Miskin? Salah Siapa?

Miskin? Salah Siapa?

“Gemah Ripah Loh Jinawi”, begitulah kalimat yang popular di kalangan masyarakat Indonesia, artinya “kekayaan alam yang berlimpah”. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa negeri ini memang dianugerahi Allah berupa kekayaan alam yang luar biasa, sehingga asing tergiur untuk melakukan  segala cara agar dapat menguasai kekayaan alam Indonesia.

Salah satu pulau yang tidak kalah “kaya” dari pulau lainnya di Indonesia, yaitu pulau Sumatera. Pulau Sumatera terkenal dengan kekayaan alam jenis hayati dan non hayati. Kekayaan alam jenis hayati diantaranya; pala, tembakau, kopi, kelapa sawit, karet, dan lainnya. Sedangkan, jenis kekayaan non hayati diantaranya; gas alam, minyak bumi, batubara, bauksit, dan lainnya.

Pulau sumatera bagian utara juga penghasil beberapa kekayaan alam yang disebutkan di atas, salah satunya adalah kelapa sawit, yang dikenal dapat diolah menjadi beragam kebutuhan hidup, salah satunya adalah minyak goreng.

Saat ini, Sumatera Utara juga tengah menjadi sorotan. Namun sayang, bukan sebab kekayaan alam yang dimilikinya, melainkan karena persoalan kemiskinan yang belum juga terentaskan di Kota Medan (ibu kota Sumatera Utara).

Dilansir dari medanbisnisdaily (15/2) jumlah warga miskin di Kota Medan cukup tinggi. Dari 2,6 juta penduduk di Kota Medan, 18% atau sekitar 463.000 jiwa diantaranya hidup berada di bawah garis kemiskinan. Lebih miris lagi, mereka sama sekali tidak mendapat bantuan dari pemerintah.

Sementara itu Jangga Siregar (Anggota DPRD Medan) menyayangkan Pemko Medan yang kurang maksimal dalam menerapkan Perda 5/2015. “Warga penerima bantuan ini juga ada aturan yang harus dipahami. Contoh, luas bangunan rumah seberapa besar. Apakah lantainya masih tanah, dindingnya terbuat dari tepas (bamboo) atau kayu murahan dan tidak memiliki jamban,” ungkapnya.

Sebenarnya, Perda penanggulangan kemiskinan memang tidak pernah menuntaskan kemiskinan secara tuntas, ini terlihat dari pandangan terhadap kemiskinan yang tidak menyeluruh menyebabkan pemberian solusi tidak  menyentuh ke akar permasalahan. Hal ini terjadi karena diterapkannya sistem Kapitalis. Sedangkan Islam memandang kemiskinan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan assasiyah (dasar) dengan pemenuhan yang menyeluruh.

Penyebab kemiskinan itu sendiri adalah individu yang tidak dapat mengakses barang-barang kebutuhan dasarnya. Sehingga Islam akan memberikan solusi tuntas, yaitu dengan cara pemerataan distribusi harta, barang, jasa, menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kualitas SDM sesuai dengan kemajuan zaman. Sistem Islam juga menjamin kebutuhan dasar kolektif masyarakat.

Belajar dari kisah Umar bin Khattab saat menjabat sebagai seorang Khalifah, Umar keluar di tengah malam mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah. Langkah Umar terhenti ketika mendengar suara tangis seorang gadis kecil dalam sebuah tenda, kemudian Umar dan Aslam mendekati tenda tersebut dan mendapati seorang wanita dewasa tengah duduk di depan perapian, wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat, setelah diperbolehkan Umar bertanya pada wanita itu, “siapa yang menangis di dalam itu?” wanita itu menjawab “anakku”. Umar kembali bertanya “kenapa anak-anakmu menangis apakah dia sakit?” wanita itu menjawab “tidak, mereka lapar”.

Pernyataan wanita tersebut membuat Umar tertegun, sampai akhirnya Umar kembali bertanya “apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?” ibu tersebut menjawab “kau lihatlah sendiri”. Ketika Umar melihat isi bejana itu betapa terkejutnya ia karna yang dimasak wanita itu adalah batu.

Ibu tersebut mengatakan “aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kajahatan Khalifah Umar bin Khattab, dia tidak mau melihat ke bawah apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum”. Wanita itu tidak mengetahui bahwa yang ada di hadapannya ialah Khalifah Umar Bin Khattab.

Setelah mendengar cerita itu, Umar menitikan air mata dan segera mengajak Aslam kembali menuju Madinah untuk pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Umar mengangkat karung itu sendiri di punggungnya, hingga Aslam mengatakan “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu”. Namun, Umar justru memerah wajahnya dan menegaskan pada Aslam bahwa ini memang tugasnya sebagai Khalifah.

Sesampainya di tenda wanita dewasa itu, Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan, Umar sendiri yang memasak untuk wanita dan anak-anak tadi. Ketika mereka selesai makan barulah tenang hati Umar, kemudian berpamitan.

Begitulah Islam mengurusi kemaslahatan umat, untuk itu wajib bagi kita mengingatkan pemerintah akan kewajiban mereka melayani urusan umat termasuk soal kesejahteraan masyarakat. Dengan menerapkan syariah yang bersumber dari Allah SWT.

Eva Purnama
Mahasiswa FKIP UMSU

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...

Kudis, Penyakit Kulit Klasik yang Masih Mengusik

Kudis yang dalam bahasa medis disebut scabies merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yang bernama  Sarcoptes Scabeiei varian Hominis. Kudis bisa...

BPJS Naik, Rakyat Tercekik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas I dan kelas II, naik 100 persen. Rencananya, kenaikan iuran...

Ada Tawaran Menarik dari Ustadz Adi Hidayat, Anda Berminat?

Menurut ustadz yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW ini, argumentasi sebaiknya dijawab dengan argumentasi, ilmiah dengan ilmiah, jadi elegan, jangan ilmiah dengan golok.