Wacana Guru Impor Bukan Solusi bagi Dunia Pendidikan

Wacana Guru Impor Bukan Solusi bagi Dunia Pendidikan

WARGASERUJI – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, saat ini Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman.

Presiden Joko Widodo  memberikan tanggapannya mengenai hal tersebut. Joko Widodo menjelaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara ekonomi terkuat dunia bahkan di peringkat 4 atau 5 pada 2045. Untuk itu Indonesia harus menyiapkan tiga jurus untuk menyelesaikan persoalan bangsa menyambut 100 tahun Indonesia Merdeka, termasuk agar Indonesia tidak masuk dalam “middle income trap” , yakni pemerataan infrastruktur, reformasi birokrasi, dan pengembangan SDM.

Pendidikan adalah suatu hal yang berharga bagi bangsa ini. Namun apa yang diwacanakan kepada rakyat dengan mendatangkan orang asing ke negeri sendiri, pada faktanya melukai  hati rakyat. Terutama kalangan guru. Terkhususnya tentulah guru honorer yang tidak dihargai dengan upah yang memadai.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rasidi, juga mengatakan tegas menolak impor guru. Ia menyebut program import guru ini bisa menantang nasionalisme, dan menganggu rasa keadilan guru honorer.

Tujuan penguasa saat ini memang mulia. Menjadikan kedepannya terutama pada tahun 2045 terjadi penguatan ekonomi di Indonesia. Namun sebenarnya langkah yang diambil tidaklah tepat.

Maka sejatinya permasalahan ini dicari akar masalahnya terlebih dahulu. Yakni tidak diterapkan aqidah Islam sebagai dasar pembuatan kebijakan segala hal yang ada di negeri ini. Sebagaimana yang Rasulullah contohkan dulu.

Ketika masa Rasulullah dn khalifah sesudahnya bukan hanya ekonomi negara yang kuat. Namun banyak hal menjadi perhatian negara asing di luar negara Islam. Pendidikan juga menjadi sesuatu yang tak kalah penting. Semua kejayaan dan kemandirian negara yang menghadirkan islam ke tengah kehidupan membuat iri para negara kufur. Hingga berusaha  meniru, terutama penemuan-penemuan hasil dari proses pendidikan berbasis Aqidah Islam.

Menghadirkan aqidah Islam adalah pembentuk SDM utama dalam pandangan  Islam. Pemahaman tentang kebudayaan (tsaqofah), bahasa Arab, sejarah lslam, dan sebagainya, semuanya bersumber dari aqidah Islam. Pendidikan berbasis pengetahuan seperti matematika, sains, dan sebagainya, juga bersumber  dari aqidah Islam. Namun tidak menghalangi juga jika terdapat penambahan dari  luar Islam.

Seandainya wacana import guru terealisasi, maka akan banyak mendatangkan berbagai macam kebudayaan  yang tidak bersumber dari Islam.  Disadari atau tidak, akan sangat berpengaruh untuk tumbuh kembang generasi Indonesia.

Seharusnya kita malu, sebagai muslim tidak menerapkan Islam kaffah. Tidak mencerminkan ketakwaan kita. Terutama jikalau kita adalah penguasa.

Ketika penguasa dahulu memakai Islam dalam berbagai hal untuk mengurusi pemerintahan, setiap problem terpecahkan. Kesejahteraan  guru misalnya. Gaji pengajar/guru sebanyak 15 dinar merupakan angka yang luar biasa. Pada tahun 2011 Wakala Induk Nusantara mencatat bahwa 1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,-. Insyaallah  akan tetap stabil. Artinya, pada masa khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-.

Sebagai perbandingan, saat ini gaji guru di negeri kita berada pada kisaran 2 juta. Malah Guru Honorer digaji  300 rb. Jika dinyatakan dalam dinar, gaji guru sekarang hanya berkisar 1 dinar saja. Ini sama saja menyatakan bahwa gaji guru sekarang hanya 1/15 dari gaji guru pada masa Khalifah Umar. Na’uzubillahi minzalik. Sungguh sebuah kezaliman.

Kesejahteraan tersebut setara dengan kualitas para guru. Guru yang kompeten terlihat dari ilmuan-ilmuan yang terlahir dari peradaban islam. Jikalau muridnya hafal 30 alquran, tentu gurunya  juga hafal. Bahkan ditambah  hafal banyak hadist. Karena memang tujuan mendidik generasi butuh dorongan dari semua pihak, termasuk  sang guru.

Ketika penghargaan diberikan pada mereka secara duniawi bukan tak mungkin mendorong mereka bersungguh-sungguh mengerahkan seluruh potensi mengajar dan mendidik muridnya.  Di samping memang, yang terpenting dalam mendidik  generasi adalah dapat menyebarkan pemahaman dan ilmu yang kita punya, agar menjadi pahala investasi di akhirat kelak.

Selain guru, masa depan generasi pun semakin  gemilang ketika pihak seperti keluarga, masyarakat dan negarapun berperan mendidik mereka. Semoga segera Indonesia dapat mewujudkan  hal tersebut.

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

BPJS Naik, Rakyat Tercekik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas I dan kelas II, naik 100 persen. Rencananya, kenaikan iuran...

Ada Tawaran Menarik dari Ustadz Adi Hidayat, Anda Berminat?

Menurut ustadz yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW ini, argumentasi sebaiknya dijawab dengan argumentasi, ilmiah dengan ilmiah, jadi elegan, jangan ilmiah dengan golok.