SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Merujuk Pasien ODGJ dengan Hati

Merujuk Pasien ODGJ dengan Hati

Pagi-pagi saya dilapori mbak Retno, seorang bidan desa di salah satu desa di Puskesmas tempatku bekerja. Wajahnya  nampak bahagia menceritakan keadaaan pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang beberapa bulan yang lalu kami kunjungi. Pasien ini merupakan ODGJ yang suka keluyuran kadang dengan berpakaian yang tidak lengkap.

“sekarang sudah banyak perubahannya, sudah jarang keluyuran dan kadang-kadang mau ke sawah, padahal minum obatnya nggak rutin, kadang diminum, kadang enggak. Tapi perkembangannya bagus,” ceritanya dengan mata berbinar. Saya pun bahagia dan bersyukur mendengar cerita itu.

Sekitar dua bulan yang lalu, kami tim dariPuskesmas yang terdiri dari saya selaku dokter dan satu lagi dokter yang sedang praktek internship di Puskesmas saya, mbak Retno (bidan), mbak Kanti (perawat), mbak Titin (asisten apoteker), mas Heru (perawat) sekaligus nyetiri ambulance dan juga perangkat desa setempat yang kami menyebutnya dengan pak Bayan.

Kami kunjungi sekitar 15 ODGJ, kami periksa dan kami berikan obat langsung di rumahnya. Adik dokter internship saya tugasi anamnesa ODGJ nya, saya wawancara keluarganya. Mbak Titin dan paramedis lainnya  meracik obat yang saya resepkan.

Masalah yang menjadi pemicu munculnya ODGJ macam-macam, mayoritas masalah ekonomi dan kegagalan dalam  membangun rumah tangga. Ada juga masalah organik berupa kelaian otak akibat ada riwayat encephalitis (radang otak).

Kembali kepada pasien yang saya ceritakan di paragraf pertama diatas,  karena pasien tidak disiplin minum obat maka saya memberi advis agar pasien tersebut dirujuk untuk di rawat inap di RSUD Wonogiri dan ditangani dokter spesialis jiwa.

Untuk mempermudah membawa pasien selama perjalanan menuju RSUD, saya meresepkan obat untuk dikonsumsi sebelum pasien dibawa ke RSUD. Mbak Retno dan mas Heru yang kuberi tanggung jawab untuk memberikannya kepada pasien. Saya membuatkan surat rujukan.

Mbak Retno koordinasi dengan pak Bayan untuk proses mempersiapkan pasien. Paka Bayan dengan sigab menghubungi keluarga dan alhamdulillah proses koordinasi berjalan lancar. Walaupun ada sedikit terjadi salah paham. Maksud kami pasien dirujuk besoknya tapi pemahaman keluarga dibawa hari itu juga.

Mbak Retno dan mas Heru dengan menggunakan ambulance sorenya pergi meluncur ke rumah pasien untuk menjemputya. Namun rupanya setelah pasien masuk mobil keluar lagi, sehingga proses perujukan sore itu gagal.

Bersambung….

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER