Follow SERUJI

94,949FansSuka
396PengikutMengikuti
6,616PengikutMengikuti
729PelangganBerlangganan

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

WARGASERUJI – Salah satu topik yang muncul saat diskusi yang digagas oleh FORPI Sleman, pada hari Kamis (23/5) di salah satu ruangan Setda Sleman, adalah ide kewirausahaan terkait sampah dari salah satu narasumber. Ide menarik ini muncul saat banyaknya komunitas pengelola sampah yang hidup segan mati pun tak mau. Bisakah muncul pengusaha sampah?

Pengusaha selalu berpikir meraup keuntungan. Sedangkan sampah seringkali menjadi beban. Dua aspek yang bertentangan ini cukup menantang untuk dipecahkan. Bisakah keuntungan lebih tinggi dari beban?

Pertama, hitung beban. Sampah sudah menjadi beban ketika mulai dari penimbulnya. Butuh tempat, butuh kerja pemindahan, butuh kerja pengkondisian dan lain-lain. Karena beban, maka dihitung biaya sebagaimana pabrik yang mempekerjakan buruhnya.

Namun, di sebalik beban pasti ada celah peluang. Penimbul sampah tentu mengikuti hukum sampah: tak mau ketempatan sampah. Artinya, masalah bagi dirinya. Selain itu, penimbul sampah pastilah lebih suka praktis, tidak repot harus pilah-pilah sampah. Kalau bisa tidak perlu keluar rumah hanya untuk buang sampah.

Maka, usaha pertama yang muncul: jasa jemput sampah. Ini sudah berjalan, dilakukan oleh beberapa anggota warga dari sebuah lingkungan kampung atau dusun.

Tapi, muncul masalah. Pengusaha jasa jemput sampah perlu tempat sampah sementara sebelum diproses selanjutnya. Muncul usaha berikutnya, tempat penampungan sampah sementara.

Sampai di sini, beban tetap dilimpahkan kepada penimbul sampah. Sedangkan sampahnya sendiri nilai ekonominya masih nol.

Maka, usaha berikutnya jasa pemilahan sampah. Usaha ini tidak dibebankan ke penimbul sampah, melainkan oleh pihak yang ingin memanfaatkan sampah. Contohnya, ada pengusaha pengepul kertas bekas, atau yang lain-lainnya. Namun, apakah setelah dipilah kemudian dijual bisa tetap untung setelah dikurangi beban kerja?

Pengusaha pengguna sampah terpilah, tentu juga tidak mau terlalu membayar mahal. Jika terlalu mahal, akan kesulitan mengambil keuntungan.

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam.

Reabilitas Peluang Usaha Sampah

Sampai di sini, bisa disimpulkan ada beberapa usaha yang muncul dari sampah:

  1. Usaha jasa pungut sampah
  2. Usaha penampungan sampah sementara
  3. Usaha pemilahan sampah
  4. Usaha pengolah sampah plastik non daur ulang
  5. Usaha pengolah sampah organik
  6. Usaha penyalur sampah daur ulang
  7. Usaha lain yang membutuhkan hasil pengolahan sampah

Karena semua usaha tersebut saling bergantung, maka keberlanjutan atau kontinyuitas menjadi penting. Jika tidak ada market pasar yang menerima produk hasil pengolahan sampah, proses akan berhenti dan sampah akan kembali menumpuk.

Kabupaten Sleman sudah mengawali membuat kebijakan yang dipandang strategis. Melalui Dinas Lingkungan Hidup, Pemkab Sleman membeli pupuk kompos dari pengolahan sampah organik yang dilakukan masyarakat.

Nantinya, bisa lebih ditingkatkan dari sisi regulasi. Misal, beberapa proyek jalan dan taman dari dinas lain wajib menyerap hasil produk pengolahan sampah. Bahkan, bisa berperan seperti Bulog, menampung dan memasarkan dari pengusaha-pengusaha pengolahan sampah.

Selain usaha tingkat mikro dan menengah, bisa pula dikembangluaskan hingga tingkat rumah tangga. Penemuan Kandang Magot “Three in One” oleh Henry Supranto dan Reaktor Cacing karya Puji Hery Sulistyono adalah contoh pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga. Tinggal nanti dipikirkan bagaimana hasil pengolahan itu bisa diserap kemudian dikirimkan ke pengguna yang membutuhkan.

