Katingan – Adhirawan Sanosa Palon, Mantan Atlet Nasional Panjat Tebing utusan dari Kalimantan Tengah pada PraPON di Palembang beberapa tahun silam yang berasal dari Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng), menanggapi warta yang telah viral di media sosial tentang jeritah hati atlet dari Kalteng. Delin, pemuda asal Katingan yang sedang mengikuti laga Sofhball Asean Games 2018 di Jakarta menyampaikan keluh kesahnya pada @Yos Kawung Nns tentang tidak diperhatikannya oleh Pemkab serta Pemprov yang telah dimuat pada berita warga.seruji.co.id sebelumnya.
Postingan akun facebook @Adhirawan Sanosa Palon pada 22 Agustus 2018 menceritakan nasib yang dialaminya pada masa itu. Dari postingan itu, Adhirawan banyak memberikan wejangan moral serta dorongan semangat kepada Delin agar tidak lemah karena kurangnya perhatian dari pemerintah.

“Sedang viral “Jeritan atlit” mungkin beda zaman beda mental….
Terakhir Kali saya bela Kalteng sebagai atlit Panjat Tebing pada PraPON di Palembang.
Sebagai atlit saya sadar saya adalah Pejuang….
Semangat saya adalah Nama Daerah.
Saat PraPON kami berangkat dengan segala kekurangan, bahkan sangat….sangat kurang boleh di konfirmasi kepada ketua Kontingen kami saat itu Beta Syeilendra (DPRD Kota) berangkat pakai pesawat pulang Naik Bus ke Jakarta pakai kereta api ke Surabaya pakai Kapal Laut Ke Banjar, sepatu panjat yg saya pakai pun sudah tambalah sana sini. Sedangkan kontingen lain menggunakan merek italy Boreal, Sportiva ada merek Amerika 5-10 wah pokoknya sedang saya hanya Produk anak Bangsa Malang.
Hasil seleksi di Kalteng menunjukan saya atlit terlemah dari sisi kemampuan tapi pelatih berkata lain saya dipercaya bermain di dua kelas Boulder (jalur pendek) dan Lead (Kesulitan (saat itu kategori Dificult))
Sedikitpun saya nda berharap ada pengurus datang baik FPTI ataupun KONI. Kalaupun yg sangat saya harapkan saat itu adalah orang tua yang datang.
Yang saya sadari saya berangkat sebagai pejuang Kalteng.
Walaupun saya terlemah namun saat itu dengan semangat ISEN MULANG saya satu2nya atlit Kalteng yang mampu lolos ke Semi Final dari +-150 atlit se Indonesia dengan jumlah Semifinalis 30 orang (Kuota ngambang) bahkan mengalahkan atlit2 yg punya sepatu bermerek dari Mamarika dan negara Numero Uno.
Waktu itu saya hanya katakan saya Pejuang bukan Pahlawan yang pantas di hargai…. Karna penghargaan itu akan lahir dari perjuangan bukan “rengekan”.
Atlit pencak silat pun saya didik dengan mental pejuang. Saya didik jangan pernah berharap penghargaan ataupun uang karna saya menyadari mengharap penghargaan atau uang akan membuat lemah mental.
Untuk adinda Delin…. Jadilah pejuang, jangan jatuhkan mental Juang mu sendiri, tapi percayalah ketika kamu berprestasi semua keinginan mu akan datang sendiri.
Namun keluhan itu akan ku sampaikan nanti dalam Rapat Anggota KONI KATINGAN.
Sekali lagi yang tersulit dari atlit itu bukan saat tangan mu terayun bukan saat Kaki mu berlari kencang tetapi…. adalh kemampuan mu menjaga semangat mu, sejatinya itu lawan berat mu.
Begitu juga untuk adik ku Fransizkha Sandra Dewi di Banten….. Jaga semangat juang mu sebagai Pendekar dari BUMI BORNEO Semangat ISEN MULANG…. lahapkan semangat itu selalu di hati mu. Tak lupa untuk atlit ku yang sedang pemulihan Nanda Pstk Kal-Teng Percayalah DOA KAMI DI NADI MU…!!!!!!!!!!!!,” tulis Adhirawan dalam postingannya.

Puluhan Nitizen pun mengapresiasi postingan tersebut. Bahkan akun @Inuy D’Baleegh Yuni menyukai tulisan itu serta mendoakan agar banyak lagi pejuang dari Provinsi Kalteng.
“Sangat suka tulisan ini pak..terutama bagian “menjaga semangat mu, sejatinya itu lawan berat mu”..
Semoga semakin banyak “pejuang” daerah dlm bidang apapun yang memiliki mental dan pemikiran seperti ini,” tulisnya.
