Pemasangan iklan, hubungi kami di sini

Sharing Mengapa Anakku Nakal?

Mengapa Anakku Nakal?

Sharing Mengapa Anakku Nakal?

Mengapa Anakku Nakal?

WARGASERUJI – Secara sadar maupun tidak, sering kita menemui sebuah keluhan dari orang tua mengenai anak-anak mereka. Pertanyaan ‘Mengapa anakku nakal?’, ‘Mengapa anakku bermasalah?’ dan berbagai contoh ungkapan atau pertanyaan berbeda lainnya sering kali kita temukan dan keluar begitu saja dari pra orang tua, entah mereka yang berada di sekitar kita maupun justru adalah keluhan dari diri kita sendiri.

Kembali ke pertanyaan-pertanyaan tersebut. Benarkah anak kita nakal? Benarkah anak kita bermasalah? Adakah anak-anak lahir ke dunia ingin menjadi nakal atau bermasalah? Adakah anak-anak yang dilahirkan di dunia ini memang sejak lahir sudah menjadi nakal dan bermasalah? Mari kita renungi sejenak.

Anak-anak lahir ke dunia dalam keadaan bersih, putih dan suci. Baik anak itu terlahir dari rahim seorang yang memiliki kekuasaan dan bermartabat maupun (maaf) lahir dari seorang wanita tuna susila. Siapapun orang tuanya, siapapun wanita yang melahirkannya, tidak ada yang dapat memungkiri bahwa anak tetap lahir dalam keadaan suci.

Namun seiring berjalannya waktu, ketika anak-anak sudah mulai beranjak besar, dan dapat mengenal lingkungan, lantas mengapa anak-anak yang dahulunya lahir dalam keadaan suci lantas berubah menjadi sosok monster yang mengerikkan? Menjadi brutal, menjadi sangat nakal dan bermasalah di lingkungan sekitar?


Tidak dipungkiri banyak dari kita atau bahkan orang tua si anak bermasalah tersebut langsung saja melabeli anak tersebut ‘NAKAL’, tanpa melihat dan menelaah lagi, penyebab mengapa anak tersebut menjadi nakal?

Dan jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan mengapa anak tersebut nakal, tidak lain adalah dari lingkungan tempat tinggal si anak itu sendiri. Dan siapa lagi kalau bukan orang tuanya?

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, anak-anak yang bermasalah adalah produk dari mesin pabrik pengasuhan orang tua. Anak-anak yang bermasalah, pasti dan pasti memiliki masalah pula di dalam hubungannya dengan orang tua. Dan banyak sekali orang tua yang tanpa sadar mereka memberikan contoh-contoh yang tidak pantas kepada anak-anak mereka, misalnya saja mengucapkan kata-kata kasar, memukul, berbohong atau bahkan pengabaian memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi perkembangan kepribadian anak.

Anak menjadi sakit secara sosial dan mental adalah hasil dari benih-benih yang ditanamkan oleh orang tuanya sendiri. Hanya saja banyak orang tua yang memungkiri hal tersebut dengan membuat segudang pembelaan untuk diri sendiri, dan menyatakan sudah melakukan hal yang terbaik yang mereka lakukan untuk anak. Jika memang demikian (sudah melakukan yang terbaik untuk anak – penj.) lantas mengapa anak-anak tersebut menjadi bermasalah?    – ‘Ya tidak tahu…’ –  itulah jawaban dari sekian banyak orang tua yang merasa sudah melakukan hal terbaik kepada anak namun faktanya anak-anak mereka menjadi bermasalah di lingkungan sosialnya.

Dalam kasus demikian, bagi para psikolog sudah jelas siapa yang harus diterapi terlebih dahulu. Siapa? Yakni kedua orang tuanya. Orang tua yang pertama kali menggoreskan warna-warna di lembaran putih bayi yang mereka lahirkan, sehingga bisa disimpulkan bahwa bermasalahnya seorang anak dengan lingkungan sosialnya, anak menjadi nakal, dan brutal, penyebab utamanya adalah kedua orang tuanya.

Mereka meniru apa yang dicontohkan dan diperlihatan di depan mata mereka apa-apa yang orang tua lakukan. Mereka juga merespon perilaku-perilaku orang tua yang kurang baik. Termasuk di dalamnya orang tua yang membiarkan anak melakukan kesalahan, memaklumi kesalahannya tanpa nasihat dan intervensi, sehingga benih yang ditanamkan ini membuat anak berpikir bahwa apa yang ia lakukan benar.

Lantas apakah anak-anak tersebut bisa disembuhkan? Butuh pendampingan yang intensif untuk anak-anak bermasalah tersebut beserta kedua orang tuanya, termasuk di dalamnya kesadaran akan apa yang terjadi serta kemauan untuk berubah dari mereka. Karena jika penanganan terlambat, maka berbagai persoalan sosial dan kriminal bisa terjadi pada anak-anak tersebut di kemudian hari. (HA)


BACA JUGA

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

Ingin Jadi Penulis Warga, silahkan bergabung di sini.

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

YANG LAGI PRO-KONTRA

Pemakan Tanah Papua, Siapa?

Keluarga Besar Indonesia, sepertinya lebih enak diterima daripada "NKRI Harga Mati". Lebih humanis, merangkul. Antara hati dengan hati. Saling bantu, bukan berebut. Saling melindungi, bukan saling menguasai.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

ARTIKEL TERBARU

Baper dan Islamphobia

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak, anak-anak diajari tentang tiga kata sakti yang mampu meluluhkan hati manusia. Yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Akan tetapi dalam realitasnya, tiga kata ini tidak mudah diucapkan. Ada orang yang enggan mengatakan terima kasih padahal sudah dibantu oleh orang lainnya. Entah kenapa.

Kisah Nyata: Kaki Sendiri Diseterika

Tampak koreng berukuran kurang lebih 3x7 cm di punggung kaki kanan seorang bapak berumur 50 tahun. Sebuah luka koreng yang disebabkan oleh ulahnya sendiri. Tiga bulan yang lalu, lelaki setengah baya itu menyeterika kakinya sendiri dengan sengaja dan kesadaran penuh. Apa gerangan yang membuatnya nekat berbuat begitu?

PTSL Masih Bermasalah, Desa Sugihmukti Diduga Lakukan Pungli Pengurusan Sertifikat

Seperti pantauan penulis di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung, program sertifikat murah ini dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan cara memungut administrasi diluar ketentuan.

Hai Papua, Saya yang Monyet

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi anti rasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum. Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non Papua. Mungkin saya lah monyet itu.

Indonesia dan Thailand Kembangkan Kerjasama Wakaf Produktif

Thailand sudah memiliki miniatur 'Kota Wakaf' yaitu pembangunan di atas tanah wakaf sebesar 500 hektare mencakupi pembangunan rumah sakit, town house, Islamic center, masjid agung, stadion, kampus Fatoni University, Asean Mall serta fasilitas pendukung lainnya

Senangnya Menang Lomba Menulis PWI, Walau Hanya Pemenang Harapan

Ada nomor tak dikenal masuk ke nomor WA saya. Bunyinya mengagetkan, karena hanya berisi link berita dan permintaan alamat dan nomor rekening. Ternyata, setelah di telusur, tercatat menjadi pemenang di lomba menulis PWI 2019! Senangnya, walau hanya pemenang harapan.

Referendum Papua, Mungkinkah?

Sambil menunggu keputusan Jokowi, lembaga saya, Sabang Merauke Circle, nasibnya diujung tanduk, karena Sabang dan Merauke mungkin saja hilang, tinggal Circle nya saja.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

TERPOPULER