Lagi, Konflik di Bumi Cendrawasih

Lagi, Konflik di Bumi Cendrawasih

Lagi, Konflik Bumi Cendrawasih

Konflik di Tanah Papua masih belum berhenti, tepatnya  tanggal 23 September 2019 aksi unjuk rasa siswa di Kota Wamena Papua, berujung rusuh. Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, PLN, Kantor pemerintahan, dan beberapa kios masyarakat.  Akibat kerusuhan tersebut, berdasarkan data aparat kepolisian mencatat terdapat 31 korban.  Saat ini, Kota Wamena sudah mulai pulih kembali. Namun, kejadian ini tentu menyisakan trauma mendalam bagi warga sekitar kerusuhan. Komandan Kodim 1702/Jawawijaya, Letkol Candra Dianto, mengatakan masyarakat pendatang dan penduduk asli Papua perlu waktu dalam mengatasi trauma menyusul kerusuhan yang terjadi.

Akhir-akhir ini memang konflik di bumi cendrawasih masih belum dapat terselesaikan, belum lagi kasus isu referendum Papua meredam, sekarang ditambah lagi dengan kasus kerusuhan di Wamena. Sampai saat ini, belum ada solusi tuntas dari pemerintah mengenai kejadian demi kejadian yang terjadi khususnya di daerah timur Indonesia.  Dan sampai saat ini masyarakat masih menunggu sikap pemerintah terhadap OPM yang menggaungkan Papua Merdeka. Lemahnya negara di hadapan asing yang bermain di Papua, seperti Amerika Serikat dan Inggris yang mendukung Papua Merdeka.

Berbeda dengan Islam, Islam selalu memberikan solusi setiap masalah dimulai dari akarnya, bukan pada ranting maupun dahannya. Sebenarnya konflik Papua terjadi karena rakyat Papua merasa tidak ada keadilan bagi mereka,  mulai dari minimnya pemberitaan, ketidakmerataan pembangunan terhadap mereka baik Layaanan publik maupun Infrastruktur, sumber daya alam yang  mereka miliki dikeruk untuk memenuhi dan membangun daerah maupun sekitar pusat pemerintahan ditambah lagi dengan gesekan-gesekan halus oleh negara asing yang menginginkan perpecahan Indonesia.

Untuk itu, adapun solusi dalam Islam yang pertama adalah mengembalikan sumber daya alam kepada masyarakatnya, karena Islam telah mengatur tentang kepemilikan umum. Negara akan memegang penuh pengelolaan SDA yang ada dan tidak akan diberi izin kepada pihak lain untuk mengelolanya baik individu, swasta apalagi asing.  Pemerataan pembangunan kepada seluruh masyarakat mulai pendidikan maupun kesehatan baik kepada muslim maupun non muslim dijamain oleh negara selama orang tersebut tinggal di negara Islam, tentunya dengan kualitas yang sama baik, tidak ada ketimpangan kualitas kesehatan maupun pendidikan antara pulau jawa dengan Kalimantan, Sumatera maupun Jayapura. Sehingga dengan begitu masyarakat tidak akan mudah tergesek oleh isu-isu makar maupun pemberontakan.

Wana Rukmana

Mahasiswa FKIP UMSU

Tulisan ini tanggung jawab penulisnya. Isi di luar tanggung jawab Redaksi. Pengaduan: redaksi@seruji.co.id

Artikel Lain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TERPOPULER

Pengobatan Alternatif Totok Punggung, Dilihat dari Sisi Medis

Pada umumnya, dokter segan membicarakan pengobatan alternatif. Hal ini disebabkan ilmu kedokteran merupakan disiplin ilmu yang dibangun berdasarkan logika-logika kedokteran yang berlaku di dunia...

Hikmah Dibalik Fitnah

WARGASERUJI - Menulis adalah menyimpan, menyimpan kenangan. Karena menulis adalah mewariskan, mewariskan sejarah. Maka jangan ada dusta di setiap huruf yang ditinggalkan. (eaaa) Apalagi...

Kelebihan Sambung Pucuk

Sambung pucuk memiliki beberapa kelebihan, penggabungan antara kelebihan dengan pembiakan secara generatif dan vegetatif.

Orang Bohong Yang Bertobat vs Orang Bohong Yang Keterusan

Menjaga kejujuran sangatlan penting, sedangkan memelihara kebohongan adalah perbuatan jahat yang akan menghancurkan diri sendiri. Orang yang berbohong lantas bertobat dengan cara mengakui kebohongannya dan...

Membuat Gula Merah dari Nira Batang Sawit

Ternyata batang kelapa sawit yang telah tumbang dapat diambil niranya untuk dijadikan gula merah, demikian menurut seorang anggota DPRD Kota Dumai dari Partai Gerindra,...
close