close

Follow SERUJI

53,147FansSuka
396PengikutMengikuti
7,070PengikutMengikuti
643PelangganBerlangganan

Pendidikan Anak Bermula Dari Rumah

Perlu untuk disadari kalau pendidikan itu tidak harus dan tidak hanya yang berlangsung di ruang kelas atau dari lembaga pendidikan. Keluarga adalah madrasah, rumah adalah lembaga pendidikan, dan ibu adalah madrasah pertama bagi anak untuk mengenal kebaikan dan keburukan. Saat anak mulai belajar tentang kehidupan, melihat tentang kehidupan, yang diikuti dan diteladani dari orangtuanya, maka anak akan merasakan bahwa keluarga adalah rumah pertama dan lembaga pendidikan formal adalah rumah kedua yang bisa membantu dan melengkapi proses pembelajarannya menemukan kesejatian dan kebermaknaan hidup.

Karenanya, peran orangtua pun terasa sakral dan penting dalam proses tarbiyatul aulad, dimana hal tersebut nyaris tak dapat digantikan oleh lembaga pendidikan manapun. Islam pun menjadikan pendidikan anak sebagai kegiatan bersama atau amal jama’i yang melibatkan peran suami dan istri. Rasulullah bersabda, yang artinya sebagai berikut:

“Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia bertanggungjawab terhadap mereka. Seorang perempuan adalah pengatur bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, serta bertanggungjawab terhadap mereka” [HR Bukhari dan Muslim]

Seorang anak akan mendapatkan pengajaran dan contoh tentang kebaikan dan keburukan dimulai dari orangtuanya. Jika cara mendidik orangtua baik dan diiringi dengan keteladanan yang baik pula, maka insya Allah, anak akan tumbuh dan berkembang dalam kebaikan yang mewarnai watak dan karakter anak kelak di masa depan.

Diantara bentuk tanggungjawab dan keseriusan orangtua dalam proses mendidik buah hatinya adalah adanya keteladanan yang diberikan secara nyata kepada anak. Demikian pula lantunan dan iringan doa kebaikan untuk anak yang senantiasa dimunajatkan kepada Allah, Dzat Yang Maha Berkehendak.

Setiap anak terlahir di atas fitrah yang suci. Orangtuan akan menjadi peletak pondasi dasar yang pertama dan utama dalam pendidikan anak. Setiap orangtua bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang anaknya, baik yang sifatnya jasmaniyah ataupun ruhaniyah.

Salah kaprah yang sering kita jumpai di masa sekarang adalah adanya sikap abai dan menggantungkan harapan serta tanggungjawab yang besar itu kepada lembaga pendidikan formal. Sehebat apapun lembaga pendidikan tersebut, tetap tidak akan mampu menghilangkan kewajiban dan tanggungjawab peran orangtua.

Belum lagi dengan adanya realitas beberapa orangtua “memaksa” anaknya agar beprestasi di lembaga pendidikan, namun tidak menyertai dan membersamai mereka dengan alasan kesibukan mencari nafkah. Kesibukan tersebut seringkali dijadikan apologi untuk mengabaikan anak. Bagaimana pun, anak adalah sosok manusia, memiliki rasa dan emosi, bukan seonggok benda mati yang hanya bisa bersikap pasif dan diam.

Realitas lainnya yang banyak ditemukan pada jaman ini adalah tidak sedikitnya orangtua yang hanya memperhatikan kebutuhan jasmaniyah anak. Seringkali orangtua siap menuruti segala permintaan dan tuntutan anak, meskipun harus menabrak norma agama dan etika. Hal tersebut dianggapnya sebagai bentuk kasih sayang kepada anak.

Orangtua telah terpisah secara emosional dengan anaknya, meskipun secara fisik masih tinggal di rumah yang sama. Tiada lagi didapatkan komunikasi yang hangat antara orangtua dan anak. Tablet, laptop, smartphone telah menyita waktu yang seharusnya diluangkan di dalam rumah. Kehadiran perangkat teknologi dan hal lainnya yang bersifat material justru kerap menjadikan orangtua dan anak memasuki alam buaian masing-masing.

Pengabaian sosial seperti itu menjadi sebab terkuburnya kerekatan emosional antara orangtua dan anak. Hal tersebut bisa berimplikasi negatif dan menimbulkan kesulitan belajar bagi anak. Harus diakui, sangat jarang ditemukan seorang anak yang memiliki prestasi belajar yang baik yang berasal dari lingkungan keluarga yang mengabaikan kedekatan emosional.

Al Imam Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata “betapa banyak orangtua yang menyengsarakan si buah hatinya di dunia dan di akhirat dengan menelantarkannya, tidak mendidiknya, dan bahkan mendukungnya dalam mewujudkan berbagai keinginan hawa nafsunya. Jika anda memperhatikan kerusakan yang menimpa anak-anak, sungguh anda akan melihat bahwa mayoritas sebabnya berasal dari pihak orangtua” [Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud].

Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di, semoga Allah merahmatinya, berkata “Orang yang paling pantas mendapatkan baktimu dan memperoleh kebaikanmu adalah anak-anakmu. Sungguh mereka adalah amanat yang diletakkan Allah di sisimu. Bersungguh-sungguhlah dalam hal ini dan berharaplah pahala dari Allah” [Bahjatu Qulub al Abrar wa Qurratu Uyuni al Akhyar fi Syarhi Jawami].

