UU Terorisme, Senjata Bungkam Lawan Politik

UU Terorisme, Senjata Bungkam Lawan Politik

WARGASERUJI – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mewacanakan penggunaan Undang-undang No 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme untuk menindak para penyebar hoaks. Sebab, dia menilai hoaks yang kerap beredar telah menganggu keamanan dan menakut-nakuti masyarakat.

Jika masyarakat diancam dengan hoaks untuk tidak ke TPS (tempat pemungutan suara), itu sudah terorisme. Maka akan diberlakukan UU Terorisme. Namun tindakan tersebut dianggap terlalu berlebihan. Seakan-akan terkesan pemerintah dalam kondisi panik hingga akhirnya ‘menakut-nakuti’ rakyat dengan UU tersebut.

Padahal sebelumnya telah diberlakukan UU ITE untuk menjerat pelaku hoax. Sekarang justru mucul wacana untuk memberlakukan UU Terorisme bagi pelaku hoax. Ini salah satu pertanda bahwa dalam politik Demokrasi kekuasaan adalah segalanya, sehingga untuk mempertahankan kekuasaan menggunakan berbagai cara.

Bahkan Kwik Kian Gie dalam tulisannya di Kompas 3 April 2017 berjudul Negarawan dan Politikus menguak keprihatinan terhadap negara ini karena negara yang minus negarawan, yang dikelilingi para political animal.

Apa bedanya negarawan dan political animal? Kwik Kian Gie menjelaskan bahwa Negarawan adalah orang yang tujuannya murni ingi menyejahterakan rakyatnya secara berkeadilan. Sementara political animal menggunakan arena penyelenggaraan negara untuk kepentingan diri sendiri, dengan prinsip tujuan menghalalkan segala cara.

Berbeda halnya dengan Islam, kekuasaan adalah untuk menegakkan hukum syara (syariat), sehingga hubungan penguasa dan umat merupakan hubungan saling menguatkan dalam ketaatan. Menghidupkan budaya amar ma’ruf nahi munkar, bukan hubungan pemenang dan oposan.

Kemudian, istilah hewan politik dalam terminologi Islam dikenal dengan sebutan Ruwaibidloh (penguasa bodoh), penguasa seperi inilah yang diingatkan  Rasulullah Saw kepada kita untuk berhati-hati sejak 14 abad lalu.

“Akan datang kepada kalian masa yang penuh dengan tipudata; ketika orang-orang akan mempercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran. Maka mempercayai para pengkhianat dan tidak mempercayai para pembawa kebenaran. Pada masa itu, Ruwaibidhah akan berbicara. Mereka bertanya, “Apakah itu ruwaibidhah?” Rasulullah berkata, “Ruwaibidhah adalah orang-orang bodoh (yang berbicara) tentang urusan umat.” (HR.Ibnu Hakim dalam mustadrak).

Maka memberlakukan UU Terorisme menunjukkan sebagai cara yang dianggap ampuh untuk membungkam lawan politik. Serta bukti tidak ‘percaya diri’ pemerintah atas keberlangsungan penyelenggaran negara saat ini.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Pembubaran PT: Prosedur dan Akibat Hukum Pembubaran Berdasar RUPS

Pada tahun 2007 Audi, Aryanda dan Chico mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT AAC, yang bergerak di bidang perdagangan. Namun karena kesibukan...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...
close