Maraknya pemberitaan tentang Corporate Social Responsibility (CSR) yang dianggap diskriminatif terhadap umat beragama tertentu membuat Serikat Karyawan Telkom (Sekar Telkom) angkat bicara.
Dalan keterangannya Minggu (22/4), Ketua Umum Serikat Karyawan Telkom Asep Mulyana menyatakan “Saya menyesalkan segala tuduhan yang tidak berpijak terhadap fakta dan beredar di media sosial. Harusnya Tabayun. Tidak ada pihak yang lebih tahu kondisi Telkom selain orang Telkom sendiri,”.
Sebagai wadah satu-satunya karyawan Telkom dimana salah satu fungsinya adalah pengawal Good Corporate Governance di Telkom, Sekar Telkom merasa telah menjalankan fungsi pengawasan tersebut dengan baik dan ketat.
“Tuduhan dan penilaian negatif pihak eksternal terhadap Telkom akhir-akhir ini bersifat tendensius, sepotong-sepotong dan tidak sesuai fakta yang sebenarnya,”
Dari sumber terpercaya di internal Telkom di bidang kerohanian Islam menyebutkan bahwa :
- Secara kumulatif CSR untuk umat muslim tetap lebih banyak dan proporsional, namun memang sebarannya cukup banyak sehingga terkesan perolehannya kecil
- Adanya pemberitaan bantuan CSR terhadap umat non muslim yang terlihat tinggi tersebut memang kebetulan fokus untuk merenovasi gereja yang sifatnya heritage di NTT, dan itupun sebenarnya tidak murni dari Telkom, namun kerjasama patungan antara Telkom dan TSEL dengan porsi Telkom lebih sedikit.
- Terkait kenapa sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) ikut berkomentar keras, menurut sumber tersebut, berita ini ada yang menggoreng, entah apa tendensinya belum tahu.