Madrasah yang baik senantiasa memberi nasihat, menegur, dan membimbing anak yang keluar dari jalan kebenaran. Madrasah yang baik tak bermudah-mudahan menjatuhkan sanksi, kecuali setelah adanya proses penelusuran yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai seorang pendidik, orangtua tak boleh mudah tersulut emosinya untuk melakukan kekerasan pada anak secara verbal maupun non-verbal.

Mendidik memang butuh keikhlasan. Keikhlasan akan membuat sesuatu yang berat menjadi terasa lebih ringan. Sesuatu yang dirasa sulit menjadi terasa mudah. Mendidik anak adalah sebuah upaya yang memerlukan keikhlasan, kesungguhan hati, kesabaran, dan ketawakkalan. Karenanya mintalah pertolongan dan bimbingan pada Allah, Dzat Yang Maha Berkuasa.

Kita memang tidak bisa melihat masa depan, tetapi masa kini anak jekas terpampang di depan kita. Mendidik dan mengasuh anak merupakan sebuah investasi masa depan. Apa yang ditanam, maka itulah yang akan dituai nantinya. Saatnya berbenah. Mari didik buah hati dengan hati dan senantiasa meminta pertolonganNya.

Bagi yang belum diamanahi sebagai orangtua, mari terus belajar dan mempersiapkan diri. Bersemangatlah dalam setiap proses tersebut. Semoga Allah senantiasa memudahkan kalian wahai para orangtua di dalam kewajiban mendidik anak. Yassarallahu lana umuurana.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.

YANG LAGI PRO-KONTRA

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TULISAN TERBARU

Mengelola Kasih Tak Sampai Ala Rasulullah SAW

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Beruntunglah bagi yang bisa menikah dengan pasangan jatuh hatinya. Namun,

MIUMI dan Safari Dakwah Ustadz Bachtiar Nasir

MIUMI mengajak muslimin muslimat di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menjaga arah perjuangan umat dan menjaga sinergi antara keislaman dan kebangsaan.

Rawat Nenek Ubud, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali Berbagi Kebahagiaan

Di usia senjanya, Ni Wayan Lepug (85 tahun) Asal Ubud, Kabupaten Gianyar harus hidup sebatang kara tanpa ditemani oleh keluarganya

Macan Padi dan Pilot Keren Prabowo-Sandiaga Lanjut Ngluruk Jatim

Kegiatan Ngluruk Jatim yang dilakukan oleh dua kelompok relawan militan paslon 02 yaitu Macan Padi Indonesia dan Pilot Keren Prabowo Sandiaga, dilanjut sampai ke...

Tak Hanya Teori, “Aksi Indonesia Muda” Peduli Masyarakat Eks Kusta di Kampung Dangko

Projek sosial yang dilakukan AIM kali ini berupa projek pemberdayaan perempuan dalam bentuk pelatihan pembuatan keset kaki.

‘Macan Padi’ dan ‘Pilot Keren Prabowo-Sandi’ Putihkan Lamongan

etelah sebelumnya meramaikan Kota Madiun, kali ini kelompok relawan Prabowo-Sandiaga, 'Macan Padi' dan 'Pilot Keren Prabowo-Sandi' hadir di Kota Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (9/2).

Dukungan Masyarakat ke Sekolah Bukan Hanya Dana dan Fisik

alah satu faktor penting dalam pengembangan pendidikan adalah dukungan masyarakat. Sejak diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 semua sekolah telah memiliki komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah.

Penahanan Ahmad Dhani, Ferry Koto: Saya ingin Komisi Yudisial Periksa Kasus ini

WARGASERUJI - Ferry Koto, pengamat pendidikan dan kebijakan publik di Surabaya, menginginkan agar komisi yudisial memeriksa hakim yang menangani kasus Ahmad Dhani. Pasalnya, menurutnya,...

Yusril Ihza Mahendra dan Lukah

WARGASERUJI - Lukah sebuah alat penangkap ikan tradisional yang sering digunakan  penduduk pedalaman dalam menangkap ikan di sungai.  Lukah yang terbuat dari rotan dipasang...

Sekuel Kedua Film The Power of Love, “Hayya the Movie” Shooting di 212 Mart

JAKARTA, WARGASERUJI - Film dengan latar belakang Aksi 212 berjudul 'The Power of Love' sempat booming dan jadi salah satu film lokal yang paling...

TERPOPULER

Ternyata Bukan Ekonomi Meroket, Tapi Neraca Perdagangan Terburuk Selama 12 Tahun

Pertumbuhan ekonomi tidak jadi meroket, malah neraca perdagangan terburuk selama 12 tahun terkahir.

MIUMI dan Safari Dakwah Ustadz Bachtiar Nasir

MIUMI mengajak muslimin muslimat di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menjaga arah perjuangan umat dan menjaga sinergi antara keislaman dan kebangsaan.

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Mengelola Kasih Tak Sampai Ala Rasulullah SAW

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Beruntunglah bagi yang bisa menikah dengan pasangan jatuh hatinya. Namun,

Ketika Kata “Akal Sehat” Menangis di Kamus, di Musim Pilpres

- Catatan untuk Rocky Gerung dan Barisan Yang Sepaham. Oleh: Denny JA Di era pemilu presiden, banyak hal didangkalkan. Termasuk makna akal sehat, yang kini seolah...