SCROLL KE ATAS UNTUK MEMBACA

Jangan Robek Kerukunan Kami

Jangan Robek Kerukunan Kami

Bangsa indonesia sudah sangat dewasa dalam masalah kerukunan di pergaulan sehari-hari. 1340 suku bangsa dan 300 kelompok etnik yang dimiliki Indonesia dengan hidup rukun berdampingan selama ratusan tahun adalah bukti yang tak terbantahkan.

Bila beberapa tahun terakhir bangsa ini di uji dengan keberadaan teroris yang melakukan perbuatan keji dengan cara-cara yang diluar batas kemanusiaan maka ketahuilah bahwa yang akan mengutuk teroris bukan hanya para korban tapi bangsa ini secara keseluruhan.

Jangan pernah mengaitkan teroris dengan ajaran agama manapun termasuk agama islam, sebab pasti anda akan keliru. Kalaupun ada pelaku teror yang mengatsnamakan agama tertentu bukan berarti agama tertentu yang salah, justru agama tersebut sangat dirugikan dengan pengatasnamaan tersebut.

Bila ada  pelaku teror memakai celana cingkrang, berjenggot, jidatnya hitam, istrinya bercadar jangan lantas menisbatkan perilaku teror tersebut sebagai bagian dari ajaran islam. Bagaimana mereka bisa mengatasnamakan islam sedangkan apa yang dia lakukan justru bertentangan dengan  ajaran islam? Bahkan mereka tidak mengerti salah satu  ajaran mulia agama ini bahwa islam melarang membunuh wanita dan anak-anak dalam situasi damai maupun perang.

Alquran dalam surat Al Maidah ayat 32 sangat terang menjelaskan “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

Bagaimana mungkin islam yang sangat menghargai kehidupan seperti yang tertuang dalam ayat tersebut memberikan restu perilaku teroris?

Institusi resmi negara mengatakan jaringan teroris itu memang eksis, dan negarapun mengakui telah mengetahui anatomi mereka. Yang menjadi pertanyaan, anatomi teroris sudah dideteksi tapi mengapa negara masih kecolongan? Saya yakin asal ditangani dengan cara-cara yang manusiawi maka masalah akan bisa teratasi.

Saya sepakat dengan pernyataan Prof Din Syamsudin di ILC seminggu yang lalu, bahwa negara harus memanfaatkan data anatomi teroris yang sudah dimiliki. Beliau menyatakan selaku ketua MUI pernah minta data ke kapolri waktu itu ( Dai Bachtiar) , agar  MUI bisa membantu menangani (baca dilakukan upaya deradikalisasi) terhadap mereka secara Indonesia, bukan dikejar-kejar. Namun sayangnya sampai beliau bicara pada saat itu polri belum bersedia memberikan data.

Masih dalam suasana berkabung atas peristiwa terorisme di surabaya belum lama ini, saya mendapatkan kiriman video social experiment yang menarik untuk disimak, video yang oleh pembuatnya dimaksudkan untuk menguji apakah publik merasa aman dengan eksistensi muslimah bercadar atau malah menjauh. Perlu diketahui bahwa komunitas muslimah bercadar ini merupakan salah satu komunitas yang terkadang diberi stigma negatif dan dikaitkan dengan jaringan teroris oleh beberapa oknum masyarakat. berikut videonya

Hasil dari social experiment tersebut membuktikan akan kedewasaan  bangsa kita dalam menjalin kerukunan. Hal yang patut disyukuri. Harusnya pemimpin bangsa ini cerdas memanfaatkan kerukunan ini sebagai modal untuk bicara diforum-forum internasional agar bangsa-bangsa lain belajar kepada bangsa Indonesia. Sehingga hal baik ini bisa ditularkan diseluruh dunia bahkan menjadi budaya dunia.

Wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, kerukunan ini mari kita rawat dan tumbuh suburkan. Mari kita lawan siapa saja yang mencoba merobeknya.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Artikel Lain

TERPOPULER