SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Neymar Oziel, Bocah 2.5 Tahun Lihai Bermain Bola

Neymar Oziel, Bocah 2.5 Tahun Lihai Bermain Bola

Kotawaringin Barat – Pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kalimat itu akan lebih tepat disematkan pada bocah umur 2.5 tahun dengan nama lengkap Neymar Oziel Hatue, putra dari pasangan Yusro Arodi dan Nety Wahyuni warga Jalan Bhayangkara R T5 Pasir Panjang Arut Selatan, Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah karena sudah pandai bermain bola.

“Sejak ia mulai belajar merangkah senang mainan bola. Saat bisa jalan mulai belajar menendang bola,” jelas Yusro ketika ditemui di kediamannya, Rabu (19/9) siang.

 

Untuk diketahui, Yusro Arodi merupakan mantan pemain dan pelatih beberapa club sepakbola pada masanya. Bahkan ia pernah menjadi asisten Jeksen F Tiago di Asyabab Surabaya. Ia juga pernah menghantarkan club Kobar meraih piala emas dalam ajang tanding Porprov Kalimantan Tengah bebepa tahun silam.

Karir yang pernah dilakoni pria kelahiran 1974 asal Kota Jember Jawa Timur itu pernah menjadi pelatih Persid Jember, Jember United, PSIL Lumajang dan Madiun Putra. Meski saat ini ia tidak lagi menjadi seorang pelatih, namun jiwa sepakbola seakan sudah terpatri dan melekat pada dirinya.

“Anak saya ini semoga kelak bisa membawa nama harum Kobar dalam kancah sepakbola. Meski usianya masih belia, namun Neymar sudah bisa pasing, nendang bola lambung, dribling, bahkan jaggling, sudah kelihatan bakatnya,” ucap Yusro yang saat ini berganti profesi sebagai wartawan salah satu media online di Kobar.

Ditambahkannya, Yusro menaruh harapan besar kepada ke empat anaknya. Neymar sendiri merupakan anak ketiga dan yang terakhir umur 1 tahun, Boban Syam Ramadhan juga bertalenta yang sama.

“Harapan kedepan semoga menjadi pemain besar dan membawa Indonesia ke level yang lebih tinggi. Membawa nama harum Indonesia khususnya Kabupaten Kobar,” tukasnya.

Ia akan buktikan, Sambung Yusro, bahwa di Kobar masih ada talenta yang bisa berprestasi bahkan bukan bukan hanya anaknya. Masih banyak talenta muda yang terabaikan, namun ia akan focuskan melatih anak sendiri agar lebih mudah mengarahkan dan menyalurkanya.

“Saya berhenti menjadi pelatih karena ingin konsen melatih anak sendiri. Semoga kelak berhasil serta menjadi anak yang shaleh, taat agama dan kedua orang tuanya,” jelasnya.

Menurut Yusro, mendidik dan melatih anak dari hati dan memperbanyak sentuhan bola hasilnya akan lebih maksimal. Sebagai mantan pemain juga pelatih, lanjut dia, pastinya hal itu sudah dikuasai tentang cara memberikan sentuhan bola terlebih pada anak usia dini.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TERPOPULER