close
Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Kisah Mula Bisnis Angkringan yang Belum Banyak Diketahui Orang

Zaman sekarang jajan di angkringan mungkin sudah menjadi tren. Pada zaman dahulu angkringan merupakan cafe-nya kaum marjinal. Angkringan juga penyelamat mahasiswa, buruh dan karyawan kecil saat tanggal sudah mulai menua.

Nama angkringan sendiri berasal dari alat untuk jualannya yang disebut angkring, yaitu dua kotak kayu tempat dagangan yang dipikul dengan kayu melengkung cara berjualannya dengan keliling. Istilah angkringan juga bisa diambil dari kata nangkring/nongkrong sambil ngobrol dan wedangan (minum-minuman hangat).

Alat Jualan Berbentuk Angkring, Angkringan Lek Man yang belum buka (foto:dhani)

Loading...

Pada perkembangannya angkringan yang kita kenal sampai sekarang kebanyakan berbentuk gerobak.

Pada awalnya bisnis angkringan berasal dari daerah Klaten khususnya dari kecamatan Cawas dan Bayat. Di daerah Klaten dan Solo warung angkringan lebih dikenal dengan nama Wedang HIK atau HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Menggunakan istilah HIK karena lebih spesifik jenis dagangannya seperti sego kucing, wedang jahe, teh dan gorengan.

Istilah angkringan di daerah Klaten khususnya Cawas dan Bayat artinya lebih meluas, karena alat angkring ini biasa digunakan berbagai macam pedagang. Pedagang seperti tahu kupat, soto, wedang ronde dan tukang sate juga biasa menggunakan alat angkring ini untuk jualan.

Perihal siapa orang yang menjadi pioner bisnis ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi dari penelusuran cerita oleh para pedagang angkringan yang ada di Jogja, bahwa Mbah Pairo lah pejuang kuliner asal Cawas yang memperkenalkan dagangan angkringan ke jogja tahun 1950. Lek Man adalah generasi mbah Pairo yang berjualan di Stasiun Tugu yang terkenal dengan nama Angkringan Kopi Jos.

Tahun 90-an sampai 2000 awal, hampir 95 persen pedagang angkringan berasal dari Cawas dan Bayat. Mereka tersebar di daerah khususnya Jawa Tengah dan DIY.

Dalam perkembangannya sampai sekarang ini angkringan sudah tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa dan sudah ada yang ke luar Pulau Jawa. Saat ini sudah banyak pedagang angkringan adalah warga daerah setempat dengan variasi menu disesuaikan daerah masing-masing, tetapi tidak meninggalkan menu khas angkringan.

Berbagai Menu di Angkringan Berbentuk Gerobak (foto:dhani)

Ciri khas utama minuman di angkringan sebenarnya terletak pada racikan wedang jahe dan tehnya. Untuk angkringan yang mengikuti pakem selalu menyediakan 3 ceret, 1 ceret berisi wedang jahe, 1 ceret berisi wedang teh dan 1 ceret berisi wedang jarang (air putih panas).

Dari ceret-ceret itu pedagang yang lihai dapat menyajikan jahe yang pas hangatnya tidak bikin gatal di tenggorokan. Untuk minuman teh biasanya para pedagang memadukan beberapa jenis teh, sehingga akan tercipta wedang teh yang pas kekentalanya, rasa pahit dan wanginya.

Pada masa sekarang ini bisnis angkringan sudah berkembang dan menjamur sedemikian rupa, kreativitas dari pengusaha angkringan telah menyajikan banyak varian menu makanan dan minuman. Bagi pengusaha angkringan yang bermodal cukup besar, akan mendesain tempat jualannya supaya lebih luas dan nyaman untuk nongkrong. Sedangkan bagi pengusaha yang bermodal kecil, tetap mempertahankan jualannya dengan cara lama.

Bisnis angkringan yang awalnya merupakan bisnis rakyat jelata dari Cawas ini, bukan lagi bisnis ecek-ecek bila dikelola secara profesional. Sekarang ini banyak yang menjadikan angkringan sebagai bisnis utamanya karena omzetnya yang sangat lumayan, walaupun masih kalah dengan ide bisnis racun kala jengking yang katanya bernilai ratusan milyar.

Langganan berita lewat Telegram
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Hernowo.T
Tuangkan uneg-uneg dan idemu di seruji
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER