Follow SERUJI

94,949FansSuka
396PengikutMengikuti
6,616PengikutMengikuti
729PelangganBerlangganan

Wacana Guru Impor Bukan Solusi bagi Dunia Pendidikan

WARGASERUJI – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, saat ini Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman.

Presiden Joko Widodo  memberikan tanggapannya mengenai hal tersebut. Joko Widodo menjelaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara ekonomi terkuat dunia bahkan di peringkat 4 atau 5 pada 2045. Untuk itu Indonesia harus menyiapkan tiga jurus untuk menyelesaikan persoalan bangsa menyambut 100 tahun Indonesia Merdeka, termasuk agar Indonesia tidak masuk dalam “middle income trap” , yakni pemerataan infrastruktur, reformasi birokrasi, dan pengembangan SDM.

Pendidikan adalah suatu hal yang berharga bagi bangsa ini. Namun apa yang diwacanakan kepada rakyat dengan mendatangkan orang asing ke negeri sendiri, pada faktanya melukai  hati rakyat. Terutama kalangan guru. Terkhususnya tentulah guru honorer yang tidak dihargai dengan upah yang memadai.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rasidi, juga mengatakan tegas menolak impor guru. Ia menyebut program import guru ini bisa menantang nasionalisme, dan menganggu rasa keadilan guru honorer.

Tujuan penguasa saat ini memang mulia. Menjadikan kedepannya terutama pada tahun 2045 terjadi penguatan ekonomi di Indonesia. Namun sebenarnya langkah yang diambil tidaklah tepat.

Maka sejatinya permasalahan ini dicari akar masalahnya terlebih dahulu. Yakni tidak diterapkan aqidah Islam sebagai dasar pembuatan kebijakan segala hal yang ada di negeri ini. Sebagaimana yang Rasulullah contohkan dulu.

Ketika masa Rasulullah dn khalifah sesudahnya bukan hanya ekonomi negara yang kuat. Namun banyak hal menjadi perhatian negara asing di luar negara Islam. Pendidikan juga menjadi sesuatu yang tak kalah penting. Semua kejayaan dan kemandirian negara yang menghadirkan islam ke tengah kehidupan membuat iri para negara kufur. Hingga berusaha  meniru, terutama penemuan-penemuan hasil dari proses pendidikan berbasis Aqidah Islam.

Menghadirkan aqidah Islam adalah pembentuk SDM utama dalam pandangan  Islam. Pemahaman tentang kebudayaan (tsaqofah), bahasa Arab, sejarah lslam, dan sebagainya, semuanya bersumber dari aqidah Islam. Pendidikan berbasis pengetahuan seperti matematika, sains, dan sebagainya, juga bersumber  dari aqidah Islam. Namun tidak menghalangi juga jika terdapat penambahan dari  luar Islam.

Seandainya wacana import guru terealisasi, maka akan banyak mendatangkan berbagai macam kebudayaan  yang tidak bersumber dari Islam.  Disadari atau tidak, akan sangat berpengaruh untuk tumbuh kembang generasi Indonesia.

Seharusnya kita malu, sebagai muslim tidak menerapkan Islam kaffah. Tidak mencerminkan ketakwaan kita. Terutama jikalau kita adalah penguasa.

Ketika penguasa dahulu memakai Islam dalam berbagai hal untuk mengurusi pemerintahan, setiap problem terpecahkan. Kesejahteraan  guru misalnya. Gaji pengajar/guru sebanyak 15 dinar merupakan angka yang luar biasa. Pada tahun 2011 Wakala Induk Nusantara mencatat bahwa 1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,-. Insyaallah  akan tetap stabil. Artinya, pada masa khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-.

Sebagai perbandingan, saat ini gaji guru di negeri kita berada pada kisaran 2 juta. Malah Guru Honorer digaji  300 rb. Jika dinyatakan dalam dinar, gaji guru sekarang hanya berkisar 1 dinar saja. Ini sama saja menyatakan bahwa gaji guru sekarang hanya 1/15 dari gaji guru pada masa Khalifah Umar. Na’uzubillahi minzalik. Sungguh sebuah kezaliman.

Kesejahteraan tersebut setara dengan kualitas para guru. Guru yang kompeten terlihat dari ilmuan-ilmuan yang terlahir dari peradaban islam. Jikalau muridnya hafal 30 alquran, tentu gurunya  juga hafal. Bahkan ditambah  hafal banyak hadist. Karena memang tujuan mendidik generasi butuh dorongan dari semua pihak, termasuk  sang guru.

Ketika penghargaan diberikan pada mereka secara duniawi bukan tak mungkin mendorong mereka bersungguh-sungguh mengerahkan seluruh potensi mengajar dan mendidik muridnya.  Di samping memang, yang terpenting dalam mendidik  generasi adalah dapat menyebarkan pemahaman dan ilmu yang kita punya, agar menjadi pahala investasi di akhirat kelak.

