Teknik Tanpa Efek Samping Terapi Warna Ala Sujok

Teknik Tanpa Efek Samping Terapi Warna Ala Sujok

WARGASERUJI – Profesor Park Jae Woo menemukan teknik pengobatan berbasis Tradisional Chinese Medicine (TCM) yang difokuskan di tangan dan kaki, atau dalam bahasa Korea, Su dan Jok (Sujok). Teknik Sujok ini memiliki kelebihan mudah dipelajari dan bisa menggunakan terapi warna sehingga hampir tanpa efek samping.

Kelebihan lainnya, biayanya murah karena menggunakan bahan dan alat yang umum dipakai sehari-hari, dan bisa dirasakan efeknya secara langsung. Selain itu, Sujok bisa diterapkan untuk segala penyakit akut dan kronis. Sujok juga bisa menjadi pelengkap terapi lain tanpa banyak masalah.

Contoh penggunaan Sujok, bisa mengobati penyakit kronik seperti asma, diabetes, arthritis, stres, depresi dan sebagainya. Sujok cukup efektif untuk pertolongan pertama dan penanganan kedaruratan.

Namun, ada yang tidak bisa ditangani dengan Sujok. Diantaranya: kegagalan kelahiran, penyakit Polio, beberapa masalah saraf, beberapa masalah mental, dan Schizophrenia.

Terapi Warna

Prinsip kerja Sujok adalah melakukan penanganan titik-titik di tangan dan kaki dengan pewarnaan tertentu. Untuk hasil yang lebih maksimal namun masih taraf aman atau tidak beresiko tinggi, bisa ditambah ditempelkan biji-bijian ke titik-titik yang dimaksud.

Titik-titik di tangan dan kaki mengikuti kaidah refleksi. Setiap titik mewakili organ yang terkait. Jika ada organ sakit, titik yang mewakilinya yang di-treatment dengan pewarna. Sedangkan warnanya, mengikuti konsep Lima Unsur dalam TCM.

Namun jika belum memahami benar-benar konsep Lima Unsur TCM sehingga bisa saja salah mewarnai, tidak akan berefek samping. Mungkin, hanya tidak begitu terasa bagi yang diterapi.

Menggunakan warna adalah cara paling aman dilakukan sendiri. Ada cara yang lebih cepat terasa efeknya seperti dengan pijat refleksi dan akupuntur, namun memerlukan keterampilan tersendiri dan beresiko jika kurang hati-hati.

Secara sederhana, titik-titik organ yang sakit bisa langsung diberi warna sesuai kebutuhannya. Jika organ lemah, maka dikuatkan (disebut tonifikasi). Jika organ terlalu berlebih energinya, maka dilemahkan (disebut sedasi).

Setiap organ, punya warna bawaan. Contohnya, jantung berwarna merah, yang dilambangkan dengan api. Jika ingin dikuatkan, maka titik jantung diberi warna merah pula. Namun, jika ingin dilemahkan, diberi warna lawan dari merah, yaitu biru.

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Jejak Panglima Utar Kumai Mengusir Belanda

Kotawaringin Barat - Sang Proklamator Presiden RI pertama Ir. Suekarno mengatakan jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jasmerah). Kalimat tersebut menjadi semboyan yang diucapkan oleh para...

Whatsapp Seminar Memanfaatkan Setting Akses Grup

Tidak banyak yang tahu, kalau grup Whatsapp sekarang bisa diseting agar hanya admin yang boleh kirim pesan di grup. Caranya pun mudah. Sebagai admin,...

Kuasailah Informasi, Niscaya Engkau Akan Menguasai Dunia

“Kuasailah informasi, niscaya engkau akan menguasai dunia”. Itulah kunci kemenangan ke 5 dalam buku  "Saksikan bahwa aku Mencintai Islam" (10 Kunci Kemenangan Menyalakan Api...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...
close