Untuk nilai tambah yang lebih besar lagi, bisa saja ada pengusaha yang mengintegrasikan dengan budidaya, misalnya. Sampah organik hasil pemilahan diterima dan kemudian diolah menggunakan media lalat Magot dan Reaktor Cacing. Hasilnya langsung dipakai sendiri untuk budidaya seperti untuk pakan unggas dan ikan.

Kesimpulannya, sampah bisa menjadi lahan usaha yang menarik. Seperti jargon kewirausahaan, setiap timbul masalah dalam hidup pasti muncul peluang. Atau dalam ayat “Setiap kesukaran, selalu bersama kemudahan”. Tinggal kemudian Pemerintah Kabupaten membuat roadmap bersama stake holder terkait untuk melaksanakannya, sehingga masyarakat bisa menempatkan diri sebagai pengusaha sampah.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih

YANG LAGI PRO-KONTRA

Lawan Negara, Kapitalis Apa Mau Kehilangan?

Sifat kapitalis itu berkuasa dengan modal. Oleh karena itu selalu dicari cara agar modal bertambah. Kata halusnya, "value" harus selalu naik. Sehingga, kapitalis tak mau kehilangan apapun, tanpa ganti yang sepadan atau lebih tinggi. Termasuk, ketika "melawan" negara.

Poligami Itu Berat, Kami Saja

adi, dua syarat agar bisa adil itu perlu dipenuhi. Karena tidak sembarang orang bisa, "poligami itu berat, kami saja". Tentu, niat utama juga harus benar, yaitu niat berbagi. Bukan niat mencari nikmat di atas penderitaan para istri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Mencari Tuhan yang Mana Lagi?

Perbedaan dalam beragama seringkali berpangkal kepada perbedaan siapa yang dituhankan. Orang-orang musyrik menuhankan Allah, namun juga menuhankan selain Allah. Maka, Islam mempertanyakan kepada manusia, mencari tuhan yang mana lagi kalau bukan Sang Pencipta Alam, Tuhan segala sesuatu.

Penguasa Itu Ujian Bagi Umat Manusia

Orang yang berkecimpung di dunia politik selalu melihat penguasa sebagai sebuah posisi yang diperebutkan. Sebaiknya, melihat penguasa itu sebagai ujian bagi umat manusia.

Mana Agama yang Benar?

Jawabannya sederhana sebenarnya. Agama sesuai petunjuk dari Tuhan, itu jawabannya. Agama wahyu. Bukan sekedar agama yang berasal dari hasil pikir manusia.

Ada Niat Baik Tuhan Kepada Manusia

Untuk apa manusia diciptakan? Untuk beribadah kepada Allah. Namun, bukan dalam status "diperas" seperti budak. Manusia yang "lolos uji" itu hendak diberi karunia. Ada niat baik Tuhan kepada manusia. 

Agama yang Benar Itu Satu

Agama itu asalnya satu dari Tuhan yang satu. Pemahaman yang sesat selalu mengarah agar manusia menganggap agama yang benar itu tidak satu.

Ini Jalan yang Lurus

Setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan kesesatan kaum musyrikin dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, maka kemudian ayat-ayat berikutnya tentang halal dan haram berdasarkan wahyu Allah. Itulah jalan yang lurus, yaitu mengikuti perintah Allah dengan tidak mengikuti perintah-perintah selain Allah.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Mana Agama yang Benar?

Jawabannya sederhana sebenarnya. Agama sesuai petunjuk dari Tuhan, itu jawabannya. Agama wahyu. Bukan sekedar agama yang berasal dari hasil pikir manusia.

Pokok-pokok Haram: Musyrik, Durhaka, Keji dan Membunuh

Tuhan mengharamkan manusia untuk berlaku syirik, durhaka kepada orang tua, berlaku keji serta membunuh jiwa tanpa hak. Itulah pokok-pokok haram. Hal ini diungkapkan dalam ayat setelah beberapa ayat sebelumnya menjelaskan panjang lebar perilaku kaum musyrikin yang suka mengharamkan tanpa dasar.

Ustadz Cilik Wildan, Ternyata Baru Klas 6 SD Muhammadiyah Plus Salatiga

Ketika membaca pengumuman Hari Bermuhammadiyah yang rutin diselenggarakan oleh PDM Kota Semarang  dengan menghadirkan  penceramah Ustadz Cilik Wildan, dalam hati saya bertanya,  Apakah sudah...