Selain guru, masa depan generasi pun semakin  gemilang ketika pihak seperti keluarga, masyarakat dan negarapun berperan mendidik mereka. Semoga segera Indonesia dapat mewujudkan  hal tersebut.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Nora Afrilia
Penulis merupakan pemerhati generasi dan pendidikan

YANG LAGI PRO-KONTRA

Lawan Negara, Kapitalis Apa Mau Kehilangan?

Sifat kapitalis itu berkuasa dengan modal. Oleh karena itu selalu dicari cara agar modal bertambah. Kata halusnya, "value" harus selalu naik. Sehingga, kapitalis tak mau kehilangan apapun, tanpa ganti yang sepadan atau lebih tinggi. Termasuk, ketika "melawan" negara.

Poligami Itu Berat, Kami Saja

adi, dua syarat agar bisa adil itu perlu dipenuhi. Karena tidak sembarang orang bisa, "poligami itu berat, kami saja". Tentu, niat utama juga harus benar, yaitu niat berbagi. Bukan niat mencari nikmat di atas penderitaan para istri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Mencari Tuhan yang Mana Lagi?

Perbedaan dalam beragama seringkali berpangkal kepada perbedaan siapa yang dituhankan. Orang-orang musyrik menuhankan Allah, namun juga menuhankan selain Allah. Maka, Islam mempertanyakan kepada manusia, mencari tuhan yang mana lagi kalau bukan Sang Pencipta Alam, Tuhan segala sesuatu.

Penguasa Itu Ujian Bagi Umat Manusia

Orang yang berkecimpung di dunia politik selalu melihat penguasa sebagai sebuah posisi yang diperebutkan. Sebaiknya, melihat penguasa itu sebagai ujian bagi umat manusia.

Mana Agama yang Benar?

Jawabannya sederhana sebenarnya. Agama sesuai petunjuk dari Tuhan, itu jawabannya. Agama wahyu. Bukan sekedar agama yang berasal dari hasil pikir manusia.

Ada Niat Baik Tuhan Kepada Manusia

Untuk apa manusia diciptakan? Untuk beribadah kepada Allah. Namun, bukan dalam status "diperas" seperti budak. Manusia yang "lolos uji" itu hendak diberi karunia. Ada niat baik Tuhan kepada manusia. 

Agama yang Benar Itu Satu

Agama itu asalnya satu dari Tuhan yang satu. Pemahaman yang sesat selalu mengarah agar manusia menganggap agama yang benar itu tidak satu.

Ini Jalan yang Lurus

Setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan kesesatan kaum musyrikin dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, maka kemudian ayat-ayat berikutnya tentang halal dan haram berdasarkan wahyu Allah. Itulah jalan yang lurus, yaitu mengikuti perintah Allah dengan tidak mengikuti perintah-perintah selain Allah.

Diskusi FORPI Sleman: Pengusaha Sampah

Kalau pun pengusaha pengguna sampah terpilah mau membayar mahal, berarti produk yang diolah tinggi nilainya. Contoh nilai tambah yang besar adalah memanfaatkan sampah organik untuk budidaya Magot dan cacing tanah. Selain kandungan protein yang tinggi dari larva magot dan cacing yang didapat, juga tanah bekasnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam. 

Kajian Ekonomis Reaktor Cacing

Reaktor cacing temuan Puji Heru Sulistiyono, berhasil meraih beberapa penghargaan dan apresiasi dari Gubernur DIY, Kalpataru dan CSR Pertamina TBBM Rewulu.

Ekonomi Lesu dan Daya Beli Anjlok Itu Realitas, Saatnya Tawarkan Gagasan Solusi

Ekonomi lesu dan daya belu turun, itu adalah realitas, tak perlu diperdebatkan.

NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi? Keduanya Saja!

Jika dihadapkan pada pilihan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?”, seakan-akan kedua hal tersebut adalah hal yang bertentangan. Padahal jawaban yang paling membahagiakan adalah memilih kedua-duanya sekaligus

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Mana Agama yang Benar?

Jawabannya sederhana sebenarnya. Agama sesuai petunjuk dari Tuhan, itu jawabannya. Agama wahyu. Bukan sekedar agama yang berasal dari hasil pikir manusia.

Pokok-pokok Haram: Musyrik, Durhaka, Keji dan Membunuh

Tuhan mengharamkan manusia untuk berlaku syirik, durhaka kepada orang tua, berlaku keji serta membunuh jiwa tanpa hak. Itulah pokok-pokok haram. Hal ini diungkapkan dalam ayat setelah beberapa ayat sebelumnya menjelaskan panjang lebar perilaku kaum musyrikin yang suka mengharamkan tanpa dasar.

Ustadz Cilik Wildan, Ternyata Baru Klas 6 SD Muhammadiyah Plus Salatiga

Ketika membaca pengumuman Hari Bermuhammadiyah yang rutin diselenggarakan oleh PDM Kota Semarang  dengan menghadirkan  penceramah Ustadz Cilik Wildan, dalam hati saya bertanya,  Apakah sudah...