Follow SERUJI

96,291FansSuka
396PengikutMengikuti
6,765PengikutMengikuti
668PelangganBerlangganan

Semakin Bodoh, Sehingga atau Karena Ditertawakan?

Teringat pernah lihat film tentang sekolah, sebuah cerita komedi aksi. Penuh dengan kelucuan. Sayangnya, banyak dalam bentuk mentertawakan kesalahan orang lain, dan ditonton anak-anak pula.

Seorang ustadz Bahasa Arab pernah bercerita ketika belajar di Pondok Gontor. Di sana jika ada yang mentertawakan kesalahan teman di dalam kelas, akan dihukum. Kata ustadz itu, santri-santrinya jadi pemberani untuk mencoba melakukan percakapan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Ia juga mengisahkan, bahwa para syaikh di Arab sangat heran dengan kelas di Indonesia yang isinya murid yang suka mentertawakan temannya yang salah. Para syaikh tak pernah sedikitpun mentertawakan murid-muridnya ketika berada dalam majelis ilmu, katanya.

Darimana datangnya sikap buruk itu? Apakah sistem pendidikannya?

Kalau mencari-cari kesalahan dari faktor-faktor luar tanpa pernah mempersoalkan sistem pendidikannya, ya jelas fatal. Pasti ada kesalahan dalam sistem, walau sebagai salah satu faktor di antara faktor lainnya.

Sistem mempengaruhi paradigma. Tujuannya barangkali baik, tapi paradigma yang terbentuk sangat buruk. Contohnya, ujian kelulusan yang tujuannya jelas baik, agar punya kompetensi standar atau minimal. Paradigma masyarakat memburuk, karena pendidikan dianggap lembaga formalistik dan kehilangan fungsi utamanya : mendorong belajar sepanjang hayat.

“Standar” atau “kompetensi minimal”, menyisakan masalah besar. Selain pembelajaran menjadi hampa karena sudah tidak lagi berupa ketertarikan terhadap apa yang dipelajari, juga menggeser motivasi belajar menjadi motivasi sekedar lulus.

Lihat saja, sekolah-sekolah begitu bersemangat mengadakan try out hinga puluhan kali. Serasa berlomba-lomba menjadi yang terbaik, di nilai ujian. Parahnya, regulasi dinas pendidikan pemerintah daerah menggunakannya untuk seleksi masuk di tingkat berikutnya.

Tanpa sadar, cara pandang “lulus atau tidak lulus” menyelimuti suasana psikologis di kelas. Lulus identik dengan pujian, tidak lulus dengan celaan. Semakin ditekan dengan berbagai latihan soal, semakin membawa ke anggapan: benar agar dipuji, salah akan dicaci.

Takut salah itu bukan genetik. Bayi amat suka mencoba-coba, dan selalu melakukan kesalahan namun tetap senang. Bahkan, orang dewasa di sekitarnya juga senang dan tak menyalahkan. Benar bukan?

Semakin meninggi tingkat pendidikan, di Indonesia terutama, semakin pasif. Memang tidak bisa digeneralisir, tetap ada sekolah-sekolah anti mainstream seperti Pondok Pesantren Gontor yang diceritakan ustadz tadi. Namun, secara umum, begitulah keadaan kelas-kelas di Indonesia.

Sebenarnya, sudah ada arah perubahan sistem yang lebih baik, termasuk perubahan kurikulum. Namun, sayangnya ranah pendidikan masih sangat bergantung situasi politik. Ganti menteri, ganti kebijakan dan seringnya mundur ke belakang. Masih ingat ketika Mendiknas Anies Baswedan membatalkan berlakunya kurikulum baru dengan alasan sekolah-sekolah belum siap?

Barangkali, memang tidak bisa menggantungkan diri ke pemerintah yang selalu berganti. Bisa dimulai dengan anak sendiri, teman-teman anaknya, atau komunikasi dengan para guru secara formal maupun informal, untuk mengkampanyekan “anti mentertawakan” di manapun situasi dan kondisinya.

Hanya itu yang bisa diusahakan, karena mengubah paradigma para pelaku pendidikan itu seperti memindahkan bukit, perlu waktu dan kerjasama, serta tentu saja kekuasaan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.
*Penulis adalah mantan guru SD

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih

YANG LAGI PRO-KONTRA

Konsep Kampanye Konser Lebih Mencerminkan Keindonesiaan dibanding Konsep Kampanye Subuh Berjamamaah?

Saya bertanya lagi dalam hati, apakah konsep kampanye konser lebih mencerminkan keindonesiaan daripada konsep kampanye subuh berjamaah? Bukankah nyanyian juga merupakan ciri khas ibadah agama tertentu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Generasi Sehat Dambaan Umat

WARGASERUJI - Generasi muda adalah aset yang tiada tara nilainya. Generasi menjadi tonggak awal dalam penentu kebangkitan suatu bangsa. Jika kondisi generasi sakit maka...

Dukungan Sekaligus Nasehat Ust. Salim A Fillah Untuk Prabowo

WARGASERUJI - Ust. Salim A Fillah, ustadz penggiat masjid Jogokariyan yogyakarta melalui akun twitternya @salimafillah menyatakan dukungan kepada capres Prabowo Sandi, tapi bukan dukungan...

Derita Muslim Harus Diakhiri

Sementara di bumi Palestina tepatnya wilayah Gaza, kembali memanas. Serang militer Israel kembali dilakukan untuk mengepung Gaza. Sampai kapan derita umat Islam atas kekejian musuh-musuh Islam akan berakhir?

Mengapa Anakku Nakal?

WARGASERUJI - Secara sadar maupun tidak, sering kita menemui sebuah keluhan dari orang tua mengenai anak-anak mereka. Pertanyaan ‘Mengapa anakku nakal?’, ‘Mengapa anakku bermasalah?’...

Hipokrit HAM, Langgengkan Penjajahan

Di Tepi Barat hidup sekitar 400 ribu warga Yahudi, dan 200 ribu lainnya di Yerussalem Timur. Disisi lain, Israel juga berniat mendirikan negara di Tepi Barat yang memang ditinggali sekitar 2,5 juta warga Palestina.

Kebijakan Suatu Negeri Dalam Lingkaran PBB

WARGASERUJI - Tidak sah rasanya jika esensi suatu negeri tidak bergabung pada PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Keberadaan PBB diharapkan dapat menjadi pemersatu negeri-negari di...

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Inilah Orasi Terbaik Prabowo versi Anis Matta

Dia mencatat ada ungkapan terbaik yang dilontarkan Prabowo pada orasinya pagi tadi di acara tersebut, yaitu saat Prabowo mengatakan, “Saya ingin mewakafkan sisa hidup saya untuk rakyat.”

Dukungan Sekaligus Nasehat Ust. Salim A Fillah Untuk Prabowo

WARGASERUJI - Ust. Salim A Fillah, ustadz penggiat masjid Jogokariyan yogyakarta melalui akun twitternya @salimafillah menyatakan dukungan kepada capres Prabowo Sandi, tapi bukan dukungan...

Generasi Sehat Dambaan Umat

WARGASERUJI - Generasi muda adalah aset yang tiada tara nilainya. Generasi menjadi tonggak awal dalam penentu kebangkitan suatu bangsa. Jika kondisi generasi sakit maka...

Kebijakan Suatu Negeri Dalam Lingkaran PBB

WARGASERUJI - Tidak sah rasanya jika esensi suatu negeri tidak bergabung pada PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Keberadaan PBB diharapkan dapat menjadi pemersatu negeri-negari di...