Anis Matta punya prespektif tersendiri dalam membaca sejarah, dan dia mampu membuat sistematika perjalanan sejarah bangsa ini dengan cara pandang dia. Menurutnya sejarah bangsa Indonesia telah melalui 2 gelombang besar. Gelombang pertama dia sebut dengan gelombang menjadi Indonesia, sedangkan gelombang kedua disebutnya dengan gelombang membangun Indonesia menjadi negara bangsa modern.
Gelombang pertama (gelombang menjadi Indonesia), Â gelombang ini diawali pada tahun 1908 dan sampai dengan diproklamirkannya NKRI. Cikal bakal munculnya gelombang ini adalah kesadaran akan gagalnya perlawanan-perlawanan kedaerahan, perlawanan oleh kerajaan-kerajaan kecil terhadap kolonialisme.
Sejarah telah mencatat bahwa sebelum NKRI berdiri, kolonialisme Belanda telah bercokol di berbagai wilayah yang kelak akan bersatu menjadi NKRI. Tak terhitung berapa banyak nyawa melayang demi melakukan perlawanan terhadap kolonialisme. Banyak sekali pahlawan yang harus gugur demi membela tanah air ini agar terbebas dari kangkangan penjajah.
Cut Nyak Dien, Pangeran diponegoro, Teuku Umar, Pattimura dan masih banyak lagi pahlawan yang gagah berani melawan penjajah. Namun sejarah juga mencatat bahwa perjuangan mereka masih harus menemui kegagalan.
Sehingga para tokoh pelopor pergerakan pada masa itu memikirkan cara perjuangan baru agar bisa memenangkan perlawanan dengan kolonialisme. Para tokoh melihat bahwa perjuangan dengan cara kedaerahan tersebut tidak efektif untuk melawan penjajah. Dan mereka mulai meracik formula baru perlawanan dengan konsep cara perjuangan yang tidak kedaerahan.
Formula tersebut mulai diracik tahun 1908 yang ditandai dengan mulai didirikannya organisai Budi Utomo dan 20 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1928 racikan formula perjuangan yang tidak bersifat kedaerahan terbentuk sempurna yang ditandai dengan munculnya Sumpah Pemuda, sebuah sumpah diikuti oleh pemuda yang berasal dari berbagai daerah.
Sumpah pemuda tersebut dengan bulat mengikrakran bahwa mereka berbangsa satu bangsa Indonesia, bertumpah darah satu tanah air Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia. Sebuah pencapaian yang luar biasa besar. Sumpah pemuda tersebut tertancap kuat dalam sanubari para pejuang dan pendiri bangsa sampai akhirnya pada tahun 1945 NKRI yang meliputi wilayah yang begitu luas dari sabang sampai merauke bisa diproklamirkan.
Disepakatinya bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia yang pada hakekatnya adalah bahasa melayu mumbuktikan kearifan para tokoh yang di daerahnya menggunakan bahasa Jawa. Meskipun bahasa Jawa penggunanya mayoritas, namun para tokoh yang berbahasa jawa rela menurunkan egonya dan mengamini penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.
Ada satu kunci yang tampak pada gelombang pertama (gelombang menjadi Indonesia) tersebut yaitu meninggalkan sifat kedaerahan menuju persatuan. Mengurangi ego menonjolkan kelebihan daerahnya dan berjuang bersama demi meraih cita-cita yang sama yaitu terlepas dari penjajah. Dan cara ini ternyata efektif dan bisa melahirkan Indonesia.
Kondisi bangsa Indonesia saat ini terlihat persatuan mulai terkoyak, minimal ini yang nampak pada dunia sosmed. Polarisasi anak negeri seperti belum menemukan titik temu. Pilpres 2014 yang hanya menyajikan 2 tokoh dengan metode kampanye yang berbeda dengan pilpres sebelumnya, yaitu selain offline ada kampanye melalui sosmed ternyata masih meninggalkan residu kampanye.
Tugas pemimpin tertinggi bangsa inilah yang wajib mampu menyatukan mereka. Presiden wajib mampu menjadi pengayom bagi semua rakyatnya baik pemilihnya maupun bukan. Presiden wajib mampu menghadirkan kebijakan-kebijakan yang adil yang tidak menyinggung dan menyakiti sebagian anak bangsa.
Para tokoh nasional juga baiknya berkaca pada tokoh-tokoh pada gelombang pertama (menjadi Indonesia). Turunkan ego, sadari bahwa polarisasi ini berpotensi mengoyak persatuan negeri lalu bersatulah memikirkan kemajuan Indonesia ke depan.
Saya sepaham dengan Anis Matta yang menyimpulkan bahwa Indonesia sudah saatnya memasuki Gelombang baru (gelombang ketiga) yaitu gelombang Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama dunia. Para tokoh nasional dan anak bangsa lainnya silakan meracik formula bagaimana peta jalan menuju kesana.
Anis Matta mengajukan peta jalan menuju gelombang ketiga dengan formula yang dia sebut Arah Baru Indonesia : Indonesia akan menjadi kekuatan utama dunia jika kita bisa mengombinasikan agama, nasionalisme, demokrasi dan kesejahteraan sebagai aset politik, seraya membangun keunggulan di bidang ekonomi, teknologi, dan militer.
Prinsipnya hentikan pertentangan antara agama, negara dan nasionalisme, karena dari sejarah panjang bangsa Indonesia memang ketiganya tidak bisa dipertentangkan, bila dipertentangkan maka akan memunculkan konflik. Ketiga hal tersebut harus berdamai untuk kemudian bersama-sama berusaha mewujudkan kesejahteraan rakyat seraya membangun keunggulan di bidang ekonomi, tehnologi dan militer.
Apakah kita sanggup? Saya yakin kita sanggup. Kapan akan terwujud? Tergantung keseriusan pemimpin bangsa dan tokoh nasional serta anak negeri seriring seirama berjalan menuju tujuan yang jelas dengan pemimpin yang tahu peta jalan menuju tujuan.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-73, MERDEKA!!
