WARGASERUJI – Pilpres sudah dianggap ajang berebut kekuasaan, dilegalkan secara konstitusi. Karena pilihan langsung, rakyat dilibatkan. Saling dukung mendukung menjadi hal yang biasa. Maka, tak bisa mengelak, berkata sebenar apapun selalu punya potensi dimusuhi.
Si pendukung A, sangat tidak suka jika prestasi atau kelebihan capres B diumbar ke publik. Sebaliknya, sama saja. Sebabnya, ada harapan jagonya menang. Itu lumrah. Itu natural.
Tak hanya itu, jika calon lain terlihat aibnya, tiba-tiba sangat gembira mendengarnya, tiba-tiba ikut menyebarkannya. Apa begitu yang benar?
“Ini demi bangsa, demi rakyat!” kata orang-orang beralasan. “Kemaslahatan umat lebih penting!” kata yang lain. Apa akibatnya tidak dihitung?
Orang-orang menjadi merasa lebih tinggi dari yang lain. Kehidupan menjadi tersekat secara tiba-tiba. Tak ada perasaan kesetaraan sesama warga negara. Atau bahkan, menguatkan sekat-sekat yang sudah ada. Apa ini bukan tanda perpecahan?
Jadi? Apa sebab utamanya? Jawabnya, Pilpres.
Pasti ada pro dan kontra tentang kelebihan-kekurangan pilpres ini. Namun, paling tidak ada dua kaidah yang menegaskan buruknya pilpres.
Kaidah pertama, “jika engkau serahkan urusan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. Apakah rakyat punya kemampuan memilih pemimpin? Bukankah rakyat itu mudah dijadikan obyek kekuasaan? Bukankah hanya dengan diiming-imingi materi, atau dihipnotis media, rakyat dengan mudah tertipu?
Kaidah kedua, “jangan percaya kepada kebanyakan orang, karena niscaya akan menyesatkanmu”. Pertimbangan yang benar itu dari ahli, bukan dari orang kebanyakan. Apalagi, memilih pemimpin.
Kalau begitu, bagaimana memilih presiden yang terbaik kalau bukan dengan pilpres? Tidak tahu. Tanyakan pada ahlinya saja.
Sekarang, nikmati saja. Negara ribut hanya karena dukung-mendukung. Usaha atau organisasi pecah dan bubar hanya karena anggotanya beda dukungan, atau karena menjadi super sensitif. Nikmati saja. Toh, hidup ini hanya ujian.
Ujian tentang siapa yang tetap istiqomah dalam akhlak mulia, dan tetap berada di jalanNya.
