SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Jika Ada Warga NU Radikal, Maka Perlu Dipertanyakan ke-NU-annya

Jika Ada Warga NU Radikal, Maka Perlu Dipertanyakan ke-NU-annya

Oleh : Suhud Mas’ud

Belakangan ini sering kita lihat ada oknum Banser yang terkesan arogan dan radikal dalam tindakannya. Baik itu secara langsung maupun melalui video yang diunggah di media sosial. Sebagai sesama warga Nahlatul Ulama’ (NU) tentunya penulis ingin mengingatkan, berbagi pengalaman dalam mendedikasikan diri untuk organisasi NU.

Sahabatku warga Nahdliyyin.
Menyikapi insiden pembakaran Bendera Tauhid yang terjadi pada upacara Hari Santri di Garut Jawa Barat beberapa hari lalu, dalam kacamata penulis tindakan itu tidaklah benar. Karena bendera tauhid itu milik semua umat Islam, tanpa terkecuali termasuk warga NU dan eks anggota HTI itu sendiri.

Menyeruaknya kabar bahwa itu adalah bendera HTI mestinya itu perlu pembuktian, samakah bendera itu dengan bendera Ormas HTI yang saat ini tengah dilarang oleh Pemerintah Indonesia. Meskipun itu benar adanya, kita tidak boleh menjadi hakim karena masih ada pihak yang berwenang.

Sebagai warga Nahdliyyin hendaknya kita bisa mengendalikan diri atas apa yang kita hadapi. Bukankah Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) mengajarkan agar kita lebih mengasihi dan menyayangi kepada siapapun dan dari kelompok manapun. Tak terkecuali sebuah benda-benda atau atribut yang ada di dalamnya.

Warga NU selama ini terkenal akan luwesnya, terkenal akan bijaksananya. Jika menghadapi bendera bertuliskan lafadz tauhid saja sudah marah dan membabibuta dan membakarnya, lantas bagaimana implemetasi dari Islam Nusantara itu sendiri.

Ada beberapa catatan penting yang perlu kita garis bawahi sebagai bahan intropeksi kita bersama.

Pertama, NU ada karena masyarakatnya ada. Mereka ini (Nahdliyyin)  awalnya dari berbagai golongan dan profesi. Karena NU dinilai bisa mewakili semua kalangan, maka mereka tertarik dan akhirnya menjadi satu kesatuan dalam panji bendera NU.

Kedua, NU itu hidup di berbagai daerah dan di tengah-tengah masyarakat multikultur. NU dengan Bansernya bukan hanya di Pulau Jawa saja, hal ini perlu menjadi bahan  pertimbangan dampak seperti apa dari sebuah peristiwa yang dilakukan di daerah lain.

Ketiga, NU itu harus merangkul bukan memukul. Mengapa garda NU saat ini terkesan lepas kendali dan lebih terlihat memukul daripada merangkul. Bukankah ini sama persis dengan kelompok yang mendapatkan label radikal.

Keempat, Ormas HTI sudah bubar, hendaknya eks anggotanya itu dirangkul, didekati dan diajak bersama-sama dalam syiar agama Islam.  Jangan malah sebaliknya, mereka kita musuhi, kita libas, kita gebuk dan lain sebagainya.

Kelima, selama ini NU lebih memilih cara yang paling baik dari yang baik dalam menyelesaikan persoalan. Lantas insiden pembakaran bendera tauhid itu anda di posisi Ormas yang mana?. Jika sahabat mengaku NU namun dengan tindakan arogan, anarki serta radikalisme seperti itu, tentu kami warga Nahdliyyin akar paling bawah ini akan mempertanyakan keaslian anda sebagai warga Nahdliyyin asli ataukah NU abal-abal.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

5 KOMENTAR

  1. Ini baru pendapat warga NU yang tulen.
    Yang mendudukkan masalah pada proporsinya.
    Kalau semua warga NU, termasuk para pemimpinnya mempunyai cara berpikir seperti ini bukan tidak mungkin NU bisa kembali menjadi organisasi besar yang sejuk.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER