan adalah bekal masa depan yang paling utama. Tanpa pendidikan,  orang sulit meraih masa depan yang baik. Sayangnya kebanyakan orang menganggap remeh dengan pendidikannya,...

Mengapa Allah Bertanya Kepada Isa?

Isa dianggap oleh sebagian umat Nashrani sebagai anak Allah, juga disandingkan dalam sesembahan disisi Allah bersama ibunda Maryam. Mengapa Allah bertanya kepada Isa tentang apa yang dilakukan sebagian umat Nashrani itu?
close