Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Kabar Dua Siswa SMP Mitra Tanoto Foundation Masuk Finalis FLS Tingkat Nasional...

Dua Siswa SMP Mitra Tanoto Foundation Masuk Finalis FLS Tingkat Nasional 2019

Kabar Dua Siswa SMP Mitra Tanoto Foundation Masuk Finalis FLS Tingkat Nasional...

Dua Siswa SMP Mitra Tanoto Foundation Masuk Finalis FLS Tingkat Nasional 2019

WARGASERUJI, JAMBI – Dua siswa binaan Tanoto Foundation dari SMPN 3 Batang Hari dan SMP IT Ash-Shiddiiqi Batang Hari Provinsi Jambi, berhasil lolos menjadi finalis Festival Literasi Sekolah (FLS) tingkat nasional jenjang SMP tahun 2019.

Kegiatan festival literasi sekolah tingkat nasional tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan akan dilaksanakan di Jakarta, Kamis-Senin, tanggal 25 sampai 29 Juli 2019 mendatang.

Kepastian keberhasilan siswa binaan Tanoto Foundation menembus lomba literasi tingkat nasional tersebut melalui surat keputusan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama bernomor 2013/D3/KP/2019 tentang penetapan finalis festival literasi sekolah (FLS) SMP tingkat nasional tahun 2019. Dua siswa tersebut adalah Rizki Pratama (kelas VIII) untuk ketegori cipta cerpen dan Nafisa Khairani Ariefa (kelas VIII) untuk kategori story telling.

Rahmini, kepala SMPN 3 Batang Hari, mengakui tidak menyangka bisa meloloskan satu peserta dengan kategori story telling.


“Bangga dan terharu, saya selalu mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas salah satunya program story telling di sekolah,” jelasnya saat dihubungi, Senin, (17/06/19).

Lolosnya Nafisa Khairani Ariefa ke tingkat nasional, kata Rahmini, merupakan hasil dari usaha guru dalam mengembangkan literasi sekolah.

“Story telling menjadi menu utama pembelajaran di SMPN 3 Batang Hari, siswa tidak hanya menghafal, namun juga menalar apa yang telah dibacanya,” ujarnya.

Rita Fitria, kepala SMP IT Ash-Shiddiiqi, juga mengaku bangga siswanya masuk finalis festival literasi sekolah tingkat nasional,

“Guru yang mengikuti program PINTAR Tanoto Foundation membuat program menulis cerpen, dari program tersebut anak semakin percaya diri untuk membuat cerpen dengan didampingi guru,” tukas Rita.

Sebagai persiapan di tahap selanjutnya, baik Rahmini maupun Rita, keduanya kompak akan melakukan pembinaan secara mendalam di sekolah.

“Harapan kami semoga di tahap selanjutnya mendapatkan hasil yang terbaik dengan persiapan yang maksimal,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Hari Jambi, Jamilah bersyukur putra-putri terbaik Batang Hari lolos menjadi finalis festival literasi sekolah tingkat nasional.

“Bangga ya, siswa yang lolos finalis festival literasi sekolah tingkat nasional tersebut sekolahnya menjadi mitra program PINTAR Tanoto Foundation, jadi saya ingin praktik baik yang dilakukan oleh Tanoto Foundation disebarluaskan melalui diseminasi,” pungkasnya.

Jamilah berharap lolosnya dua siswa terbaik Kabupaten Batang Hari ini bisa menjadi pengalaman berharga bagi keduanya.

“Ini sekaligus sebagai kado istimewa Kabupaten Batang Hari,” ujarnya bahagia.


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Loading...

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Anggota TNI Mati Syahid, Bisa?

Jika keadaan dunia berlarut memburuk dan terjadi perang, siapakah yang menjadi garda terdepan bagi bangsa Indonesia kalau bukan TNI? TNI yang hebat layaknya para pahlawan kemerdekaan yang tak takut mati dengan semangat jihadnya.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.