SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Berisik Caci Maki

Berisik Caci Maki

Saya teringat pertanyaan Anis Matta dalam salah satu tulisannya “Apakah dengan semua kekacauan itu, kita ingin kembali ke sistem otoriter, ke masa lalu yang seolah indah namun tanpa kebebasan?”

Pertanyaan tersebut sebagai muhassabah atas sudah berpuluh tahunnya ditinggalkannya sistem otoriter orde baru, telah merebakkan ketidak teraturan (mulai dari konflik sosial, kebebasan pers dan masyarakat sipil yang dirasa kebablasan).

Dalam tulisannya tersebut Anis Matta memberikan jawaban bahwa bangsa ini telah memilih untuk terus maju. Dengan segala ketidaknyamanan, konflik, dan perdebatan, kita memutuskan membangun sistem baru yang lebih demokratis dan lebih terbuka demi tercapainya tujuan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jujur, sebagai orang yang masa mudanya pada era orde baru saya merindukan suasana orde baru itu. Meskipun saya salah satu dari 9 orang yang pertama terlibat aksi di kampus saya menuntut sistem otoriter dihentikan (waktu itu saya diajak teman diskusiku yang aktivis kiri).

Saya aktivis kanan namun saya biasa bergaul dan berdiskusi dengan temanku yang aktivis kiri, tak jarang kami tukaran buku, dia pinjamin buku “kirinya” saya minjamin buku kananku. Ada kediktatoran dan orupsi orde baru yang dia paparkan yang membuatku tertarik untuk gabung dalam aksi yang dimotori organisasinya. Namun setelah aktivis kanan sudah mulai turun jalan saya gabung dengan yang kanan.

Hari ini saya dibuat semakin rindu pada masa orde baru, pada saat itu saya tidak melihat politisi berdebat untuk hal-hal yang tak substansif seperti saat ini, hanya masalah perasaan, merasa dihina, direndahkan lalu saling lapor polisi. Sungguh kekanak-kanakan.

Dan yang lebih menyedihkan lagi kata-kata caci maki berhamburan seperti debu yang tak kunjung usai. Semalam saya nonton ILC, kebetulan anakku ikut nonton juga, sedih saya lihat para pembicara mengulang-ulang kata cacian tanpa sensor. Dua kata yang jadi tren adalah As* dan Son******

Anakku nanya Son****** itu apa bu?, duh aku baru sadar ternyata anakku merekamnya (maafkan ibumu nak…). Kujelaskan bahwa itu kata-kata kurang pantas yang biasa diomongin orang kalau lagi marah. Beruntung dia tidak nanya AS* itu apa? Mungkin anakku tidak nanya karena dia tahu bahwa AS* adalah jenis hewan.

Wahai para politisi tolong hentikan caci maki sekarang juga dan jangan mudah baper. Biasakan berdiskusi pada hal-hal yang substansif biar otak kita bergizi. Agar aku tidak semakin rindu pada orde baru, agar aku semakin yakin bahwa keputusan kita dulu untuk mengakhiri orde baru bukanlah hal yang keliru.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER