Pedas-Pedas Harga Cabai: Solusi Islam dalam Atasi Persolan

Pedas-Pedas Harga Cabai: Solusi Islam dalam Atasi Persolan

WARGASERUJI – Beberapa pekan terakhir terjadi kenaikan harga cabai secara terus menerus di sejumlah pasar tradisional di Medan, Sumatera Utara. Bahkan, Bank Indonesia (BI) menyampaikan inflasi di bulan Agustus dipengaruhi harga cabai.

Jika sebelumnya harga cabai berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram (kg), kini harga cabai merah mencapai Rp90 ribu hingga Rp 100ribu per kg.

Dilansir dari kompas.com (3/6/2019) sejumlah pedagang mengemukakan, selain permintaan tinggi, kenaikan harga komoditas disebabkan pasokan dari sentra pertanian yang berkurang. Cuaca hujan menyebabkan produksi cabai menurun.

Kenaikan harga cabai di berbagai titik di Indonesia bukanlah sesuatu permasalahan yang asing bagi masyarakat. Inflasi cabai merupakan masalah langganan yang terus terjadi setiap tahunnya, terutama pada saat mendekati Hari Raya Idhul Fitri dan Idhul Adha.

Fluktuasi harga cabai membuat banyak masyarakat kecewa dengan bentuk pemerintahan yang diterapkan. Pada 15 Januari 2019 (tirto.id) sejumlah petani di Demak, Jawa Tengah, membuang cabai di jalan sebagai bentuk protes akibat produksi cabai di daerah sentra yang sedang melimpah  berdampak pada penurunan harga jual. Mereka juga meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) dan Dinas Perdagangan untuk mengintervensi harga.

Menurut Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Dwi Andreas Santoso, turunnya harga cabai disebabkan produksi yang terkonsentrasi di salah satu masa panen. Keadaan tersebut diperburuk dengan sifat produksi cabai yang bergantung pada musim. Selain itu, cabai cepat rusak sehingga tidak dapat disimpan dalam jangka waktu lama.

Di tengah kekecewaan petani, pedagang dan konsumen cabai, Sekretaris Komisi I DPRD Medan, M Nasir, menyebutkan kenaikan harga cabai yang cukup signifikan seharusnya diantisipasi sejak dini. Antisipasi dapat dilakukan dengan berbagai macam program untuk mengajari masyarakat bisa mengembangkan jenis tanaman pangan ini di pekarangan rumah masing-masing.

Pernyataan tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan, mengingat beberapa solusi tak masuk akal memang sering dilontarkan oleh pemerintah negeri ini. Solusi tersebut bukanlah solusi yang tepat dalam mengatasi mahalnya harga cabai. Sebab, permasalahan inti yang tengah dihadapi masyarakat saat ini bukan kurangnya ketersediaan cabai, sehingga mereka harus menanamnya sendiri untuk memenuhi konsumsi.

Masalah sebenarnya adalah mahalnya harga cabai akibat rantai niaga untuk sampai ke tangan konsumen. Terlebih lagi adanya kartelisasi terhadap produk pangan, khususnya cabai, yang menyebabkan terjadinya pengendalian harga oleh beberapa perusahaan.

Rasullullah SAW sangat menganjurkan agar umat Islam segera mendistribusikan barang dan jasa yang berupa penyaluran atau penyampaian barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Hal tersebut bertujuan agar tersalurkannya barang hasil produksi sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas dan orang yang mendistribusikan mendapatkan keuntungan.

Artinya, dalam Islam penimbunan suatu barang dan menjualnya saat barang tersebut langka dan harganya naik di pasaran agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar, merupakan suatu perbuatan yang salah dan merusak kepentingan sosial. Islam melarang kartelisasi, sebab akan menimbulkan kesenjangan sosial, khususnya di bidang ekonomi

Karena itu Islam perlu diterapkan secara menyeluruh. Sebab, Islam mempunyai solusi tuntas dalam mengatasi suatu permasalahan, termasuk dalam bidang ekonomi. Sistem Islam selalu menjamin ketersediaan bahan pangan dan distribusi yang merata. Sehingga, tidak terjadi kenaikan harga terus menerus.

Fadilah Rahmi
Mahasiswi FKIP UMSU

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Mengapa Quran Bukan Tulisan di Atas Kertas?

Andai Al Quran diturunkan dengan tulisan di atas kertas, pasti akan menakjubkan. Tapi, mengapa bukan? Kalau pun diturunkan dengan cara menakjubkan, apa kemudian orang-orang kafir itu beriman?

Pembubaran PT: Prosedur dan Akibat Hukum Pembubaran Berdasar RUPS

Pada tahun 2007 Audi, Aryanda dan Chico mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT AAC, yang bergerak di bidang perdagangan. Namun karena kesibukan...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.
close