Dengan berbagai alasan, Ketua Peace and love Jatim, Asrilia Kurniati mengusulkan lokalisasi Dolly dibuka kembali (https://seruji.co.id/daerah/jatim/salahkan-risma-caleg-gerindra-ini-minta-lokalisasi-dolly-dibuka-kembali/ ). Menurut saya itu merupakan usulan yang tidak sensitif gender sebab mendorong wanita untuk tetap eksis dalam lembah kenistaan.
Sebagai sesama kaum hawa harusnya beliau mencarikan jalan keluar yang bisa mengangkat wanita menuju martabat kewanitaannya. PSK pun pastilah ingin berhenti dari pekerjaannya melayani lelaki hidung belang itu, namun mungkin karena alasan ekonomi mereka memutuskan untuk tidak beralih pekerjaan.
Setiap wanita siapapun dia apalagi muslimah pastilah berkeinginan mampu menjaga “mahkota” nya kecuali untuk pasangan hidupnya yang sah. Itulah kenapa banyak wanita korban kekerasan seksual yang mengalami trauma berkepanjangan. Adapun bila ada wanita yang jadi PSK dipastikan pernah mengalami kecelakaan sejarah dalam perjalanan hidupnya sehingga ia menajdi terjerumus.
Setiap ibu meskipun PSK tentu ingin tampil mulia dihadapan anak-anaknya. Setiap Mama tentu tak ingin anaknya terbebani mental akibat pekerjaannya yang menjadi cibiran orang. Setiap anak tentu merasa menyakiti ibu yang mengandungnya bila menjadi PSK adalah pilihan hidupnya.
Bahwa kebijakan bu Risma untuk menutup Dolly didasari oleh keinginan dan tujuan mulia haruslah didukung. Bahwa ternyata sampai hari ini masalah baru muncul atas konseskuensi dari penutupan itu merupakan hal yang tak bisa dipungkiri. Namun bukan berarti karena problem belum teratasi maka jalan keluarnya adalah membuka Dolly kembali.
Isu yang diangkat caleg ini sebenarnya bagus bahwa problem baru pasca penutupan Dolly harus diatasi, namun sayangnya solusinya tidak solutif melainkan justru mengembalikan masalah mundur ke belakang.
Keberadaan Dolly pastilah ada dampak negatifnya sehingga bu Risma mengambil kebijakan untuk ditutup. Ketika mengusulkan Dolly dibuka kembali maka otomatis akan mengembalikan dampak negatif dari keberadaan Dolly.
Saran saya kepada bu Asrilia Kurniati, carilah solusi yang lebih bermartabat untuk mengangkat derajat kaum kita. Silakan berkoordinasi dengan banyak pihak untuk dikaji dari berbagai sudut pandang masalah (ekonomi, sosial budaya, agama, kemanusiaan, kesehatan dll) lalu rumuskan langkah-langkah yang komprehensif.
Ubahlah pola pikir PSK yang berfikir “Terpaksa bekerja di sektor ini karena alasan ekonomi” menjadi berfikir “Bekerja apa saja asal bermartabat dan halal.”
Maka bila suatu saat nanti langkah-langkah komprehensif yang bu Asrilia ambil berhasil menyelesaikan masalah maka ibu akan dicatat sebagai pahlawan bagi para istri yang suaminya suka jajan dan akan mengembalikan rasa percaya diri wanita mantan PSK, juga akan dibanggakan anak-anak yang terlahir dari mereka serta akan dibanggakan para wanita pada umumnya.
