SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Kecelakaan Bermain

Kecelakaan Bermain

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan pasien anak-anak umur 8 tahun dengan luka bakar akibat bermain petasan spiritus bikinannya bersama dengan kawan-kawan bermainnya. luka bakarnya mengenai punggung tangan dan menyebabkan pengelupasan sebagian kulit jari.

Bermain adalah dunia anak-anak, dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra tubuh, mengeksplorasi dunia sekitar, menemukan seperti apa dunia ini dan diri mereka sendiri. Lewat bermain anak-anak mempelajari hal-hal baru, kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya. Lewat bermain fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang juga” (Papilla, seorang ahli human development).

Saya punya pengalaman masa kecil yang terpuaskan dunia bermainnya. Pada saat itu, pendidikan TK belum diajari membaca, menulis dan berhitung. Yang ada dipikiran kami sekolah TK itu adalah bermain, kami hanya takut bila ada program imunisasi yang pada saat itu kami menyebutnya cacaran.

Menginjak SD kami baru diajari membaca, menulis dan berhitung, itupun tidak terlalu membebani pikiran kami. Waktu kelas satu SD dalam tasku hanya ada dua buku tulis, satu pensil, satu penghapus, satu penggaris, dan satu buku paket bahasa indonesia yang dipinjami dari sekolahan terbitan Balai Pustaka dengan tokoh utama budi serta satu buku paket matematika terbitan balai pustaka pula. Tas dan seperangkat isinya tersebut saya bawa setiap hari. Pulang sekolah ditaruh, besoknya lagi langsung dibawa sekolah lagi tanpa diedit isinya.

Ini Ibu Budi

Ini bapak Budi

Bapak membaca koran

Ibu memasak di dapur

Kalimat-kalimat di atas yang terdapat di dalam buku paket Bahasa Indonesia sangat melekat dipikiran kami waktu itu. Buku tersebut dipinjamkan turun temurun selama bertahun-tahun. Tidak seperti masa sekarang yang berganti buku pelajaran setiap tahunnya.

Bisa dibilang saat kelas satu SD saya tidak pernah diberikan PR, pulang sekolah saya langsung bermain dengan teman-teman. Bermain apa saja yang kami inginkan, lompat tali, kejar-kejaran, mandi di sungai, naik kerbau di sawah, memanjat pohon, bikin sesuatu dari tanah liat, dan banyak lagi permainan asyik lainnya. Terkadang kami juga bermain pentas seni, ada yang nyanyi, ada yang menari, ada yang main drama, bahkan kami membikin panggung yang kami hiasi dengan daun, bunga dan batang yang kami temukan disekitar kami.

Indahnya lagi di kampung saya selain puas bermain, kami juga punya rutinitas riligi, anak-anak setiap habis jamaah sholat maghrib di langgar (surau) kami belajar baca Alquran, kami tidak punya guru khusus, yang mengajari adalah tetangga-tetangga yang sudah mampu baca Quran, demikian pula setelah saya mampu baca quran maka saya mengajari adik-adik yang belum bisa baca quran, setelah mengajari baca quran kami melanjutkan membaca alquran beberap lembar. Anak-anak yang sudah selesai mengaji menyempatkan diri bermain sembari menunggu sholat isya.

Banyak manfaat bermain bagi anak-anak, diantaranya tubuh anak akan menjadi lebih sehat karena kegiatan-kegiatan fisik saat bermain. Anak juga belajar berinteraksi dengan orang lain, belajar memecahkan persoalan saat berpisah dari orang tuanya. Anak juga akan semakin terlatih dalam berkomunikasi.

Namun kecelakaan bermain bisa juga terjadi seperti pada kasus pasien saya tersebut, disinilah peran orang tua untuk memberikan pengawasan dan pemahaman agar anak tidak melakukan permainan-permainan yang berpotensi membahayakan dirinya. Dipandang dari aspek kreatiitas, apa yang dilakukan pasien saya itu adalah sebuah kreatifitas yang patut dihargai, tapi kreatifitas tanpa pengarahan orang dewasa maka bisa berakibat fatal, beruntung petasan tersebut daya ledaknya kecil sehingga yang terluka hanya sebagian kecil tangan dan itupun hanya luka ringan.

Andai petasannya punya daya ledak besar dan mengenai organ-organ vital maka nyawapun bisa jadi taruhan. Saya pernah punya pengalaman menemui pasien yang terkena letusan petasan karbit yang dibikinnya, serpihannya ada yang menembus mata kemudian bersarang di otak, luka bakarnya parah dibeberapa bagian tubuh. Setelah beberapa hari di ICU pasien tersebut akhirnya meninggal dunia.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER